KELILING PESANTREN: Hidayatul Islamiyah, Ponpes “Petunjuk Islam” di Lampung


SANTRI Ponpes Hidayatul Islamiyah sedang belajar, Jumat, 10/5/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Islamiyah merupakan salah satu ponpes tertua di Lampung. Pesantren pimpinan KH Sukmajaya DA Darpin itu terletak di Jalan Wan Abdurahman, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung.

“Ponpes ini tertua kedua di Lampung. Tertua pertama adalah Ponpes Hasanuddin di Kupang Teba, Telukbetung,” kata Sukmajaya kepada duajurai.co di Ponpes Hidayatul Islamiyah, Jumat, 10/5/2019.

Dia mengatakan, Ponpes Hidayatul Islamiyah berdiri pada 1976. Pendiriannya dibantu oleh sang istri, Hj Siti Aisyah. Awal berdiri, Ponpes Hidayatul Islamiyah belum punya asrama, dan yang belajar hanya warga setempat. Hingga 1989, masih mengajarkan pendidikan pesantren salafiyah atau tradisional.

“Hidayatul Islamiyah itu artinya Petunjuk Islam. Nama itu diberi oleh guru saya. Dia berpesan, kalau saya mau buka pesantren pakailah di antara dua nama, yaitu Hidayatul Islamiyah atau Dakwah Islamiyah. Awalnya, saya pakai nama Dakwah Islamiyah di pesantren yang lokasinya masih di Lampung Selatan. Tapi, saat pindah ke sini (Kemiling), berubah nama. Itu sekitar tahun 1985,” ujarnya.

Kemudian, pada 1990, mulai mengombinasikan pendidikan salafiyah dengan pendidikan madrasah, namun sifatnya diniyah. Pada awal pembukaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatul Islamiyah, santri yang ditampung sebanyak 489 orang.

“Pada 23 April 1993, kami mulai menggunakan kurikulum Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama/Kemenag) dan Depdiknas (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Kemendikbud). Yayasan kami resmi berbadan hukum pada 1 Agustus 1993,” kata dia.

Siring waktu, kini Ponpes Hidayatul Islamiyah memiliki pendidikan formal. Mulai tingkat TK atau Raudhatul Athfal (RA), MI, madrasah tsanawiyah (MTS), dan madrasah aliyah (MA).

“Sekarang, jumlah murid totalnya 561 orang. Santri yang mukim atau mondok sebanyak 100 orang. Sementara, jumlah tenaga pengajar atau asattiz dan assatizah kurang lebih 50 orang,” ujarnya.

PENGASUH Ponpes Hidayatul Islamiyah KH Sukmajaya DA Darpin | Imelda Astari/duajurai.co

Ayah 11 anak itu melanjutkan, perjalanan Ponpes Hidayatul Islamiyah sejalan dengan tujuan awal. Dahulu, warga Lampung selalu ke Pulau Jawa jika ingin mondok. Karena itu, pria yang akrab disapa Abah tersebut berkeinginan mendirikan ponpes di Lampung.

“Abah memang dari zaman masih sekolah dasar (SD) sudah punya cita-cita ingin mendirikan pondok pesantren,” kata dia.

Adapun sistem pembelajaran yang diterapkan kepada murid, yakni sekolah formal menggunakan kurikulum Kementerian Agama dan Kemendikbud. Masing-masing porsinya sekitar 50%. Sementara, sistem pendidikan pesantrennya salafiyah khusus. Maksudnya, dengan sistem sorogan dan bandungan.

“Sorogan itu santri mengaji kitab kepada kiai. Kalau bandungan itu kiai yang membacakan kitab, santri yang menyimak,” ucap Sukmajaya.

Ponpes Hidayatul Islamiyah berdiri di atas lahan seluas 3,5 hektare. Luas bangunan sekitar 750 meter persegi. Berbagai fasilitas yang tersedia di antaranya asrama putra dan putri sebanyak tiga gedung, musala, gedung serbaguna, dan perpustakaan. Kemudian, usaha kesehatan sekolah, dapur umur, gudang, lapangan tenis meja, lapangan bulu tangkis, lapangan bola, lab komputer, ruang kesenian, dan lain-lain.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Gubernur Arinal: Festival Krakatau Ajang Bangkitkan Pariwisata Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Gubernur Lampung Arinal Djunaidi membuka Lampung Krakatau Festival (LKF) ke-29 tahun …