OASE RAMADAN ROHMI YUHANI’AH: Qadha dan Fidyah bagi Wanita Hamil-Menyusui


SEORANG anak sedang belajar mengaji di Masjid As-Sa’adah, Kamis, 1/6/2017. Selama Ramadan, tempat sembahyang di Jalan Lindu, Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung, itu memperbanyak pengajian terhadap anak-anak. | Rudi Sabli/duajurai.co

Rohmi Yuhani’ah MPdI | Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Raden Intan Lampung

PUASA adalah rukun Islam ke empat, kewajiban setiap mukallaf. Tujuan mulia puasa adalah tergapainya derajat ketakwaan kepada Allah swt.

Puasa menjadi ujian sekaligus latihan umat Islam untuk merasakan apa yang dirasakan para fakir dan miskin sehingga selalu bersyukur kepada-Nya.

Selain memerintahkan puasa, Allah swt juga memberikan rukhsah bagi orang yang sakit dan safar (bepergian di jalan Allah). Pasalnya, dua situasi ini, terutama sakit, tidak dapat dihindari oleh setiap manusia.

Sebagaimana firman Allah, “Apabila di antara kamu mengalami sakit atau dalam perjalanan, maka dapat menggantinya pada hari yang lain.”

Lantas bagaimana hukumnya bagi seseorang yang sedang hamil atau sehinga tidak berpuasa?

Ada beberapa pendapat ulama tentang ini.

1. Menurut Ibnu Hazm, wanita hamil/menyusui yang tidak puasa tidak perlu mengganti (qadha) dan tidak perlu juga membayar fidyah. Pendapat ini beralasan bahwa hukum asalnya seseorang adalah terlepas dari kewajiban.

2. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hambali, orang yang tidak berpuasa karena hamil atau menyusui harus meng-qadha puasa dan membayar fidyah. Sebabnya, orang yang hamil atau menyusui serupa dengan orang sakit dan orang yang terbebani dalam melakukan puasa. Namun jika alasannya karena khawatir terhadap anaknya, maka cukup meng-qadha.

3. Menurut Al Auza’i, Al Tsauri, Abu hanifah, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid, bagi wanita hamil atau menyusui yang tidak berpuasa boleh hanya meng-qadha sebagai penggantinya, tanpa membayar fidyah. Mereka dianalogikan dengan orang sakit yang tubuhnya lemah dan tidak mampu berpuasa.

4. Menurut Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ishaq dan Syaikh Al Bani, orang yang tidak puasa karena hamil atau menyusui boleh menggantinya dengan membayar fidyah. Mereka menganalogikan, orang yang hamil dan menyusui seperti orang tua renta yang tidak mampu berpuasa sehingga wajib membayar fidyah.

5. Menurut Imam Malik dan Syafi’iyah, bagi yang hamil dan tidak puasa harus meng-qadha. Sedangkan bagi yang menyusui membayar fidyah.

Namun, jika seorang wanita hamil tidak puasa karena takut janinnya menjadi lemah, atau ibu menyusui tidak puasa karena khawatir asupan ASI kepada anaknya menjadi berkurang, maka hal ini tidak diperselisihkan.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah swt meringankan setengah salat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.”

Berkaitan orang yang tua renta, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu lagi berpuasa karena uzur, maka wajib baginya membayar fidyah. Sebab, dia tidak mungkin menggantinya dengan qadha.

Hal ini sebagaimana firman Allah swt, “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) member makan seorang miskin.” (QS Al Baqarah 184). Wallahu a’lam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OASE RAMADAN AGUS HERMANTO: Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Dr Agus Hermanto MHI | Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung Secara lughawi, zakat …