OASE RAMADAN RUDY IRAWAN: Kewajiban dan Keutamaan Puasa


GRAFIS | joe chaniago/duajurai.co

RUDY IRAWAN MSI
– Dosen UIN raden Intan Lampung
– Wakil Ketua PCNU Bandar Lampung
– Sekretaris Komisi Seni Budaya Islam MUI Lampung

Allahumma baarik lanaa fii Sya’baana waballighnaa Ramadlaana fii shihhatin wa salaamatin wa buluughil-maraam.

Ya Allah berkahilah kami di bulan Sya’ban dan sampaikanlah umur kami di bulan Ramadan dalam keadaan sehat walafiat, sejahtera, asa dan cita kami tercapai atas kasih sayang-Mu wahai zat yang Maha Penyayang dari Yang Penyayang.

Alhamdulillah, hari ini, Senin, 6/5/2019, kita mengawali 1 Ramadan 1440 Hijriah. Sulthan al-Ulama al-‘Izz bin Abd as-Salam, ‘Izz al-Din ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Abd as-Salam as-Sulamy (w.660 H) dalam bukunya Maqashid ash-Shaum menggambarkan maqashid atau tujuan puasa dalam 10 pasal.

Delapan di antaranya ialah tentang wajibnya puasa, keutamaannya, adab atau tata kramanya, apa yang harus dijauhi, usaha menggapai Lailatul Qadar, iktikaf, puasa sunnah (tathawwu’), serta hari-hari dilarang puasa.

Kali ini kita fokus membahas wajib dan keutamaan puasa.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kamu sekalian berpuasa, seperti diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).

Makna “لعلكم تتقون” adalah agar kita takut kepada neraka dengan berpuasa. Puasa merupakan sebab diampuninya dosa-dosa yang “mewajibkan” seseorang ke neraka.

Dalam kitab Shahih al-Bukhary dan Muslim, Nabi SAW bersabda: Islam dibangun atas lima hal, yakni agar kamu menyembah (beribadah) kepada Allah dan kufur kepada lainnya, mengerjakan salat, menunaikan zakat, haji di Baitullah, dan puasa Ramadan. (Riwayat Muslim 16, 20).

Hanya orang-orang yang beriman yang disapa oleh Allah untuk menjalankan ibadah puasa. Orang yang tidak beriman tidak diwajibkan berpuasa. Karena, tentu saja aneh jika orang tidak beriman, menjalankan puasa.

Mengenai keutamaan, ada beberapa faedah puasa. Di antaranya menaikkan derajat, melebur berbagai kekeliruan (kesalahan), memecah syahwat, memperbanyak sedekah, memenuhi ketaatan, menyukuri zat Yang Mengetahui hal-hal yang samar, serta menjauhkan dari larangan-larangan (perbuatan maksiat) dan persengketaan.

Rasulullah bersabda: Apabila datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan. (Dikeluarkan oleh Al-Bukhary 1899 bab Puasa, dan Muslim 1709 dalam Awal Puasa riwayat dari Abu Hurairah).

Rasulullah juga bersabda (hadis Qudsy): Setiap amalan anak cucu Adam AS adalah untuknya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk Aku (Allah). Dan Aku akan membalasnya.

Puasa adalah perisai (menjaga pemiliknya dari penyakit yang menyakitkan). Maka pada hari kalian berpuasa, janganlah rafats (berkata kotor), jangan juga menggunakan kata (yang menyakiti).

Maka apabila salah seorang mencaci atau memeranginya, maka katakan: aku adalah orang yang puasa, aku berpuasa. Demi zat di mana jiwa Muhammad ada dalam kekuasaan-Nya, sungguh aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah di hari kiamat daripada aroma misik.

Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang akan dinikmatinya: ketika berbuka yakni bergembira dengan berbukanya, dan ketika berjumpa Tuhannya, bergembira dengan puasanya” (al-Bukhari).

Selamat menjalankan ibadah puasa, saudaraku. Dengan memahami tata cara berpuasa yang benar, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, insya Allah kita menjadi lebih yakin, khusyuk, dan ikhlas berpuasa.

Dengan dasar keimanan dan muhasabah, kita akan merasakan kenikmatan berpuasa. Meskipun, secara jasmani, kita pasti merasakan lapar dan haus.

Semoga hati kita dibukakan Allah Azza wa Jalla, mampu merasakan nikmatnya berpuasa, dan menikmati lezatnya iman kepada Allah. Ini lah momentum untuk meraih rahmat, ampunan, dan keberkahan Allah Rabbul ‘Izzah.

Semoga kita juga mampu mempuasakan indra, hati dan pikiran. Kita semua tentu berharap mendapatkan kebahagiaan saat berbuka. Namun, lebih dari itu kita sungguh berharap bisa “sowan” dan berjumpa langsung dengan Allah.

Allah a’lam bish-shawab.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …