ESAI EKA TIARA CHANDRANANDA: Satu Waktu Merefleksi Perjuangan Menuju Kesetaraan


PERINGATAN Hari Perempuan Internasional | ilustrasi/ist
Eka Tiara Chandrananda | Facebook Eka Tiara Chandrananda

Oleh Eka Tiara Chandrananda

* Aktivis Perempuan

* Anggota Dewan Pengurus Perkumpulan Damar

PERJUANGAN ini belum berakhir kawan. Dan tak layak terhenti. Karena waktu terus berjalan dan generasi terus lahir dan tumbuh. Estafet perjuangan ini harus pula kita tularkan kepada generasi baru itu.

Tetaplah semangat dan jangan goyah. Eratkan genggaman tangan kita. Teruslah berjuang, kawan. Biarkan saja cemooh, cibiran, dan pertentangan mereka yang menilai tak mungkin ada sebuah kesetaraan.

Karena perjuangan ini bukanlah bentuk perlawanan menentang laki-laki. Tapi, perjuangan atas budaya kolot dan adat yang usang. Sebuah budaya yang selalu menganggap laki-laki adalah tokoh utama sebuah lakon. Budaya yang selalu menomorsatukan laki-laki. Budaya yang menempatkan laki-laki sebagai sosok superior.

Budaya yang kita sebut budaya patriarki ini, hidup selama adanya manusia di bumi. Yang bisa menjadi arti bahwa ketidaksetaraan dan kekerasan terhadap perempuan ada sepanjang sejarah peradaban manusia.

Kekerasan itu apakah bisa terhitung pasti? Jawabannya: tentu tidak! Ia bak fenomena gunung es, yang terlihat hanya di puncaknya saja. Tapi, jika kita amati dengan seksama, tentulah lebih banyak lagi di bawahnya. Kembali menjadi pertanyaan, mengapa? Jawabnya, karena mereka enggan dan takut melaporkan kekerasan itu. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi, mereka tidak mengetahui bahwa mereka adalah korban dari tindakan kekerasan itu sendiri.

Seperti makian, cacian, dan ungkapan lainnya yang menjatuhkan dan menyerang psikologis. Selain itu, suitan dan lirikan yang menimbulkan ketidaknyamanan kerap dialami. Banyak pula perempuan yang tidak mengetahui beban pekerjaan ganda, jam kerja yang melebihi batas, ketidaksamaan upah adalah sebuah bentuk kekerasan.

Mari kita saling menguatkan. Mengisi hidup ini dengan banyak pengetahuan. Dan mulailah sikap asertif dalam diri kita. Berani mengatakan tidak, jika itu bertentangan dengan logika dan nuranimu. Berani menolak jika itu tak nyaman untukmu. Dan beranilah memutuskan lingkaran setan kekerasan itu.

Kawan, teruslah teguh berpegang pada alasan bahwa diri kita, ibu, anak, saudara, dan atau istri mereka adalah perempuan. Memiliki hak yang sama, kesempatan yang sama dalam segala bidang kehidupan. Memiliki hak hidup tanpa kekerasan.

Mungkin ada suatu waktu kita larut dalam tangisan. Mengetahui kasus kekerasan yang lagi dan lagi terjadi pada perempuan. Menangislah sekuat yang kau mau. Tapi, jangan surutkan langkahmu, kawan. Marahlah! Dan jadikan itu api yang membakar perjuanganmu.

Peristiwa kemanusiaan itu terjadi bukan karena gagalnya perjuangan kita. Tapi, mereka yang belum memahami bahwa penghormatan terhadap perempuan sama halnya dengan menghormati kehidupan ini.

Yakinkan saja, ada satu masa di mana akhirnya mereka mengerti bahwa hidup dengan kesetaraan adalah kunci tidak ada lagi kekerasan. Pada titik itu, kita bisa tersenyum melihat hidup penuh kedamaian.

Selamat Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2019. Mari berjuang bersama menuju kesetaraan. Tiada batas waktu, tiada ada henti.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Apa Untungnya Kalau Lampung Jadi Ibu Kota Negara?

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Ketua Panja FGD Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Lampung Andi Desfiandi menyatakan, banyak …