OPINI JUWENDRA ASDIANSYAH: Debat Pemilu, Buruk Diejek, Bagus Dikongek


GRAFIS Joe Chaniago/duajurai.co

Oleh Juwendra Asdiansyah
* Wartawan duajurai.co
* Moderator Debat Pilgub Lampung 7 April 2018
* Moderator 13 debat Pilkada di Lampung oleh KPUD

DEBAT kedua Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2019 sejatinya sudah berakhir saat Joko Widodo dan Prabowo Subianto cipika-cipiki di Hotel The Sultan, Minggu malam, 17 Februari lalu. Keduanya tertawa dan berpelukan hangat layaknya dua sahabat yang tak jumpa seperempat abad.

Namun, seperti yang pertama, debat kedua menyisakan perdebatan-perdebatan selanjutnya yang lebih panas di kalangan pendukung kedua pasangan calon (paslon). Debat Jokowi versus Prabowo menang di mutu, debat pendukung menang di suhu.

Sudah lewat dua hari, media sosial masih begitu bising. Linimasa disesaki berbagai meme, status dan komentar saling sindir, saling ejek, bahkan dugaan-dugaan yang berpotensi fitnah (baru) terus berseliweran.

Bukan cuma medsos, media massa umum, terutama televisi pun masih asyik dengan hiruk pikuk sisa debat dua malam lalu. Televisi tak ubahnya gelanggang sabung ayam yang dengan suka rela meyediakan slotnya sebagai arena pertempuran ludah kedua kubu, juga para pengamat, dan panitia pemilu (KPU-Bawaslu).

Saya menonton debat Jokowi vs Prabowo. Saya bisa menilai bagaimana jalan dan hasilnya. Tapi, apa boleh buat, saya memilih untuk tidak menulisnya.

Nyaris tak ada gunanya. Tidak akan mengubah pendirian dan pendudukan para die harder dua kubu aka cebong dan kampret. Tanpa diimbuhi penilaian saya pun, medsos sudah sangat berisik macam kucing kawin.

Kali ini, saya cuma ingin menulis kenangan. Ini tentang debat pemilu di level yang lebih rendah, debat pertama Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur (PIlgub) Lampung 2018.

Kenapa saya baru menulisnya sekarang? Setidaknya ada dua alasan. Pertama, kalau menulis saat itu, bisa dikira saya berpihak. Agak kerok secara etik mengingat saya menjadi moderator yang diniscayakan netral terhadap semua kontestan.

Alasan kedua, kala itu dan hingga beberapa bulan setelahnya saya terserang suatu ‘virus’ yang di antara gejalanya adalah otak menjadi sulit dan enggan untuk berpikir, menulis dan merangkai kalimat. Bahasa sederhananya: malas!

Nunik dan Jajuli

Saya berdiri hanya dua hingga empat depa dari para kontestan debat pada 7 April tahun lalu. Dari tujuh kontestan (minus cagub Mustafa yang berhalangan), menurut saya, penampil terbaik ialah Chusnunia dan Ahmad Jajuli.

Kedua calon wakil gubernur (cawagub) ini tampak paling siap tempur. Chusnunia alias Nunik dan Jajuli tampil gemilang dengan gaya masing-masing. Dibanding lima kontestan lainnya, pernyataan dan jawaban keduanya lebih ngisi, argumentatif, juga kontekstual alias nyambung dengan tema dan pertanyaan.

Cara bicara keduanya juga artikulatif, runtut, dan jelas. Di atas panggung, Nunik dan Jajuli terlihat santai, tidak gugup, stylish, dan berkelas (entah kelas berapa). Bagai maestro dansa, keduanya ‘menari-nari’ dengan lincah, menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan panelis yang saya ajukan.

Terbaik ketiga adalah Sutono, dia juga cawagub. Mantan Sekretaris Provinsi Lampung ini jawaban dan pernyataannya relatif oke, penampilannya tenang, meski secara keseluruhan masih kalah dibanding dua nama sebelumnya.

Di klasemen berikutnya ialah calon gubernur (cagub) petahana M Ridho Ficardo, lalu pasangannya Bachtiar Basri. Yang saya tahu, Ridho sebenarnya cukup cerdas. Tapi, dia terlihat tegang, terutama pada segmen-segmen awal. Bachtiar biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakannya buruk.

Yang terburuk ialah cagub Herman Hasanusi dan cagub Arinal Djunaidi. Kebalikan Nunik dan Jajuli, pernyataan dan jawaban keduanya kosong-kosong bae, miskin argumentasi, bahkan sering tidak nyambung dengan tema dan pertanyaan.

Arinal memang sempat mencuri perhatian (dan kemudian menjadi viral) jelang segmen pamungkas. Bukan karena jawaban yang kece badai. Melainkan keserimpet dalam segmen pertanyaan cepat, khususon untuk kata “e-commerce” dan “singkong”.

Saya akan fokus saja kepada dua terbaik, Nunik dan Jajuli. Saya tidak tahu persis kenapa keduanya tampil moncer. Tapi saya bisa mengira-ngira, apa resep penampilan makjleb mereka.

Diskusi Dulu, Berdebat Kemudian

Debat, sejatinya adalah level advance dari diskusi. Debat pilkada yang didesain KPU Lampung pun lebih cocok disebut sebagai diskusi ketimbang debat dalam arti sebenarnya. Yah…katakanlah diskusi yang sedikit diperlebar, atau debat yang malu-malu.

Seperti naik sepeda, kemahiran berdiskusi, adalah soal kebiasaan. Orang yang biasa berdiskusi, tak akan canggung berdiskusi. Orang yang mampu berdiskusi dengan baik di skup kecil, cenderung tampil piawai di panggung-panggung diskusi.

Diskusi melatih berpikir dengan logis, berbicara dengan keren. Diskusi mengajarkan beragumentasi, menyusun narasi, mengujinya dengan nalar, menyampaikannya dengan cara yang hebat, lalu mempertahankannya dengan gigih.

Maka, jika piawai berdiskusi, berdebat mestinya bukan perkara yang sulit. Ini cuma soal menaikkan level dengan sedikit menambah beberapa teknik lain.

Matang Organisasi

Saya kenal cukup baik Jajuli dan Nunik. Keduanya matang di organisasi. Mereka ditempa dan menjadi kader terbaik di lembaga masing-masing. Sebagai aktivis, keduanya sudah berpuluh-puluh purnama berkarib dengan diskusi.

Jajuli yang kenyang pengalaman di organisasi dakwah kampus, dibesarkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS adalah satu dari hanya sedikit partai politik dengan sistem organisasi yang modern, tertata dan terkelola baik.

Mereka punya mekanisme kaderasi yang serius, ketat, rapi, dan berjenjang. Diskusi adalah makanan harian kader-kader PKS.

Jajuli adalah salah satu bintang paling terang di PKS Lampung. Pria kelahiran 11 Mei 1968 ini pernah menempati beberapa jabatan terpenting, termasuk sekretaris umum dan ketua umum DPW. Sempat menjadi anggota DPRD Lampung, ia kemudian dua periode beruntun terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Jajuli juga seorang seorang pendakwah. Berceramah dan berdialog dengan masyarakat telah dijalaninya puluhan tahun. Naik panggung bukan hal aneh untuknya.

Bagaimana dengan Nunik. Meski lebih muda, bahkan paling muda dari semua kontestan Pilgub Lampung, pengalamannya berorganisasi tidak kalah mengilap.

Semasa kuliah di IAIN Waliosongo, wanita kelahiran 12 Juli 1982 ini aktif di pers kampus. Di eksternal, Nunik digembleng di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonsia (PMII)—salah satu organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar di Indonesia. Dia bahkan sempat menjabat wakil bendahara PB PMII (2007–2010).

PMII adalah salah satu anak biologis Nahdlatul Ulama, ormas Islam terbesar di Nusantara yang di dalamnya kaya akan tradisi intelektual dan disesaki pemikir-pemikir Islam nan mumpuni.

Dalam usia belia, 22 tahun, Nunik sudah berkecimpung di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia meniti karier mulai kader biasa hingga menjadi wakil sekretaris jenderal DPP PKB 2009-2014.

Berusia 27 tahun, tahun 2009, putri sulung ulama kharismatik mendiang KH Abdul Chalim ini sudah menjadi anggota DPR RI. Pada Pemilu 2014, Nunik sukses mempertahankan kursinya di Senayan untuk periode kedua.

Lalu, pada 2015, ia memenangi pilkada dan terpilih sebagai bupati Lampung Timur, tanah kelahirannya. Nunik bahkan merupakan bupati perempuan pertama di Lampung.

Dengan curriculum vitae mengilap begitu, tak lantas keduanya menganggap sepele urusan debat pilgub. Nunik dan Jajuli bersama tim masing-masing tetap bersiap dengan serius.

Nunik bahkan menyiapkan tim khusus. Saya tahu, karena sekira dua bulan sebelum debat pertama, saya dihubungi Nunik dan timnya untuk ikut memperkuat kemampuannya jelang debat.

Tapi, dengan senyum dan santun, terpaksa saya tolak. Ini karena beberapa waktu sebelumnya, pihak KPU Lampung sudah memberi tahu, saya dinominasikan menjadi salah satu calon moderator debat.

Baru usulan. Belum tentu jadi, dan kalaupun jadi belum jelas untuk debat yang mana (dari tiga debat).

Meski belum jelas begitu, tetap saya tolak permintaan Nunik. Untuk jaga-jaga saja. Akan tidak baik dan bakal jadi masalah jika saya kadung menerima job mendampingi Nunik (untuk persiapan debat loh) dan kemudian ternyata belakangan didapuk menjadi moderator debat pilgub.

Untung saja, akhirnya KPU memang memutuskan saya menjadi moderator untuk debat pertama. Kalau tidak, gosong deh dua-duanya. Sudah urung menjadi tim debat Nunik, tak pula jadi moderator debat pilgub. Ibarat pepatah, berharap layangan di langit, choki-choki di tangan dilepaskan.

Kembali ke Jajuli, meski tampil sendiri tanpa Mustafa, dia tampil percaya diri. Sama sekali tak tampak demam panggung. Presentasinya bagus.

Sayangnya, Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya. Pasangan Mustafa-Jajuli harus menerima nasib menjadi juru kunci Pilgub Lampung 2018.

Sementara Nunik, kita sama tahu, bersama Arinal, sukses menjadi kampiun pilgub dan beberapa bulan di muka bakal menyandang predikat wakil gubernur Lampung.

Tak Ada yang Instan

Penampilan gemilang Jajuli dan Nunik meneguhkan keyakinan: tidak ada yang instan untuk mendapat hasil terbaik, termasuk dalam urusan berdebat. Hasil adalah akumulasi dari serangkaian proses…tsaah.

Jika Anda bermimpi menjadi pemimpin nomor wahid, mulai biasakan berdiskusi. Diskusi yang verbal, di dunia nyata. Bukan cuma umbar kata tak seberapa di medsos.

Pengalaman, kebiasaan berdiskusi, ditambah latihan dan persiapan matang adalah kunci memenangi debat. Jawara debat memang tak digaransi memenangi kontestasi. Namun, ia bisa memberi sumbangan penting dalam upaya meraih kemenangan itu sendiri.

Ada puluhan persen undecided voters alias pemllih bingung yang belum menentukan pilihan, dus sekian persen swing voters alias pemilih galau yang bisa pindah ke lain bodi.

Hasil debat bisa menjadi referensi, dapat mempengaruhi sikap dua golongan ini. Jika sudah jatuh hati, memilih tak akan berat hati.

Lagipula, tak ada ruginya tampil hebat dalam berdebat. Wong sudah keren bertaji saja belum tentu dipuji, apalagi jelek dan suwek. Mungkin memang sudah nasib kontestan debat pemilu di negeri ini: buruk diejek, bagus tetap dikongek.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (9): Rusuh Papua, Humor Gus Dur, Kerisauan Mochtar Lubis, dan Preman Pensiun

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung KAMI bertiga …