OASE RAMADAN ICHWAN ADJI WIBOWO: Spiritualitas Beragama


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

ICHWAN ADJI WIBOWO | Ketua PC Nahdlatul Ulama Bandar Lampung

BERAGAMA sejatinya menuntun manusia untuk memesonakan akhlak. Bukan sebaliknya, beragama malah menghancurkan ekspresi akhlak. Keberagamaan semestinya mampu mengantarkan kita menundukkan diri dari kecenderungan menuhankan diri dan menuhankan selain Allah.

Membangun spritualitas keberagamaan menjadi wilayah yang sangat holistik. Tidak jasadiyah semata tapi lebih penting juga menata urusan ukhrowi . Tidak sekadar ritual, lebih dalam keberagamaan kita juga mengurus moralitas.

Oleh karenanya cara-cara beragama yang hanya berfokus kepada urusan formalistis, selesai pada urusan kulit. Ia tidak akan mencapai tujuan beragama itu sendiri.

Dus, syahadat kita, salat kita, puasa kita, zakat kita, haji kita, tidak akan berimplikasi linier dengan tujuan beragama, jika tidak pernah mampu menemukan, mengenalpahami siapa diri sejati dan mampu menghadirkan Tuhan di dalam diri.

Jika keberagamaan, jika ritualitas kita selama ini justru melahirkan ekspresi merasa diri paling benar, merasa sedang mewakili dan membela Tuhan, merasa sudah memiliki jaminan surga, menolak keniscayaan kehidupan beragam, semua di luar diri dan kelompoknya salah dan sesat, maka ini gejala kegagalan menjadikan agama sebagai mata air yang menyejukkan kehidupan.

Lebih luas, spiritualitas agama juga harus mampu menelisik dan memengaruhi etik moral di seluruh sektor kehidupan, membimbing para pemimpin dan politisi dalam menentukan kebijakan dan kebijaksanaan (syiyasah), mengarahkan strategi pembangunan, menetapkan program-program islakhiyah, juga membimbing para pelaku bisnis, petani, nelayan, pedagang, pendidik (guru/dosen), staf, karyawan, buruh, aktivis, jurnalis, peneliti, mahasiswa, pelajar, dan seluruh profesi lainnya.

Di sinilah spiritualitas agama menjelajah, menelisik, menyublim, mengharmoni, memengaruhi, membimbing seluruh laku kehidupan, baik di sektor privat maupun publik, tidak berhenti pada urusan simbolik dan formalitas.

Ketika sekelompok jemaah bertahlilan, khusyuk melafazkan bacaan-bacaan magis, lafaz zikir, kalimat toyibah, dan seterusnya, secara simbolik sesungguhnya mereka tengah berupaya menundukkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhannya, seraya mengupaya menghadirkan Tuhan hingga ekstase.

Ini lah derajat yang amat memesona. “Mengibarkan kalimat tauhid” di dalam lubuk batin dan kesadaran rohani seirama detak jantung. Sayup kibarannya meneduhkan hati, sekaligus mendetoksifikasi syahwat, sifat egois, kesombongan, dan sifat-sifat destruktif lainnya.

Maka memekik takbir juasru tidak boleh sambil membusungkan dada, menegakkan kesombongan, merasa diri paling benar, mengumbar murka, mengumpat yang lain, menuduh yang lain, membenci yang lain, bahkan sambil membunuh, termasuk membunuh karakter orang lain. Bishawab.


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Tantangan Baru Ibu Kota Negara di Kalimantan

RENCANA pemerintah mendirikan ibu kota negara (IKN) di Kalimantan mendapat tantangan. Baru-baru ini terjadi kerusuhan …