OPINI JUWENDRA ASDIANSYAH: Pray for Bahasa Indonesia


GRAFIS Joe Chaniago/duajurai.co

Oleh Juwendra Asdiansyah | wartawan duajurai.co

SOLIDARITAS bangsa ini bolehlah. Setiap bencana besar melanda dengan segera segenap elemen anak bangsa menggulung lengan baju, bahu-membahu membantu.

Berkafilah-kafilah mereka datang ke lokasi bencana membawa rupa-rupa bantuan. Selebihnya mendonasikan tenaga, berjibaku bersama puing, reruntuhan, jasad-jasad beku, darah, keringat, dan air mata.

Fenomena lain yang cukup menonjol kala bencana datang adalah segera munculnya banyak gerakan kemanusiaan dan aksi kepedulian. Aksi-gerakan Itu biasanya dilabeli dengan aneka tagar, judul dan slogan.

Di antara yang paling sering muncul adalah diksi “pray for“. Misalnya Pray for Lombok, Pray for Palu, Sigi & Donggala, dan teranyar, Pray for Lampung & Banten. Di TVRI, iklan simpati bencana tsunami yang menerjang Lampung dan Banten pada 22 Desember 2018 lalu (malah) dilabeli “Pray for Banten dan Lampung”.

Entah bagaimana awalnya. Yang pasti penggunaan pray for menjadi lazim dan massif dalam momen-momen bencana di negeri ini.

Bagi saya, maraknya pemakaian pray for ini agak mengganggu. Kenapa agak? Ya, meski jengah melihat diksi itu bertebaran, saya toh masih enak makan, tidur, ngudut dan ngopi.

Di mana letak masalahnya? Pray for itu bahasa Inggris. Sementara, bencana terjadi di Indonesia. Lalu, para korbannya umumnya orang Indonesia (dalam beberapa peristiwa ada orang asing ikut jadi korban), warga yang terdampak warga negara Indonesia, yang menolong orang-orang Indonesia, aksi-aksi kepedulian yang pakai label pray for juga dilakukan orang-orang Indonesia.

Jika begitu situasinya, kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja. Kenapa tidak menggunakan “doa untuk” atau “simpati untuk” sebagai substitusi pray for. Doa untuk Lampung dan Banten. Simpati untuk Korban Tsunami Lampung-Banten. Bagus kan?

Pesannya jelas, junjunglah bahasa Indonesia. Itu amanah suci para pendiri bangsa yang dimaklumatkan lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Sungguh, saya tidak menemukan argumentasi yang kuat, urgensi yang mendesak, alasan yang masuk akal, sehingga “doa untuk” dan “simpati untuk” terpinggirkan di rumahnya sendiri. Jadi penonton sunyi di lapangannya sendiri yang tengah hiruk pikuk.

Jika pray for dipakai supaya terlihat keren dan modern semata, ini malah lebih ngawur. Mau terlihat keren dan modern dalam suasana bencana? Keren dan modern untuk siapa?

Duh, mereka yang sedang berduka, nelangsa dibelit musibah tidak sempat memikirkan keren tidaknya saudara-saudaranya sebangsa yang datang untuk menjenguk dan menolong. Dibantu saja mereka sudah syukur alhamdulillah.

Lebih nyesek lagi melihat pemakaian pray for yang dicampur aduk dengan bahasa Indonesia, seperti Pray for Banten dan Lampung. Apalagi pelakunya TVRI, stasiun televisi pelat merah yang seharusnya di garda terdepan menjunjung dus menjaga keluhuran bahasa Indonesia.

Bisa saja muncul aneka dalih untuk menepis kejengahan ini. Misalnya, berbagai bencana itu kan menarik perhatian dunia internasional, dan bahasa Inggris adalah bahasa internasional, bahasa dunia.

Atau, bencana kan soal kemanusiaan. Soal kemanusiaan itu universal, tidak ada benderanya. Bencana, apa pun bentuknya adalah milik seluruh umat manusia. Maka dari itu, tak penting lagi dibahas, mau pakai bahasa apa untuk melabeli simpati atasnya.

Begini. Bahwa aneka bencana besar yang terjadi di Tanah Air menjadi perhatian internasional itu hal yang lumrah. Perhatian mereka itu sama sekali tak terkait dengan aksi-aksi kepedulian di dalam negeri Indonesia, termasuk dengan embel-embel pray for.

Ada tidak ada aksi “pray for” mereka tetap tahu ada bencana di Indonesia. Ada tidak ada pray for negara-negara lain tetap peduli karena demikianlah tata karma pergaulan antarbangsa dunia.

Bahwa bencana adalah soal kemanusiaan, Mukidi pun paham. Namun, tidak ada relevansi sama sekali mengaitkan ihwal kemanusiaan yang universal dengan penggunaan bahasa Inggris (pray for) yang konon bahasa dunia untuk melabeli aksi kepedulian orang Indonesia atas bencana di negerinya sendiri.

Jangan pula narasi ini direduksi sebagai sikap anti bahasa Inggris, anti bahasa asing. Tidak. Sama sekali tidak ada hubungannya. Jaka Sembung makan combro, nggak nyambung, Bro.

Ini semata soal pemakaian bahasa Inggris yang tidak pada tempatnya. Tidak sesuai konteks, ruang dan waktu. Silakan ber-inggris-inggris sepanjang pada tempatnya, sesuai mementumnya, pas audiensnya.

Segala sesuatu menjadi benar atau salah sangat terkait dengan konteksnya. Wara-wiri pakai celana kolor tok tanpa baju, atau pakai bikini superketat, tak akan jadi masalah jika dilakukan dalam areal kolam renang. Tapi tetap bercelana kolor atau berbikini di parkiran kolam renang bakal jadi masalah besar meski parkiran itu hanya terpisah tembok dengan kolam renang.

Nyanyi-nyanyi dengan suara keras dan joget-joget dalam ruang karaoke itu asyik banget. Tapi jangan coba-coba terus teriak-teriak dan joget-joget begitu keluar dari ruang karaoke. Tak usah sampai parkiran, masih di area lobi pun semua mata bakal melihat aneh. Syukur-syukur tidak dikira gila.

Seorang kawan ketika saya melontarkan kegelisahan soal pray for ini berkomentar, “Ngapain sih bahas-bahas beginian saat momen bencana. Gak penting banget!”

Bagi dia, kegelisahan saya ini serupa sebangun dengan penyair yang menulis puisi saat melihat bencana. “Orang lagi musibah kok sempat-sempatnya nulis puisi. Memangnya orang yang sedang berduka jadi gembira dikasih puisi!”

Penting tidak penting memang kadang relatif. Penting bagi saya, belum tentu penting bagi orang lain. Ia kadang ditentukan oleh rasa, latar belakang, pengalaman, dan keinginan.

Bagi sebagian orang, misalnya, menikah itu cuma soal menjalani fitrah kehidupan, berpasangan, berketurunan, dan bersetubuh secara halal. Untuk penganut mazhab ini, perkawinan tak perlu dirayakan, dipestakan, mengundang orang banyak, apalagi sampai menghabiskan uang puluhan-ratusan juta rupiah. Cukup ijab kabul di KUA, sah, bikin anak, selesai.

Sementara bagi sebagian yang lain, menikah itu momen bersejarah. Cukup sekali seumur hidup. Momen sangat membahagiakan yang karenanya harus dan wajar dibagi, dikabarkan ke banyak orang. Maka menikah perlu dirayakan, dipestakan. Habis uang banyak pun tak menjadi masalah.

Bagi saya, penting tidak penting itu soal substansi, soal esensi. Seringkali juga soal momentum. Sesuatu yang semula tidak penting, menjadi penting justru ketika menemukan momentumnya.

Ibarat ketupat saat Lebaran, bagai kawinan di musim haji, diksi pray for bertaburan saat bencana muncul. Maka membahas soal penggunaannya yang tidak tepat tentu relevan dalam momen bencana pula.

Dalam jurnalistik konteks bencana dalam pembahasan ini diistilahkan sebagai news peg. Bahasa sederhananya cantelan berita.

Jika tidak dalam situasi bencana dan karenanya pray for masuk laci, malah tidak relevan menggugat hal ini. Nekat namanya jika tetap membahas. Sama saja saya dengan sadar memasukkan diri ke dalam golongan orang yang bercelana kolor di parkiran kolam renang atau orang yang teriak-teriak, joget-joget di lobi tempat karaoke.

Rawatlah bahasa Indonesia. Jangan biarkan ia menepi di negerinya sendiri, Negeri kita.

Pengabaian bahasa Indonesia adalah bentuk bencana lain atas bangsa ini. Jika itu terjadi, siap-siap suatu hari kita menggalang aksi dengan tulisan besar-besar “Pray for Bahasa Indonesia”.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OASE RAMADAN ROHMI YUHANI’AH: Qadha dan Fidyah bagi Wanita Hamil-Menyusui

Rohmi Yuhani’ah MPdI | Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Raden Intan Lampung PUASA adalah rukun Islam …