PUASA SANG DUAFA: Pantang Mengemis, Nurbaiti Bertahan Hidup dengan Memulung


NURBAITI memperlihatkan santunan dari Dompet Duafa Lampung di Jalan Pangeran Antasari, Bandar Lampung, Rabu, 15/5/2019. | Umar Robani/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Azan subuh belum berkumandang. Nurbaiti sudah bangun. Ia kemudian mempersiapkan sahur untuk suami dan dua anaknya. Di kontrakan satu kamar di Jalan Mangundiprojo, Gang Puncak I, Kedamaian, Bandar Lampung, keluarga itu sahur seadanya.

Usai sahur, Nurbaiti mengambil wudu. Lalu, ia menunaikan salat subuh di kamar tidur. Doanya tak muluk-muluk. Perempuan berusia 58 tahun itu hanya meminta kesehatan untuk dirinya dan keluarga. Setelah salat, Nurbaiti membereskan rumah, lalu bersiap-siap mengais rezeki.

Pagi itu, Nurbaiti berangkat seorang diri dari rumah. Sambil menenteng karung beras 50 Kg, ia menyusuri jalanan Kota Tapis Berseri. Biasanya, Nurbaiti memulung bersama suaminya. Tapi, sang suami kurang sehat dalam beberapa hari terakhir.

“Suami saya sudah lima hari sakit. Jadi, saya memulung sendiri,” kata Nurbaiti saat ditemui di Jalan Pangeran Antasari, depan Rumah Makan Ampera Ajo, Rabu, 15/5/2019.

Perjalanan perempuan berjilbab hitam itu dimulai dari Jalan Mangundiprojo menuju jalan layang (flyover) di simpang Pasar Tugu. Kemudian, lanjut lagi di sepanjang Jalan Pangeran Antasari hingga flyover Jalan Pangeran Tirtayasa, lalu kembali dengan rute yang sama.

Setelah itu, Nurbaiti menyusuri Jalah Gajah Mada. Di sepanjang jalan protokol tersebut, ia memungut kardus dan bekas botol minuman. Terkadang, Nurbaiti memulung hingga malam hari. Ia pun berbuka di jalan dengan segelas air saja. Sebenarnya, ia ingin berbuka di masjid terdekat. Namun, Nurbaiti merasa sungkan karena pakaiannya kumal usai memulung.

Dalam satu hari, hasil keringat Nurbaiti sekitar Rp15 ribu. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, ia berusaha menyisihkan sedikit dari penghasilannya. Sebab, Nurbaiti mesti membayar biaya kontrakan dan air sebesar Rp400 ribu per bulan.

Perempuan yang telah 30 tahun memulung itu memiliki dua putra. Tapi, anak pertama putus sekolah karena ketiadaan biaya. Saat ini, si sulung kerja serabutan, kadang ikut memulung. Sedangkan si bungsu segera masuk SMA.

“Yang bungsu ini kelas 3 SMP, bentar lagi masuk SMA. Bingung mau gimana nanti bayar sekolahnya,” ujar Nurbaiti dengan bibir bergetar.

Meski begitu, ia terus berusaha untuk menafkahi keluarga. Baginya, pantang untuk mengemis, apalagi bergantung dengan orang lain. Selagi masih sehat dan kuat, Nurbaiti dan suami akan terus membanting tulang.(*)

Liputan Puasa Sang Duafa merupakan kerja bareng Dompet Duafa Lampung dengan duajurai.co. Setiap narasumber akan menerima santunan dari Dompet Duafa Lampung. Bagi yang ingin berbagi dapat menyalurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 777 1717 009 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika Lampung.

Laporan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Anak, Sunarsih Jadi Tukang Cuci Hingga Memulung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Azan subuh belum berkumandang. Sunarsih telah bangun menyiapkan sahur. Di sebuah bedeng di …