PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Keluarga, Nalim Tarik Becak dari Karanganyar-Bandar Lampung


NALIM sedang menunggu penumpang becak di Jalan Pemuda, kawasan Pasar Bawah, Bandar Lampung, Jumat petang, 24/5/2019. Saban hari, ayah tiga anak itu menarik becak dari Karanganyar, Lampung Selatan, ke Bandar Lampung. | Umar Robani/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Muhammad Nalim tampak termenung. Duduk di dalam becak, pria berusia 68 tahun itu menatap kendaraan yang lalu-lalang di Jalan Pemuda, kawasan Pasar Bawah, Bandar Lampung, Jumat petang, 24/5/2019.

Ia masih sabar menunggu penumpang kendati sebentar lagi berbuka puasa. Nalim mengaku baru dapat penumpang becak sekitar pukul 14.00 WIB. Biasanya, lelaki tua itu berbuka di jalan dengan seadanya.

Nalim tinggal di Jalan Tanjung Baru, Gang Kutilang, Desa Karangsari, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan. Saban hari, ayah tiga anak itu menempuh dua jam perjalanan untuk mencari nafkah. Untuk menuju tempatnya memangkal di Pasar Bawah, Nalim mengayuh becak dari rumahnya. Ia biasanya lewat Karanganyar-Way Kandis-Jalan Ryacudu, jalur dua Korpri.

Kemudian, menuju Jalan Pulau Morotai-Jalan Pangeran Antasari. Setiba di Pasar Bawah, Nalim memarkirkan becaknya di depan Mes PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sambil menahan lelah karena berpuasa, ia beristirahat di becaknya. Tak jarang penarik becak itu tertidur karena kelelahan.

“Kalau ketiduran saya pasti terbangun dengar azan zuhur. Saya langsung salat dahulu,” kata Nalim sambil duduk dalam becaknya.

Dalam satu hari, ia hanya bisa mendapat tiga penumpang. Itu pun termasuk penumpang langganan. Dengan penumpang sebanyak itu, hasil keringat Nalim hanya Rp30 ribu per hari.

“Sekarang susah cari penumpang, sepi banget. Soalnya, semakin banyak kendaraan umum (transportasi publik),” ujarnya seraya bersandar di bangku penumpang dengan kepala tertunduk.

NALIM si penarik becak memperlihatkan santunan dari Dompet Dhuafa Lampung. | Umar Robani/duajurai.co

Nalim memiliki seorang istri bernama Painah (56). Sang istri hanya di rumah. Sedangkan putra pertamanya tak bisa bekerja karena kecelakaan. Lututnya mengalami cedera hingga tak bisa ditekuk.

Anaknya yang kedua seorang perempuan. Tapi, telah menikah dan dibawa sang suami. Sementara, si bungsu bekerja serabutan. Ia biasanya bekerja sebagai kuli bangunan.

“Ya namanya anak laki. Bisa urus badan sendiri saja, Alhamdulillah,” ucap Nalim dengan nada pelan.

Kondisi demikian membuatnya tetap menjadi tulang punggung keluarga. Penghasilannya yang tak seberapa digunakan untuk semua kebutuhan rumah tangga.

“Ya Alhamdulillah rumah punya sendiri walaupun geribik, tapi tanahnya masih menumpang,” ujarnya.

Semangat Nalim tak pernah habis untuk menghidupi keluarga. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga dijalani dengan ikhlas. Baginya, menjalani hidup harus banyak bersyukur agar terus diberi kemudahan.(*)

Liputan Puasa Sang Duafa merupakan kerja bareng Dompet Dhuafa Lampung dengan duajurai.co. Setiap narasumber akan menerima santunan dari Dompet Duafa Lampung. Bagi yang ingin berbagi dapat menyalurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 777 1717 009 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika Lampung.

Laporan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Anak, Sunarsih Jadi Tukang Cuci Hingga Memulung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Azan subuh belum berkumandang. Sunarsih telah bangun menyiapkan sahur. Di sebuah bedeng di …