AJI Minta Jokowi Cabut Remisi Terpidana Pembunuhan Prabangsa


I Nyoman Susrama, , terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali AA Prabangsa. | Nyoman Budhiana/Antara

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memicu kekecewaan komunitas pers karena memberikan remisi terhadap Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali AA Prabangsa. Untuk itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta Jokowi mencabut keputusan presiden pemberian remisi terhadap Susrama.

“Kami menilai, kebijakan semacam ini tidak arif dan memberikan pesan yang kurang bersahabat bagi pers Indonesia. AJI menilai, tak diadilinya pelaku kekerasan terhadap jurnalis, termasuk juga memberikan keringanan hukuman bagi para pelakunya, akan menyuburkan iklim impunitas dan membuat para pelaku kekerasan tidak jera. Itu bisa memicu kekerasan terus berlanjut,” kata Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan melalui keterangan tertulis yang diterima duajurai.co, Rabu, 23/1/2019.

Menurutnya, fakta persidangan jelas menyatakan bahwa pembunuhan ini terkait berita dan pembunuhannya dilakukan secara terencana. Susrama sudah dihukum ringan karena jaksa sebenarnya menuntutnya dengan hukuman mati, tapi hakim mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup.

“Kebijakan presiden yang mengurangi hukuman itu melukai rasa keadilan. Tidak hanya keluarga korban, tapi juga jurnalis di Indonesia,” ujarnya.

Jurnalis Tempo itu menerangkan, Prabangsa dibunuh pada 11 Februari 2009. Pembunuhan tersebut terkait dengan pemberitaan dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkan I Nyoman Susrama di Harian Radar Bali, dua bulan sebelumnya. Hasil penyelidikan polisi, pemeriksaan saksi dan barang bukti di persidangan menunjukkan bahwa Susrama adalah otak di balik pembunuhan itu. Dia diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli.

Prabangsa lantas dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Di sanalah dia memerintahkan anak buahnya memukuli dan akhirnya menghabisi Prabangsa. Dalam keadaan bernyawa, Prabangsa dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung. Prabangsa lantas dibawa naik perahu dan dibuang ke laut.

“Mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian,” kata dia.

Berdasar data AJI, kasus Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia. Kasus Prabangsa adalah satu dari sedikit kasus yang sudah diusut. Sementara, delapan kasus lainnya belum tersentuh hukum. Delapan kasus itu, antara lain Fuad M Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996); pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian Radar Surabaya (2006); kematian Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010); dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010).

Berbeda dengan lainnya, kasus Prabangsa bisa diproses hukum dan pelakunya divonis penjara. Dalam sidang Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susarama dengan divonis penjara seumur hidup. Sebanyak delapan orang lainnya yang ikut terlibat, juga dihukum dari 5 tahun sampai 20 tahun. Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya kesembilan terdakwa, April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010.

“Kini, Presiden Jokowi melalui Kepres Nomor 29 tahun 2018, memberi keringanan hukuman kepada Susrama,” kata Manan.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

‘Voice Of Bedana’ Tampil di Festival Asia Tri Yogyakarta

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Hujan Hijau Dance Lab turut menjadi peserta yang mempertunjukkan karyanya pada Festival Asia …