OPINI JUWENDRA ASDIANSYAH: Masbro, Gempa Tak Selalu Mengguncang


GRAFIS Joe Chaniago/duajurai.co

Juwendra Asdiansyah | wartawan duajurai.co

DUHAI sahabat-sahabatku para jurnalis. Jika kalian menulis berita soal gempa, tolong berhati-hati dan tidak sembarangan menggunakan kata “guncang” atau “mengguncang”. Kehati-hatian dalam pemakaian kata ini wajib dan perlu, baik dalam tubuh maupun judul berita.

Tidak semua gempa bumi mengguncang. Seringkali gempa, tektonik atau vulkanik, cuma menggetarkan, greges-greges sedikit, atau bahkan tak terasa sama sekali. Jangan gara-gara berita Anda, gempa yang dirasakan pun tidak, malah membuat orang yang membaca terguncang perasaannya karena menjadi khawatir bin takut bin resah bin gelisah.

Sebelum lebih jauh bicara getar dan guncang, mari kita bahas dulu soal gempanya.

Skala Richter (SR)

Dalam berbagai momen gempa, istilah SR atau skala Richter lebih familiar bagi banyak orang, termasuk dalam pemberitaan media.

Gempa yang dirasakan di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu misalnya, tercatat berkekuatan 7,7 SR. Sedangkan gempa yang terasa di pesisir barat Lampung pada Rabu malam, 2 Januari 2019, magnitudonya 4,9 SR.

Merujuk Wikipedia, istilah skala Richter alias SR diambil dari nama pengusulnya, fisikawan Charles Richter. SR mulanya dibuat cuma untuk gempa-gempa di California Selatan, Amerika Serikat. Belakangan, SR digunakan untuk gempa-gempa di lokasi lainnya.

SR hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo di bawah 6,0. Di atas itu, perhitungan dengan teknik Richter tidak lagi mumpuni.

Berikut efek gempa berdasar besarnya SR.
>2.0 SR. Gempa kecil, tidak terasa.
2.0-2.9 SR. Tidak terasa, namun terekam oleh alat.
3.0-3.9 SR. Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan.
4.0-4.9 SR. Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh. Kerusakan tidak signifikan.
5.0-5.9 SR. Dapat mengakibatkan kerusakan besar di bangunan pada area yang kecil. Umumnya kerusakan kecil di bangunan dengan konstruksi baik.
6.0-6.9 SR. Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km.
7.0-7.9 SR. Dapat mengakibatkan kerusakan serius dalam area lebih luas.
8.0-8.9 SR. Dapat mengakibatkan kerusakan serius hingga ratusan mil.
9.0-9.9 SR. Menghancurkan area ribuan mil.
10.0-10.9 SR. Dapat menghancurkan sebuah benua.
11.0-11.9 SR. Terasa di separuh sisi bumi. Biasanya hanya terjadi akibat tumbukan meteorit raksasa.
12.0-12.9 SR. Terasa di seluruh dunia. Hanya terekam sekali, saat tumbukan meteorit di semenanjung Yucatan, 65 juta tahun lalu yang membentuk kawah Chicxulub.
13.0 SR. Belum pernah terekam.

Sejatinya, perhitungan magnitudo gempa tidak cuma memakai teknik Richter. Selain SR, ada juga teknik atau istilah MMI dan SIG.

Modified Mercalli Intensity (MMI)

MMI adalah singkatan dari modified mercalli intensity. Dalam situs bmkg.go.id diterangkan, skala MMI atau skala Mercalli diciptakan vulkanologis Italia, Giuseppe Mercalli pada 1902.

Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan. Ia disusun merujuk keterangan orang-orang yang selamat dari gempa, juga dengan melihat dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa.

Skala ini sangat subjektif dan kurang presisi dibanding perhitungan lainnya. Itu sebabnya, saat ini Skala Richter digunakan lebih luas untuk mengukur kekuatan gempa.

Tetapi, skala Mercalli yang dimodifikasi pada 1931 oleh seismolog Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan. Terutama, jika tidak terdapat seismometer di tempat kejadian.

Menurut pakar geologi, Rovicky Dwi Putrihadi, kekuatan gempa diukur dari seberapa besar amplitudo goyangannya. Semakin kuat gempa, maka luasan daerah yang bergoyang juga semakin luas dan jauh.

“Intensitas gempa adalah ukuran efek gempa di suatu tempat terhadap manusia, tanah dan struktur atau bangunan,” terangnya dilansir viva.co.id, 6/8/2018.

MMI digunakan untuk mengukur seberapa besar kerusakan akibat gempa. Karena disusun berdasar pengamatan, skala MMI tidak sama di setiap tempat. Lokasi yang dekat dengan episentrum (pusat gempa) secara logis memiliki skala MMI yang lebih besar.

Berikut penjabarannya.
I MMI. Getaran tidak dirasakan, kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang.
II MMI. Getaran dirasakan beberapa orang. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
III MMI. Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Getaran terasa seakan ada truk lewat.
IV MMI. Pada siang hari dirasakan orang banyak dalam rumah, sementara di luar dirasakan beberapa orang. Gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.
V MMI. Getaran dirasakan hampir semua penduduk. Orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar bergoyang, dan bandul lonceng dapat berhenti.
VI MMI. Getaran dirasakan semua penduduk. Kebanyakan terkejut dan lari keluar. Plester dinding jatuh, cerobong asap pabrik rusak, kerusakan ringan.
VII MMI. Orang-orang keluar rumah. Kerusakan ringan di rumah-rumah dengan konstruksi baik. Sedangkan di bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.
VIII MMI. Kerusakan ringan di bangunan dengan konstruksi kuat. Retak-retak di bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, lalu air menjadi keruh.
IX MMI. Kerusakan di bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus dan banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari posisi semula, pipa-pipa dalam rumah putus.
X MMI. Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah, rel melengkung, tanah longsor di sungai dan tanah-tanah yang curam.
XI MMI. Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel sangat melengkung.
XII MMI. Bangunan hancur sama sekali. Gelombang tampak di permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap, benda-benda terlempar ke udara.

Skala Intensitas Gempa (SIG)

Wabil khusus Indonesia, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga menyusun kekuatan gempa dalam Skala Intensitas Gempa Bumi BMKG atau SIG-BMKG. Skala ini menyatakan dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi.

SIG disusun dengan mengakomodasi keterangan dampak gempa bumi berdasarkan tipikal budaya atau bangunan di Indonesia. Skala ini disusun lebih sederhana dengan hanya lima tingkatan.

Berikut rincian SIG BMKG
SIG I. Tidak dirasakan. Skala MMI 1-2. Gempa tidak dirasakan atau hanya dirasakan beberapa orang tetapi terekam oleh alat.
SIG II. Dirasakan. Skala MMI 3-5. Gempa dirasakan orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan jendela kaca bergetar.
SIG III. Kerusakan ringan. Skala MMI 6. Bagian nonstruktur bangunan rusak ringan, seperti retak rambut di dinding, atap bergeser ke bawah dan sebagian berjatuhan.)
SIG IV. Kerusakan sedang. Skala MMI 7-8. Banyak retakan di dinding bangunan sederhana, sebagian roboh, kaca pecah. Sebagian plester dinding lepas. Hampir sebagian besar atap bergeser ke bawah atau jatuh. Struktur bangunan rusak ringan sampai sedang.
SIG V. Kerusakan berat. Skala MMI 9-12. Sebagian besar dinding bangunan permanen roboh. Struktur bangunan rusak berat. Rel kereta api melengkung.

Getar dan Guncang

Kembali ke laptop. Apa bedanya getar dan guncang? Merujuk kbbi.web.id, ada perbedaan mencolok antara kedua kata, berikut segala variannya.

Getar didefiniskan sebagai gerak berulang-ulang dengan cepat seperti tali biola, per, jarum jam yang tersentuh. Pada jarum seismograf menandakan ada gempa bumi.

Bergetar yakni bergerak berulang-ulang dengan cepat.

Menggetarkan yakni menyebabkan bergetar. Misalnya, ledakan itu menggetarkan jendela dan pintu rumah. Makna lain, menimbulkan rasa takut dan gelisah.

Sementara getaran adalah goyangan cepat dan berulang-ulang.

Apa bedanya dengan guncang? Masih merujuk KBBI, guncang ialah goyah, tidak tetap (berubah-ubah, bergerak-gerak, dan sebagainya).

Berguncang yakni bergoyang cepat dan keras (naik turun ke sana-sini dan sebagainya), menjadi tidak tetap, berubah dengan cepat dan tidak teratur, gelisah, atau khawatir.

Mengguncangkan bisa bermakna menggoyangkan kuat-kuat, menggerak-gerakkan hingga berguncang, atau menyebabkan tidak tetap (tidak tenang, tidak aman, dan sebagainya).

Terguncang bermakna tergoyang cepat-cepat, terganggu keseimbangan, atau khawatir.

Sedangkan guncangan adalah gerakan (goyangan) yang kuat.

Melihat aneka rupa definisi tersebut menjadi terang benderang bedanya getar dan guncang, getaran dan guncangan, bergetar dan berguncang, serta menggetarkan dan mengguncangkan.

Secara garis besar, guncang mengandung unsur ‘lebih’ daripada getar: lebih cepat, lebih keras, atau lebih kuat.

Menengok kembali penjelasan SR, MMI, dan SIG dalam hal kegempaan, juga tampak gamblang, tidak semua gempa mengguncang. Ada yang cuma menggetarkan, atau bahkan tidak terasa sama sekali.

Dalam sejumlah keterangan, getaran, guncangan, atau dampak yang ditimbulkan gempa pun tidak semata akibat magnitudo atau kekuatannya. Kedalaman gempa juga menentukan seberapa besar dampaknya.

Jika gempanya dangkal, meski SR-nya sedang, bisa jadi terasa kuat, mengguncangkan, dan menimbulkan kerusakan parah. Sebaliknya, meski skala magnitudonya sedang-besar, tapi gempanya dalam-sangat dalam, bisa saja tidak terlalu terasa, hanya menggetarkan, greges-greges, dan dampaknya tidak kelewat merusak.

So, sahabat-sahabat jurnalis, ada baiknya cermat, tidak gebyah uyah dalam menggunakan kata guncang atau getar dalam berita-berita kegempaan.

Buku ‘9 Elemen Jurnalisme’ yang ditulis begawan jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel jelas menyatakan, esensi jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.

Disiplin membuat wartawan mampu menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, demi mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi ini lah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.

Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi. Dua di antaranya ialah jangan menambah atau mengarang apa pun, serta jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar.

Beberapa pasal Kode Etik Jurnalistik (KEJ) juga dengan tegas mengatur soal ini. Pasal 1 menyebut, Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Pasal 3, Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Lalu Pasal 4, Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Jika takzim kepada sabda Kovach-Rosenstiel, dus KEJ, maka kalau ada kecelakaan, gerobak roti diserempet angkot, mbok ya jangan ditulis “gerobak roti diseruduk angkot”, atau “angkot hajar gerobak roti”.

Kalau mamang roti luka dan ada sedikit darah di lengannya, jangan ditulis “dihajar angkot, penjual roti berlumuran darah”, atau “gerobaknya diseruduk angkot, penjual roti bersimbah darah”. Sumpah, ini lebay tiada terperi.

Jika seorang gadis meneteskan air mata karena ditinggal sang kekasih pergi bertugas, tak elok ditulis “kekasihnya ditugaskan ke Papua, air mata gadis ini bercucuran’, atau “tak kuasa ditinggal kekasih bertugas, seorang gadis berderai air mata”. Beneran, bukan cuma nyebelin, ini termasuk penistaan air mata.

Jika ada gempa kecil, banyak yang tidak merasakan, dan tak ada laporan kerusakan juga korban, tak perlu menulis “gempa mengguncang.” Getar tulis getar. Guncang tulis guncang. Tak dirasa, jangan ditulis berguncang. Gitu Masbro.

Tidaklah baik, demi mengerek jumlah pembaca, seorang jurnalis melebih-lebihkan fakta, bahkan mengarang yang tidak ada menjadi ada.

Selain jurnalis, tulisan ini ada baiknya juga dibaca jajaran BMKG yang kadang-kadang dalam rilisnya juga menggunakan kata guncang untuk gempa kecil yang jauh dari kondisi mengguncang.

Semoga saja hal itu bukan karena lembaga pimpinan Profesor Dwikorita Karnawati mau ikutan lebay. Saya berbaik sangka, itu semata ketidaksengajaan atau karena tidak tahu bedanya getar dan guncang. Insya Allah habis baca tulisan ini jadi tahu bedanya. Amin ya Allah.

Terakhir, kalau tiba-tiba kaki Anda bergetar atau dada berguncang jangan kesusu teriak ada gempa. Bisa jadi Anda sedang melihat dosen idola atau ibu kos yang mau menagih uang sewa.

Dan, jika suatu kali BMKG melaporkan ada gempa kecil, SR, MMI dan SIG-nya imut-imut tapi dunia terasa bergetar atau bahkan tubuh Anda berguncang hebat, jangan buru-buru memvonis BMKG salah. Bisa jadi Anda belum makan, masuk angin, putus cinta, atau setidaknya sedang bokek berat.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Outlook Perekonomian Indonesia 2019

Dr H Andi Desfiandi MA | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin MENJELANG …