Sanitasi Indonesia Terburuk ke Dua Dunia, SNV Gandeng Pemuda Bandar Lampung Edukasi Masyarakat


BAMBANG Pujiatmoko, Wash Advisor SNV Indonesia, memfasilitasi Lokakarya Pengembangan Kapasitas Pemuda untuk Komunikasi dan Fasilitasi, 22-24 April 2019. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Indonesia saat ini berada di peringkat ke dua sanitasi terburuk di dunia, setelah India. Sejumlah kerugian dalam berbagai aspek seperti ekonomi, lingkungan, dan kesehatan, menjadi alasan besar mengapa isu sanitasi harus lebih diperhatikan.

Fakta ini disampaikan SNV Indonesia dalam siaran pers yang diterima duajurai.co, Senin, 22/4/2019. Disebutkan, kerugian yang didapat Indonesia akibat sanitasi buruk mencapai sekurangnya Rp57 triliun setiap tahunnya. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa sanitasi buruk setiap tahun telah membunuh 140 ribu anak akibat penyakit diare.

Sebanyak 75% badan sungai di Indonesia juga telah terscemar akibat perilaku buang air besar sembarangan (BABS). Dari BABS, 14 ribu ton tinja mengotori badan air setiap harinya.

Kondisi ini mengingatkan kita akan potensi krisis akibat sanitasi buruk yang dapat mengancam bonus demografi Indonesia pada 2030. Para pemuda yang notabene generasi penerus bangsa, akan terdampak secara langsung kondiis sanitasi yang buruk ini.

Sebagai bentuk dukungan dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin 6, yaitu akses sanitasi aman dan kebersihan yang berkelanjutan bagi semua, SNV Netherland Development Organization, menggelar Lokakarya Pengembangan Kapasitas Pemuda untuk Komunikasi dan Fasilitasi pada 22-24 April 2019.

Kegiatan yang dihadiri 20 pemuda perwakilan mahasiswa, komunitas, dan LSM, berlangsung di Hotel Yunna, Bandar Lampung. Lokakarya bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi dan fasilitasi sehingga pemuda cakap menyuarakan isu sanitasi kepada masyarakat.

Acara difasilitasi oleh I Nyoman Suartana, Urban Sanitation Spesialist, dan Bambang Pujiatmoko, Wash Advisor dari SNV Indonesia.

Dalam materinya, Bambang menyampaikan bahwa perubahan dimulai dengan membangun kesadaran di masyarakat. Hal itu harus disepakati bersama oleh masyarakat melalui sebuah konsensus.

“Di sinilah peran fasilitator menjadi penting untuk mempermudah pencapaian tujuan bersama,” ujar Bambang.

“Penting juga untuk mendengar dan memperhatikan kepentingan kaum minoritas karena mereka juga harus mendapatkan hak yang sama,” sambungnya.

Menurut I Nyoman Suartana, perubahan perilaku masyarakat dan kemampuan pemuda untuk mengubah cara membangun dan mengelola ruang kota, pada akhirnya akan menjadi penentu upaya mencapai sanitasi aman.

“Sikap pemuda dalam melihat kondisi ini menjadi penting. Pemuda sebagai agen yang dapat menjembatani masa kini dan masa depan harus dapat menyuarakan perubahan,” bebernya.

“Jika perubahan terjadi di masa mendatang, pemuda tersebut yang akan menikmati hasilnya. Sebaliknya, jika tidak terjadi perubahan mereka pula yang akan merasakan dampaknya,” lanjut Nyoman.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Salat Jumat di Unila, Rycko Menoza Doakan Jemaah Haji Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – – Tokoh pemuda Rycko Menoza menunaikan salat Jumat di Masjid Al …