PUASA SANG DUAFA: Penghasilan Rp10 Ribu, Sarwani Berjuang Biayai Sekolah Anak


SARWANI si pemulung sedang menyusuri Jalan Pangeran Emir M Nur, Bandar Lampung, Selasa, 14/5/2019. | Umar Robani/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sarwani telah terjaga sebelum azan subuh berkumandang. Setelah membasuh diri, ia membuka pintu rumah. Kemudian, melangkahkan kaki menuju masjid yang tak jauh dari rumahnya, Jalan Pangeran Emir M Nur, Gang Karya Muda II, Sumur Putri, Bandar Lampung.

Usai salat subuh, pria buta huruf itu langsung pulang ke rumah. Kemudian, ia mempersiapkan perlengkapan untuk memulung. Sarwani mulai melakoni pekerjaannya sekitar pukul 6.00 WIB.

Dengan kedua kakinya, ia berkeliling mencari barang rongsokan melalui Jalan Pangeran Emir M Nur menuju Jalan Cut Mutia. Sambil mendorong gerobak ukuran 2×1 meter, ayah empat anak itu memungut kardus dan botol minuman bekas di sepanjang jalan.

Kemudian, ia menuju Jalan Pangeran Diponegoro ke arah Bundaran Tugu Adipura. Menjelang siang, pria yang mata kanannya terkena katarak itu beristirahat dekat Tugu Pengantin di Jalan Jendral Ahmad Yani. Usai azan zuhur, Sarwani melanjutkan pekerjaannya sambil menuju rumah.

“Sekitar jam segini (jam satu siang), paling cepat jam 11 saya sudah pulang,” kata Sarwani saat ditemui di Jalan Pangeran Emir M Nur, Selasa, 14/5/2019.

Dalam satu hari, hasil keringatnya sekitar Rp20 ribu. Itu adalah pendapatan terbesar dalam sehari. Biasanya, Sarwani kerap pulang membawa uang sekitar Rp10 ribu-Rp15 ribu.

“Ya alhamdulillah, syukuri saja. Saya tak terlalu berharap lagi untuk mendapat uang banyak. Saya hanya tak ingin menjadi pemalas,” ujarnya seraya bangun dari duduknya.

SARWANI memperlihatkan santunan dari Dompet Duafa Lampung di Jalan Pangeran Emir M Nur, Bandar Lampung, Selasa, 14/5/2019. | Umar Robani/duajurai.co

Sarwani mengaku bekerja keras agar anak-anaknya tetap bisa sekolah. Juga sang istri bisa makan, setiap hari. Ia tak ingin buah hatinya seperti dirinya, tidak berpendidikan dan buta huruf.

“Pokoknya anak bisa sekolah, biar jadi orang pintar dan berguna,” kata Sarwani dengan suara pelan.

Saat ini, dua dari empat anaknya telah lulus sekoah. Kini, mereka bekerja sebagai pencuci mobil di Kantor Gubernur Lampung. Sedangkan putri ketiga duduk di bangku kelas 1 SMA, dan si bungsu kelas 2 SMP.

Sarwni mengaku mencari nafkah dengan memulung lebih dari 40 tahun. Ia menggeluti pekerjaan tersebut sekitar 1970. Meski pekerjaannya menguras tenaga, namun Sarwani tetap menjalankan puasa.

Lelaki yang biasa dipanggil Abah itu memang buta huruf. Kendati demikian, ia kerap ditunjuk untuk memimpin upacara keagamaan. Warga di sekitar rumahnya sering meminta yang bersangkutan memimpin acara tahlilan, marhabanan, hingga syukuran.(*)

Liputan Puasa Sang Duafa merupakan kerja bareng Dompet Duafa Lampung dengan duajurai.co. Setiap narasumber akan menerima santunan dari Dompet Duafa Lampung. Bagi yang ingin berbagi dapat menyalurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 777 1717 009 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika Lampung.

Laporan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Anak, Sunarsih Jadi Tukang Cuci Hingga Memulung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Azan subuh belum berkumandang. Sunarsih telah bangun menyiapkan sahur. Di sebuah bedeng di …