7 Pertimbangan Lampung Layak Jadi Ibu Kota Pemerintahan RI


INISIATOR FDG DKI Lampung Andi Desfiandi saat diwawancarai usai diskusi di Lambang Kuning, Sukarame, Bandar Lampung, Sabtu, 4/5/2019 | Umar Robani /duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kawasan timur Provinsi Lampung ditawarkan menjadi calon lokasi ibu kota pemerintahan RI. Pemerintah diharapkan mempertimbangkan tawaran tersebut.

Setidaknya, terdapat tujuh pertimbangan Lampung menjadi ibu kota. Berikut tujuh pertimbangan dimaksud, sebagaimana rilis yang diterima duajurai.co, Senin, 20/5/2019.

Pertama, aksesibilitas transportasi trimatra, darat, laut, dan udara, serta bonus topografis, warisan lampau Kerajaan Tulangbawang, tol sungai. Matra udara, memiliki akses Bandara Internasional Raden Inten II, Bandara Gatot Subroto, dan Lanud TNI-AU Pangeran M Bunyamin Astra Ksetra, Menggala, Tulangbawang.

Lalu, akses darat melalui Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Bakauheni, Lampung Selatan-Pematangpanggang, Mesuji, sepanjang 240,938 km sebagai bagian jaringan jalan bebas hambatan pemersatu Sumatera sepanjang 2.818 km dari Lampung hingga Nangroe Aceh Darussalam yang ditarget rampung 2024 mendatang. Dari matra laut, terakses dengan pelabuhan rakyat Mesuji, pelabuhan rakyat Denteteladas, Tulangbawang, pelabuhan rakyat Labuhanmaringgai, Lampung Timur, ditambah dengan formasi revitalisasi akses tol sungai Way Tulangbawang.

Kedua, sumber daya air baku tanah bertingkat keasaman terstandarisasi ideal, serta ketersediaan jaringan pipa gas alam Lampung-Sumatera Selatan dan cadangan energi panas bumi atau geothermal.

Ketiga, kajian geografis pakar UGM Prof Dr Sutikno, dan pakar ITB Prof Dr Teuku Abdullah Sani, di mana kawasan timur Lampung “kaya tekstur”.  Diperkuat kajian Ketua Pusat Studi Gempa dan Tsunami UBL (Universitas Bandar Lampung) Dr Any Nurhasanah bahwa kawasan timur Lampung relatif aman dan bebas dari ancaman bencana alam gempa bumi dan tsunami.

Keempat, kajian awal geolog ITB Sigit Sukmono bahwa secara litologis,  batuan wilayah Lampung didominasi ofiolit yang mempunyai densitas rapat massa tertinggi di Bumi Sumatera. Artinya, meski notabene termasuk zona cincin api, Lampung sangat tahan terhadap gempa besar, sekaligus mengindikasikan bidang patahan, atau fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan, yang jamak disebut sesar di Lampung sulit bergeser saat terjadi gempa.

Kelima, secara etnografi, sosiohistoris, sosioantropologi dan kajian multikulturalisme, Lampung telah sejak lampau manifes sebagai miniatur Indonesia. Menjunjung tinggi inklusivisme sosial ekonomi dan tentu saja sosial politik.

Falsafah dasar kedua masyarakat pribumi Lampung, Nemuy Nyimah, sebagaimana kajian antropolog Lampung Dr Bartoven Vivit Nurdin merupakan modal sosial terwujudnya harmoni sosial dari sedikitnya 32 etnis yang subsisten dan rukun-damai di Lampung.

Keenam, ketersediaan dukungan sumber daya listrik dengan rasio elektrifikasi Lampung 100 persen final akhir 2018 (dipercepat setahun) dan jaringan internet yang relatif memadai.

Ketujuh, ketersediaan sumber daya lahan calon lokasi yang siap dipaparkan secara komprehensif dan akan disampaikan secara terpisah. Hal itu guna menjaga spirit stabilitas harga keekonomian lahan dan/atau tanah daerah sekitar calon lokasi usulan ini.

“Dengan tidak mengurangi semangat dan hormat kami atas taja serius pemerintah melajukan pemajuan program lama ini, tetap besar catatan dan pengharapan kami agar untuk kesekian kalinya kami kemukakan, Lampung layak didengar dan siap mendukung. Bahkan, siap dipilih menjadi calon lokasi terpilih ibu kota pusat pemerintahan RI, pengganti DKI Jakarta,” kata Andi Desfiandi, inisiator FGD (Daerah Khusus Ibukota (DKI) Lampung.(*)

Baca juga Bukber di Lamban Kuning, Panja DKI Lampung Galang Dukungan


Komentar

Komentar

Check Also

Semarak Indosiar, Malam Ini Para Artis Ibu Kota Hibur Masyarakat Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bandar Lampung menjadi kota pertama yang akan disambangi “Semarak Indosiar”. Para …