OASE RAMADAN SITI MAHMUDAH: Bulan yang Menyatukan Agama dan Bangsa


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

Siti Mahmudah | Pengurus Lakpesdam NU Lampung/Dosen UIN Raden Intan Lampung

BULAN Ramadan adalah bulan ke sembilan dalam sistem kalender Hijriah. Bulan yang diapit Syakban dan Syawal ini merupakan bulan yang paling dimuliakan dalam Islam.

Pada bulan ini lah misi kerasulan Muhammad saw dimulai, bulan diturunkannya Al Quran, hadirnya Lailatul Qadar, terbukanya pintu-pintu langit dan surge, serta ditutupnya pintu neraka dan keburukan.

Al Quran menyatakan kewajiban puasa pada bulan Ramadan bukan hanya kepada orang-orang beriman (umat Islam) tetapi juga telah diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya (QS Al Baqarah 183). Oleh karena itu penghormatan terhadap bulan Ramadan sudah dilakukan jauh sebelum Islam sebagai agama datang ke jazirah Arab.

Menurut sejumlah pakar antropologi sejarah, sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab, orang-orang Mesir kuno telah mengenal puasa. Dari mereka, praktik puasa beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama-agama penyembah bintang. Demikian juga agama Buddha, Yahudi, dan Kristen. (Tafsir Al Mishbah, vol 1, hal 485)

Nabi Ibrahim as, sang bapak para nabi, pembangun agama-agama samawi dan nenek moyang bangsa Arab, datang mengajarkan ajaran Hanif. Ajaran ini ternyata juga sangat mengagungkan bulan Ramadan.

Hal ini lah yang selalu dilakukan oleh orang-orang saleh sesudahnya, termasuk Abdul Muthalib, tokoh spiritual penjaga kota Mekah. Tradisi ini pula yang kemudian diteruskan oleh anak keturunannya, terutama sang cucu, Muhammad saw.

Kaum Hanifiyun yang mengikuti jejak Ibrahim as menjadikan bulan Ramadan sebagai sarana untuk kembali menyucikan diri dan mendekat kepada Tuhan Sang Pencipta. Dalam tradisi penganut agama Hanif ini, setiap datang bulan Ramadan mereka selalu berkhalwat di tempat-tempat sunyi yang jauh dari keramaian, seperti goa di pegunungan. Di tempat ini mereka bukan hanya banyak berzikir dan bermunajat kepada Sang Pencipta tetapi juga merenung untuk menemukan jawaban atas kondisi, persoalan masyarakatnya. (Khalil A Karim, 2005)

Latar belakang historis ini lah yang menjadi sebab kenapa setelah diangkat menjadi rasul, Muhammad saw tetap menganjurkan umatnya untuk berkhalwat pada bulan suci dalam bentuk Iktikaf di masjid-masjid.

Bukan hanya berkhalwat, penganut Hanif juga menghormati bulan Ramadan dengan berlomba-lomba menebar kebaikan di dalamnya, seperti menjamu kaum fakir miskin dan para tamu di Baitullah. Ajaran mulia ini lah yang kemudian diteruskan oleh Islam dalam bentuk kewajiban pembayaran kaffarat oleh pelanggar puasa kepada fakir miskin.

Ketentuan serupa juga dikembangkan oleh Rasulullah saw dengan menganjurkan banyak bersedekah, membayar zakat harta dan zakat fitrah pada bulan Ramadan.

Ini lah nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan (al qiyam ar rabbaniyah wal insaniyah) puasa Ramadan yang sangat mulia. Nilai-nilai ini lah yang sangat penting dikembangkan untuk menegakkan kepedulian atas kaum duafa agar bisa hidup sejahtera.

Atas dasar nilai-nilai kemanusiaan puasa Ramadan dapat pula mempertemukan umat beragama dan berbagai bangsa yang berbeda untuk bersama-sama membangun perdamaian di Tanah Air dan dunia yang sama ini.

Wallahu a’lam bis shawab.


Komentar

Komentar

Check Also

UIN Raden Intan & Gerakan Konservasi Lingkungan di PTKIN

Oleh MUDOFIR ABDULLAH| Penulis buku Al Quran dan Konservasi Lingkungan, Guru Besar Ilmu Pengkajian Islam, …