OASE RAMADAN ALAMSYAH: Meraih Hakikat Puasa


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

Dr Alamsyah MAg | Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung.

BULAN Ramadan selalu disambut dan dirayakan secara berbeda dari bulan-bulan lainnya, karena memang Ramadan merupakan bulan penuh berkah, ampunan, pahala dilipatgandakan, dan dosa dihapuskan.

Hal yang lebih istimewa, di bulan Ramadan ada malam Lailatul Qadar yang sangat mulia yang tidak ditemukan pada waktu-waktu lainnya. Pada malam yang suci itu, Al Quran diturunkan, garis kehidupan ditetapkan, dan para malaikat turun ke dunia untuk mendoakan kedamaian bagi umat manusia.

Orang-orang yang berpuasa pada bulan itu pun dijanjikan oleh Tuhan akan menjadi orang yang bertakwa (QS Al Baqarah: 183). Menjadi insan-insan yang muttaqin atau bertakwa ini lah hakikat, tujuan berpuasa khususnya, dan tujuan semua ibadah lainnya, sebagaimana selalu diwasiatkan dalam mukadimah khotbah Jumat misalnya.

Namun banyak pula yang memahami puasa Ramadan sebatas rutinitas ibadah dengan tidak makan dan minum sepanjang hari, lalu ditutup dengan menyantap aneka hidangan enak saat berbuka. Bahkan seringkali persiapan berbuka dan sahur justru lebih sibuk, menyita waktu, dan pasti juga uang, daripada menghayati ibadah puasa itu sendiri.

Dengan pemahaman yang salah ini maka tidak mengherankan jika kualitas puasa tidak berubah tahun demi tahun. Sementara itu, perilaku negatif pascapuasa pun terus terjadi.

Fenomena puasa sebagai rutinitas ini sejak awal sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sabdanya, “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak ada yang didapatnya kecuali lapar dan dahaga.” (HR Ibn Majah).

Artinya banyak orang yang berpuasa sebatas lahiriah. Hingga menjelang berbuka pun lebih sibuk mengurus kepentingan jasmani, sementara aspek rohani terabaikan.

Sabda nabi tersebut mengingatkan bahwa umat Islam dalam puasanya tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga harus membangun sifat sabar, bersih, jujur, kasih sayang, sederhana, tidak berlebihan, berpikir positif, dan tanggap dengan kondisi saudara lainnya.

Puasa mengajarkan umat Islam agar bisa menahan diri dari segala sikap negatif dan perilaku tercela, seperti emosional, buruk sangka, pamer, berlebihan, membuat atau menyebar gosip (gibah), dusta (hoaks), fitnah, adu domba, iri, dengki, benci, takabur, pertengkaran, zalim, dan sebagainya.

Rasulullah SAW mengingatkan, “Jika seseorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor dan bertengkar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena hakikat puasa adalah menjadi insan yang bertakwa, maka keberhasilan mencapainya tidak diukur hanya pada waktu berbuka atau saat membaca takbir kemenangan di hari raya Idul Fitri.

Bukti kelulusan justru ditunjukkan pada masa-masa pasca Ramadan. Dalam sebelas bulan berikutnya, di luar Ramadan lah, ajang pembuktian sebenarnya apakah seseorang benar-benar insan yang muttaqin atau tidak.

Jika pada bulan puasa yang bertabur pahala nafsu bisa ditundukkan, amarah dapat dipadamkan, korupsi ditinggalkan, kepedulian dan kasih sayang meningkat, maka apakah di luar Ramadan masih seperti itu.

Jika sikap dan perilaku kembali layu ke titik awal sebelum Ramadan maka kita harus segera introspeksi, ada yang salah dengan puasa kita. Jangan-jangan kita berpuasa hanya karena iming-iming pahala dan pujian, bukan karena ikhlas dan iman kepada Allah SWT.

Sedangkan orang yang istikamah melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan pasca Ramadan maka orang ini lah yang sebenarnya sukses meraih hakikat puasa.

Berbahagialah mereka yang berhasil menjadi insan-insan yang bertakwa, yang selamat dirinya dan bisa menyelamatkan yang lainnya. Orang-orang ini lah yang nanti di akhirat ditunggu kedatangannya oleh surga dan dipanggil, “Masuklah ke surga dari pintu mana pun yang kalian inginkan”.

Semoga kita masuk dalam barisan hamba-hamba Allah yang bertakwa. Amiin.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …