Soal Banjir, Bambang Pujiatmoko: Lampung Krisis Air 2020


BAMBANG Pujiatmoko, Wash Advisor Voice for Change Partnership (V4CP) SNV Indonesia | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sejumlah wilayah di Provinsi Lampung dikepung banjir Sabtu, 16/2/2019. Banjir melanda menyusul hujan deras yang mengguyur sepanjang sore hingga malam.

Di sejumlah lokasi banjir kali ini terbilang cukup parah. Ketinggian air bahkan ada yang mencapai 2 meter. Data yang diperoleh duajurai.co, daerah yang kebanjiran antara lain Kabupaten Pringsewu, Pesawaran, Tanggamus, Lampung Utara dan Kota Bandar Lampung.

Akibatnya, sejumlah rumah-bangunan rusak. Tak sedikit pula kendaraan yang rusak.

Sejumlah aktivis lingkungan menyebut, fenomena ini tidak terlepas dari kerusakan lingkungan. Menurut Bambang Pujiatmoko, Wash Advisor Voice for Change Partnership (V4CP) SNV Indonesia, banjir yang rutin terjadi hampir setiap tahun merupakan bentuk nyata krisis air di Lampung.

“Lampung krisis air pada 2020 semakin nyata. Bentuk krisis air adalah bila musim hujan, turun hujan sebentar saja datang banjir bandang. Sedangkan pada musim kemarau sebentar saja, tidak ada air,” katanya dalam diskusi di grup WhatsApp Pembaca duajurai.co.

Bambang menjelaskan, pada 2015 pihaknya sudah mengingatkan pemerintah daerah mengenai kondisi ini.

“Kami sudah mengingatkan secara langsung Gubernur dan DPRD Lampung pada 2015 lalu. Dan nyatanya, semakin tahun (krisis air) malah semakin parah,” sesal aktivis senior ini.

Untuk mengatasinya, Bambang mengusulkan dilakukan gerakan mencegah krisis air di Lampung.

“Mungkinkah diadakan gerakan untuk mencegah krisis air di Lampung?” tanyanya.

“Untuk melakukan gerakan ini dibutuhkan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat. Kondisi lingkungan merupakan cermin budaya masyarakat,” lanjutnya.

Direktur Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Febrilia Ekawati menyatakan, di antara penyebab banjir yang kerap melanda Lampung adalah buruknya sistem drainase.

“Saluran drainase di beberapa wilayah tampak tidak lancar dan banyak yang tersumbat. Khusus Kota Bandar Lampung,
saluran drainasenya sangat buruk,” tegasnya.

Febri juga menyoroti aktivitas penggundulan-penggerusan bukit yang berlangsung masif.

“Lihat saja, bukit-bukit pada diratain, digundulin untuk membangun perumahan,” katanya prihatin.

“Fakta, bukit-bukit di Pringsewu juga digunduli untuk aktivitas tambang batu. Ini seperti terjadi di Kecamatan Gadingrejo,” jelasnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Selama Arus Mudik, Tiket Kereta Tanjungkarang-Kotabumi Diskon 50%

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberi potongan harga untuk pembelian tiket jurusan Tanjungkarang-Kotabumi …