Kota Besar Terkotor, Begini Pengelolaan Sampah di Bandar Lampung


ISMET Saleh, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bandar Lampung mendapat predikat sebagai kota terkotor untuk kategori kota besar. Hal tersebut karena Kota Tapis Berseri memperoleh nilai terendah dalam penilaian program Adipura.

Lantas, bagaimana sebenarnya pengelolaan sampah di Bandar Lampung sehingga disematkan sebagai kota terkotor?

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung menyatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah. Setiap hari, pengangkut sampah akan keliling menyisir jalan-jalan di Kota Tapis Berseri. Waktunya mulai pukul 06.00 hingga pukul 23.00 WIB.

“Penyisiran sampah ini dilakukan berlapis. Pertama, mobil besar. Petugas mengambil sampah-sampah yang ditaruh di tepi jalan. Lalu, di-back up lagi sama mobil pick up untuk menyisir kalau ada sampah yang baru lagi,” kata Ismet Saleh, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung, di kantornya, Selasa, 15/1/2019.

Selain mobil sampah, ada juga penyapu jalan, baik itu yang di bawah naungan UPT maupun para satuan petugas (satgas) khusus dari Dinas Lingkungan Hidup. Satgas tersebut bertugas menyapu dan membersihkan sampah di jalanan.

“Satgas ini sudah dibagi zonasinya masing masing. Misal, di Jalan Kartini, ada total enam petugas. Rinciannya, tiga kanan jalan, dan tiga kiri satgasnya. Jalan Raden Intan dan jalan protokol lainnya juga begitu,” ujarnya.

Total satgas sebanyak 80 petugas. Beda lagi dengan penyapu jalan dari UPT masing-masing kecamatan. Jumlahnya menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di kecamatan tersebut.

“Kalau penyapu jalan dari UPT itu ada jam tertentu mereka wajib menyapu. Misalnya, jam lima sampai jam tujuh pagi. Lalu, mereka akan menyapu lagi jam 11 siang, ketika tim satgas istirahat,” lanjut Ismet.

Selain menyapu jalan protokol, satgas juga membersihkan halaman toko-toko dan berbagai fasilitas. Sebab, pihak toko jarang menyapu karena merasa sudah membayar retribusi. Karena itu, Dinas Lingkungan Hidup setempat menugaskan satgas yang menyapu.

Terkait satuan ogranisasi kebersihan lingkungan (Sokli), meskipun tidak di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup, tapi cukup efektif menangani persoalan sampah. Sokli di bawah kelurahan. Tugasnya, mengambil sampah-sampah di lingkungan rukun tetangga (RT) dengan menarik bayaran dari warga.

“Rencananya, petugas Sokli akan direkrut menjadi tenaga kontrak. Mereka akan dapat upah, tapi mesti menyetorkan bayaran dari warga. Untuk warga yang tak mampu tidak akan ditarik bayaran,” kata dia.

KLHK menyebut Bandar Lampung dan Manado sebagai kota terkotor untuk kategori kota besar. Sedangkan Medan, Sumatra Utara, kota terkotor untuk kategori kota metropolitan. Kota-kota tersebut mendapat nilai paling rendah pada saat penilaian program Adipura periode 2017-2018.(*)

Baca juga Pernah Dapat Adipura, Mengapa Bandar Lampung Raih Predikat Kota Terkotor?

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …