Pernah Dapat Adipura, Mengapa Bandar Lampung Raih Predikat Kota Terkotor?


ISMET Saleh, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Bandar Lampung sebagai kota terkotor untuk kategori kota besar. Bandar Lampung mendapat nilai paling rendah pada saat penilaian program Adipura periode 2017-2018.

Padahal, Bandar Lampung pernah meraih Adipura pada kepemimpinan Wali Kota Nurdin Muhayat tahun 1985-1995. Bahkan, pada masa tersebut, Kota Bandar Lampung berhasil memperoleh penghargaan Adipura sampai lima kali berturut-turut. Sehingga, dinilai layak meraih Adipura Kencana.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung menyatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah. Setiap hari, pengangkut sampah akan keliling menyisir jalan-jalan di Kota Tapis Berseri. Waktunya mulai pukul 06.00 hingga pukul 23.00 WIB.

“Penyisiran sampah ini dilakukan berlapis. Pertama, mobil besar. Petugas mengambil sampah-sampah yang ditaruh di tepi jalan. Lalu, di-back up lagi sama mobil pick up untuk menyisir kalau ada sampah yang baru lagi,” kata Ismet Saleh, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung, di kantornya, Selasa, 15/1/2019.

Selain mobil sampah, ada juga penyapu jalan, baik itu yang di bawah naungan UPT maupun para satuan petugas (satgas) khusus dari Dinas Lingkungan Hidup. Satgas tersebut bertugas menyapu dan membersihkan sampah di jalanan.

“Satgas ini sudah dibagi zonasinya masing masing. Misal, di Jalan Kartini, ada total enam petugas. Rinciannya, tiga kanan jalan, dan tiga kiri satgasnya. Jalan Raden Intan dan jalan protokol lainnya juga begitu,” ujarnya.

SAMPAH menumpuk di belakangan Pasar Induk Tamin, Bandar Lampung, Selasa, 15/1/2019. Padahal, terdapat plang larangan buang sampah di kawasan tersebut. | Umar Robani/duajurai.co

Pantauan duajurai.co, sampah masih terlihat berserakan di pinggir jalan hingga aliran sungai dan pesisir pantai. Seperti yang tampak di belakang Pasar Induk Tamin, Jalan Antara, Tanjungkarang Barat. Terlihat tumpukan sampah tepat di depan Indomaret, di pinggir jalan tersebut. Sampah di lokasi tersebut berasal dari sampah rumah tangga.

Pemandangan serupa juga tampak di Kali Belau, Telukbetung. Banyak sampah terlihat mengapung di sungai tersebut. Air kali yang dipenuhi sampah itu terlihat butek.

Tak hanya itu, ruang publik di kawasan Bandar Lampung juga tampak masih minim tempat sampah. Di area Lapangan Saburai, Enggal, tidak terlihat kotak sampah. Sepanjang trotoar di kawasan tersebut tak dilengkapi tempat sampah. Pun demikian dengan kompleks Stadion Pahoman. Padahal, di lokasi itu banyak warga menghabiskan waktu.

KOTAK ampah organik dan nonorganik, di depan Bank Budi Utomo, Jalan Raden Intan, Tanjungkarang, Bandar Lampung, Selasa, 15/1/2019. | Umar Robani/duajurai.co

Selain di tempat tersebut, kawasan yang ramai pejalan kaki juga minim tempat sampah. Seperti sepanjang trotoar Jalan Raden Intan, hanya terlihat lima tempat sampah. Sedangkan di Jalan Jenderal Ahmad Yani terdapat enam kotak sampah, dan tiga tempat sampah di Jalan Raden Ajeng Kartini, Tanjungkarang.

Pemandangan serupa terlihat di perkantoran Bandar Lampung, Jalan Dr Susilo, Telukbetung. Di sana tidak terdapat tempat sampah. Begitu pula di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro.(*)

Baca juga Bandar Lampung Kota Terkotor Penilaian Adipura, Herman HN: Itu Permainan Uang

Laporan Imelda Astari dan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …