OASE RAMADAN RUDY IRAWAN: Pintu Surga Khusus untuk Orang Berpuasa


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

RUDY IRAWAN MSI
– Dosen UIN raden Intan Lampung
– Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung
– Sekretaris Komisi Seni Budaya Islam MUI Lampung

TIADA habisnya membahas betapa istimewanya puasa di bulan Ramadan. Begitu banyak hadis yang menggambarkan keistimewaannya.

Rasulullah saw bersabda: “Apabila datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhary 1899 bab Puasa, dan Muslim 1709 dalam Awal Puasa riwayat dari Abu Hurairah).

“Terbukanya pintu-pintu surga” adalah sebuah ungkapan. Maknanya, saat puasa kita memperbanyak ketaatan yang ‘berhadiah’ dibukanya pintu-pintu surga.

Sementara “dikuncinya pintu-pintu neraka” bermakna sedikitnya perbuatan maksiat sehingga ‘terkuncilah’ pintu-pintu neraka.

Selanjutnya, “dibelenggunya setan-setan” bermakna terputusnya godaan setan kepada orang-orang yang berpuasa karena tidak ingin mengikuti ajakan setan untuk bermaksiat.

Orang yang berpuasa bahkan mendapat keistimewaan di surga kelak. Seperti digambarkan Rasulullah saw dalam sabdanya yang lain: “Sesungguhnya di dalam surga ada pintu yang disebut Rayyaan. Orang-orang yang berpuasa akan memasukinya pada hari kiamat, tidak ada yang lain masuk. Dikatakan, mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka memasukinya. Ketika orang terakhir masuk, maka dikunci pintu itu dan tidak ada orang lain yang masuk.” (Al Bukhari)

Betapa Allah swt memberi keistimewaan kepada orang yang berpuasa untuk masuk surga melalui pintu khusus, ar-Rayyaan, karena keistimewaan ibadah dan kemuliaannya.

Para malaikat membawa rahmat dan kasih sayang Allah kepada orang yang berpuasa. Ketika orang berpuasa meninggalkan makan lalu menghadirkan hati dan pikiran mereka, maka Allah mengabulkan doa mereka. Salawat mereka pun menjadi doa untuk dibalas kasih sayang dan pengampunan Allah.

Tentang peleburan dosa orang-orang yang berbuat kekeliruan dan kesalahan, Rasulullah saw bersabda: “Ramadan ke Ramadan adalah melebur atau menghapus dosa-dosa di antara keduanya apabila engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (Ahmad dan Muslim)

Allah a’lam bish-shawab.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …