OPINI HENDRY SIHALOHO: Melindungi Jurnalis


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

HENDRY SIHALOHO | Editor duajurai.co

Hari ini, 3 Mei 2019, wartawan di seluruh dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional. Berbicara kebebasan pers mengingatkan saya akan sebuah dialog dalam film “Nothing but the Truth”.

Meski sudah lama menontonnya, namun kalimat dalam film tersebut membekas bagi saya. Begini bunyi dialog itu:

“Bagaimana kita tahu jika seorang presiden menutupi kejahatan? Atau jika seorang petugas militer melakukan penyiksaan? Kita sebagai negara tidak akan bisa mempertanggungjawabkan hal tersebut kepada mereka yang memiliki kuasa lebih.”

“Lalu, apa selanjutnya peran pemerintahan ketika tidak ada lagi ketakutan dari pertanggungjawaban? Kita seharusnya ngeri atas pemikiran itu. Memenjarakan jurnalis?”

“Itu untuk negara lainnya. Itu untuk negara yang takut akan warganya. Bukan negara yang menuntun dan melindungi mereka.”

Kata-kata tersebut disampaikan Albert Burnside di hadapan hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat. Saat itu, Burnside sebagai kuasa hukum Rachel Amstrong, jurnalis The Capital Sun-Times.

Amstrong masuk bui setelah menolak mengungkap sumbernya. Ia menulis sebuah artikel yang mengungkap identitas agen CIA, di mana ada keterkaitan dengan percobaan pembunuhan presiden AS di Venezuela.

Secara garis besar, “Nothing But the Truth” menceritakan tentang kebebasan pers. Namun, film yang terinspirasi dari kisah nyata itu lebih spesifik berbicara ihwal keteguhan seorang jurnalis akan sebuah prinsip.

Saya belum pernah berada pada posisi Amstrong. Namun, saya bisa merasakan ketakutannya. Jangankan masuk penjara, menerima teror dan ancaman dilaporkan ke polisi saja sudah membuat hidup tak tenang. Bahkan, nafsu makan pun berkurang.

Suatu kali saya pernah dipiting Humas PTPN VII ketika wawancara. Itu terjadi saat saya memberitakan ihwal kriminalisasi terhadap buruh PTPN.

Lain waktu, saya pernah “ditahan” di Polsek Persiapan Kemiling, Bandar Lampung. Pihak polsek tidak suka dengan pemberitaan yang saya tulis ihwal penangkapan seorang pemulung atas tuduhan mencuri. Pemberitaan itu mengungkap bahwa polisi salah tangkap, dan keesokannya pemulung tersebut dilepaskan tanpa kompensasi dan rehabilitasi.

Saat di Polsek Persiapan Kemiling itu, saya sempat dikelilingi sejumlah polisi berpakaian preman. Saya masih ingat, salah satu dari mereka berkata, “Ini namanya Hendry. Kecil amat urusan anak ini”. Saya tak mengerti apa maksud perkataan tersebut.

Intimidasi dan teror itu membuat saya merenung. Saya bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya menerima hal kurang berkenan hanya karena melaporkan kebenaran? Bukankah memang tugas seorang wartawan menyampaikan kebenaran?

Pada sisi lain, saya merasa ketakutan. Ancaman dipolisikan dari nomor tak dikenal membuat saya waswas. Pikiran kalut karena bertanya-tanya akan berujung dipenjara.

Itu lah mengapa di atas saya bilang bahwa saya dapat merasakan ketakutan Rachel Amstrong. Saya menggarisbawahi ucapan Albert Burnside bahwa tak selayaknya memenjarakan jurnalis karena aktivitas jurnalistiknya.

Hanya dengan perlindungan menyeluruh pers dapat menjalankan perannya secara utuh sebagai pemantau kekuasaan yang independen.

Seperti kata mantan Hakim Agung Amerika Serikat Hugo Black, “Hanya pers yang bebas dan tidak terkendali yang dapat secara efektif mengekspose penipuan dalam pemerintahan.”

Selamat Hari Kebebasan Pers Internasional.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB Ilham Malik: Pengusaha Batu Bara Harus Ubah Sistem Angkutan

Oleh Dr Eng IB Ilham Malik ST MT ATU | Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah …