Coaching Clinic Jurnalisme Investigasi, Media di Lampung Perlu Perbaiki Konten


JURNALIS senior Tempo Yosep Suprayogi sedang mengisi coaching clinic jurnalisme investigasi di Gedung A FISIP Unila, Bandar Lampung, Minggu, 21/4/2019. | Andi Apriyadi/AJI Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Media massa di Lampung perlu memberikan konten yang lebih berbobot dan mendalam, sehingga menjadi referensi yang kuat bagi banyak pihak. Pers juga dituntut menjadi pencerah informasi di tengah riuhnya media sosial.

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila) Syarief Makhya saat membuka workshop dan coaching clinic Investigasi Bersama Tempo di Gedung A FISIP Unila, Bandar Lampung, Sabtu, 20/4/2019.  Kegiatan yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung bersama Tempo Institute itu diikuti sebanyak 35 wartawan. Workshop dan coaching clinic menghadirkan jurnalis senior Tempo Yosep Suprayogi.

“Saya terkadang cukup membaca berita media lokal dengan cepat. Sementara, kalau media nasional perlu waktu lebih lama karena ada tulisan yang penuh analisis dan mendalam,” kata Syarief melalui keterangan tertulis yang diterima duajurai.co, Minggu, 22/4/2019.

Dia mengatakan, untuk menyajikan berita mendalam salah satunya lewat investigasi. Namun, tidak mudah dilakukan karena ada resistensi dari instansi terkait untuk membuka data. Tidak hanya jurnalis, akademisi yang melakukan riset ilmiah juga menemukan kendala serupa saat mencari data publik.

Menurutnya, investigasi juga berkaitan dalam pengungkapan kebijakan publik yang kadang dimanipulasi. Misalnya, ada kebijakan publik yang kelihatan demi kepentingan warga. Padahal, bila didalami dan dikritisi hanya membuka jalan untuk kepentingan bisnis. Hal ini yang harus dibuka, sehingga publik lebih kritis.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Unila Andy Corry Wardhani berpendapat, daya saing media cetak terletak pada kemampuannya menggali cerita dibalik cerita. Media harus bisa menyajikan analisis berita dan menempatkan informasi pada konteksnya.

Namun, kata dia, untuk menampilkan informasi yang berkualitas ada beberapa kendala yang dihadapi media. Misalnya, daya kritis media tidak muncul karena bergantung pada iklan pemerintah daerah, massifnya budaya amplop, dan kepentingan politik serta bisnis yang sangat kuat.

“Konten adalah sesuatu yang utama. Isi yang disajikan media harus bermanfaat bagi masyarakat, sehingga bisa menjadi amunisi bagi pengambil kebijakan,” ujarnya.

Program Manager Tempo Institut Sopril Amir menilai, jurnalisme bisa berkontribusi dengan menjadi pencerah informasi. Di tengah banyaknya suara bising kebebasan berpendapat, pers jangan justru menjadi pihak yang menambah kebutekan informasi.

“Jurnalisme harus muncul dengan tulisan yang membawa kejernihan. Sehingga, membuat ruang publik makin sehat dan lahir solusi dalam setiap permasalah,” kata dia saat hari kedua workshop Invesitigasi Bersama Tempo, kemarin.(*)

Baca juga Besok, 40 Jurnalis Lampung Ikuti Coaching Clinic Jurnalisme Investigasi AJI-Tempo


Komentar

Komentar

Check Also

Gerebek Kampung, Dompet Dhuafa Bagikan 100 Paket Sembako di Lampung Timur

PEKALONGAN, duajurai.co – Dompet Dhuafa Lampung mengadakan Gerebek Kampung yang merupakan bagian dari program Ramadan. Dalam kegiatan …