OASE RAMADAN ICHWAN ADJI WIBOWO: Ramadan dan Cinta


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

ICHWAN ADJI WIBOWO | Ketua PC Nahdlatul Ulama Bandar Lampung

KITA memahami Ramadan sebagai bulan berlimpah rahmat. Bulan yang sangat diistimewakan Allah SWT.

Demi “mengumbar cinta” kepada hamba ciptaan-Nya, Allah menyediakan waktu khusus selama satu bulan dalam Ramadan”. Dengan Ramadan, Allah mempersilakan manusia mengarungi penghayatan cinta melalui “keintiman” yang melenakan jiwa.

Manusia sebagai hamba ciptaannya sesungguhnya sebentuk keseimbangan kosmik dari dimensi jasadiyah, ruhiyah, akliyah, termasuk kalbu dan nafsu. Proses aktualisasi eksistensi kehidupan manusia seringkali memaksa manusia membenturkan keseimbangan kosmik di dalam dirinya.

Mengamati pergaulan di media sosial belakangan misalnya, tampak sarat dengan perilaku yang tidak mencerminkan moralitas dan spiritualitas Ramadan. Masih saja ada orang yang dengan gampang, bagai tanpa beban, menuduh, menghujat, mencela, menghina, membunuh karakter orang lain, bahkan menyebar informasi yang berpotensi fitnah.

Banyak orang yang hari-harinya dihabiskan untuk membagikan tautan yang mendeskriditkan pihak lain. Dunia menjadi penuh prasangka buruk.

Tanpa sadar kebiasaan itu sangat mungkin membentuk karakter merasa diri paling benar. Apa pun sikap perbuatan orang selalu salah. Dada dan pikirannya diliputi kebencian.

Jika perilaku seperti itu berlanjut hingga memasuki Ramadan ini, dengan penghayatan seperti apa cinta Allah dan nikmat Ramadan mampu direguk?

Sesungguhnya, ibadah mahdoh yang diperintahkan Tuhan tidak sekadar upaya mendekat kepada Sang Khalik (taqarrub), tetapi juga sebagai upaya merawat keseimbangan kosmik yang paling intrinsik.

Kehadiran Ramadan memberi kita peluang untuk menyambut dan meresapi sekaligus menemukan penghayatan paling dalam atas luapan cinta (mahabah) Tuhan. Serangkaian ibadah (ritual) yang kita jalani seharusnya mampu menemukan substansinya.

Ibadah merupakan bagian dari cara, ikhtiar, upaya membalas cinta Tuhan. Ibadah sekaligus meresonansi cinta tidak saja kepada manusia, tapi juga kepada semesta.

Maka, Ramadan semestinya membentuk kita menjadi pribadi yang santun, welas asih, peduli, berempati, simpatik, dan penuh ketulusan. Sederet sifat baik yang terlahir dari luapan cinta.Wallohualam bishawab.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …