OPINI IB ILHAM MALIK: U-Turn dan Potensi Masalah Lalu Lintas (Lagi)


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.c0

IB Ilham Malik | Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Lampung – Anggota World Society for Transportation and Land Use Research (WSTLUR).

ADA 4 u-turn (ruang putar balik) antara flyover Mal Bumi Keaton (MBK) dan underpass Universitas Lampung (Unila), Jalan ZA Pagaralam, Bnadar Lampung. Pada jam-jam tertentu (tetapi cukup sering) keberadaan u-turn tersebut malah menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Empat u-turn dimaksud ialah di depan KFC Kedaton, depan Sekolah Darmabangsa, depan Tridarma, dan depan Kedaton Medical Center (KMC). Sebelumnya ada satu u-turn lagi di segmen jalan ini yaitu di depan minimarket Surya, tetapi sudah ditutup karena (dahulu) menimbulkan kemacetan.

Kini 4 u-turn tersisa juga sudah menimbulkan kemacetan. Apakah akan ditutup juga? Belum tahu. Mungkin saja sebagian akan ditutup. Semua bergantung kepada rekayasa lalu lintas yang akan disiapkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bnadar Lampung bersama Forum Lalu Lintas setempat.

Faktanya, setelah dua simpang (MBK dan Unila) direkayasa dengan membangun simpang tidak sebidang, muncul masalah baru sebagai akibat dari kenaikan volume kendaraan di sana.

Benarlah apa yang pernah dkatakan oleh sahabat saya Maulana Mukhlis (dosen FISIP Unila) bahwa model pembangunan di kota manapun, di daerah manapun, setelah dibangun, lalu selesai begitu saja. Tidak ada evaluasi, tidak berkelanjutan, dan tidak ada penataan ulang.

Saya setuju pendapat ini. Situasinya sama seperti proses pembangunan transportasi publik, bus rapid transit (BRT) contohnya. Setelah BRT diluncurkan, maka selesai sudah. Tidak ada evaluasi, tidak ada pengembangan, dan tidak ada penataan ulang. Demikian halnya dengan bus Trans Lampung milik Pemerintah Provinsi Lampung.

Pola pembangunan daerah dengan cara itu sebenarnya bisa dicegah jika ada power of knowledge dan strategi bagus di dapur perencanaan kota, dalam hal ini Bappeda.

Tapi penanganan lalu lintas di segmen Jalan ZA Pagaralam mestinya memang agak berbeda. Sepanjang jalan ini berdiri begitu banyak perguruan tinggi dan sekolah. Tentu saja, adanya institusi pendidikan tersebut diikuti dengan banyak kegiatan penunjang seperti pertokoan, rumah makan, asrama/kos, dan lain-lain.

Ini yang menjadikan cara mengatasi masalah lalu lintas di segmen ini mesti berbeda. Harus ada pendekatan land use. Pola pergerakan kendaraan dan orang, sebarannya, dalam kawasan ini menjadi penting untuk diidentifikasi.

Jangan-jangan, untuk pergerakan di dalam kawasan ini, sesungguhnya tidak perlu u-turn sebanyak sekarang. Pendekatannya adalah memperlebar pedestrian dengan berbagai macam street furniture-nya, disusul dengan zebra cross lebar yang dilengkapi ornamen kawasan yang membuat orang mau berjalan kaki, dan sebagainya.

Bisa juga dibuat kantong park and ride supaya orang tak perlu berputar arah meskipun tujuannya ada di seberang jalur. Cukup parkir di kantong parkir yang ada, lalu berjalan kaki menyeberang jalan.

Pendekatan penanganan lalu lintas tidaklah tunggal. Ada banyak elemen dalam upaya menyelesaikan masalah lalu lintas.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI JUWENDRA ASDIANSYAH: Pray for Bahasa Indonesia

Oleh Juwendra Asdiansyah | wartawan duajurai.co SOLIDARITAS bangsa ini bolehlah. Setiap bencana besar melanda dengan …