KELILING PESANTREN: Ponpes Bustanul Falah, Berdiri Sebagai “Obat” di Kaliawi


PENDIRI Ponpes Bustanul Falah KH Izuddin | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pondok Pesantren (Ponpes) Bustanul Falah berdiri di Jalan Raden Fattah, Kaliawi, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, pada 2004. Bustanul Falah artinya kebun kebahagiaan atau kebun kemenangan.

“Makna Falah itu kebahagiaan atau kemenangan, hampir serupa,” kata pendiri Ponpes Bustanul Falah KH Izuddin kepada duajurai.co di Ponpes Bustanul Falah, Senin, 13/5/2019.

Dia mendirikan ponpes tersebut dengan niat beribadah. Maksudnya, ingin memberikan kontribusi bagi masyarakat Kaliawi yang saat itu terkenal dengan wilayah yang “keras”. Kala itu, peradaban di Kaliawi terkenal seram, banyak aksi kriminal, orang mabuk-mabukkan, dan sebagainya.

“Tapi, masyarakat bukan tak mengerti agama. Sebab, mayoritas di Kaliawi adalah masyarakat pendatang, terutama banyak dari Banten. Sejatinya, orang Banten itu sudah membudayakan mendidik agama sejak dini,” ujarnya.

Pada kondisi demikian, Wakil Ketua MUI Bandar Lampung itu mendapat mandat dari sang guru untuk pulang ke Kaliawi. Orang tua Izzudin yang perantauan dari Banten memang tinggal di Kaliawi.

“Niatnya hanya pulang sebentar dan ingin berangkat lagi. Saat itu, baru lulus mondok. Ada niat mau Riyadoh, yaitu mengasingkan diri di suatu tempat, menghindari dari hiruk-pikuk, dan melakukan ritual seperti zikir, berpuasa, yang sudah ditargetkan oleh guru. Atau arti sederhananya melatih diri agar bisa mengendalikan nafsu,” kata dia.

Akan tetapi, saat Izzudin kembali ke Kaliawi, orang tua dan para sesepuh memintanya untuk menetap, dan berkiprah di masyarakat. Saat itu, banyak yang meminta dia untuk mengajar mengaji.

Semula, dia merasa ragu apakah sanggup mengajar di wilayah Kaliawi yang banyak ditakuti banyak orang. Namun, ketika dijalankan, orang-orang yang tadinya adalah momok baginya, justru menjadi target orang yang pertama didekati. Sehingga, dia lebih mudah menjalankan misi. Akhirnya, untuk pertama kali, peringatan HUT Kemerdekaan RI di Kaliawi diwarnai dengan istigasah.

“Dalam sambutan saya pada istigasah itu, saya katakan bahwa saya bukan menutupi kejelekan (Kaliawi) atau borok, tapi yang saya lakukan adalah mengobati borok. Apakah sembuh atau tidak, yang penting sudah ikhtiar,” ujarnya.

Saat ini, Ponpes Bustanul Falah berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter persegi. Ada 36 kamar untuk asrama santri putra dan putri. Ponpes tersebut khusus untuk mondok, tidak ada sekolah.

“Santri banyak berasal dari Banten, dan beberapa wilayah di Lampung. Aktivitas mereka hanya belajar dan belajar Kitab Kuning. Mulai dari bangun tidur hingga malam hari mau tidur lagi,” kata dia.

KH Izuddin pernah mondok di puluhan pondok pesantren di Banten, baik itu sebagai santri mukim maupun santri mupassirin. Ponpes dimaksud, antara lain Liyadul Awamil di Cangkudu, Banten; Bidayatul Hidayah, Bogor; dan Ponpes Darul Ibtida, Caringin, Tangerang.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Nunik Sidak Kapal Asing di Keramba Jaring Apung Pulau Siuncal

PESAWARAN, duajurai.co – Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim didampingi Penjabat (Pj) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung …