OPINI ANDI DESFIANDI: Outlook Perekonomian Indonesia 2019


Dr H Andi Desfiandi MA | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin

MENJELANG berakhirnya tahun 2018, kita dihadapkan kepada sejumlah fakta kondisi recovery ekonomi nasional yang menggembirakan. Fundamental ekonomi makro tahun 2018 pun diakui banyak pihak relatif cukup baik.

Mulai dari tingkat inflasi yang rendah sekitar 3 persen, pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5,2 persen di tengah belum pulihnya perekonomian global, hingga tingkat pengangguran dan kemiskinan yang trennya menurun.

Pendapatan negara yang melebihi target di atas tenggat APBN, positifnya pertumbuhan kredit perbankan, proyek-proyek infrastruktur yang sebagiannya segera selesai, terus membaiknya kinerja BUMN, juga menjadi faktor positif sebagai modal awal yang baik bagi Indonesia pada tahun 2019.

Pilpres serentak pada April 2019 secara tidak langsung akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini sebagai akibat belanja negara untuk penyelenggaraan pemilu dan tingginya belanja para peserta pemilu sehingga uang yang beredar meningkat tajam, dan selanjutnya meningkatkan konsumsi serta produksi yang berhubungan dengan aktivitas pemilu.

Setelah pemilu usai, bulan puasa serta lebaran juga bakal meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat.

Iklim investasi juga akan membaik dan meningkat seiring selesainya pemilu. Keraguan investor akan sirna karena sudah mendapatkan kepastian pemenang pemilu, terutama presiden.

Suasana positif masih ditambah dengan alokasi APBN 2019 yang memang lebih banyak dialokasikan untuk meningkatkan daya beli masyarakat melalui program-program yang langsung kepada kebutuhan dasar masyarakat.

Belum lagi dana desa dan kelurahan yang meningkat dibarengi dengan program Padat Karya Tunai (PKT), plus bantuan sosial nontunai yang dialokasikan cukup besar pada 2019.

Namun demikian, di samping indikator-indikator positif di atas, yang masih perlu menjadi perhatian adalah ketidakpastian perekonomian global. Terutama kemungkinan perang dagang dunia yang bakal terus berlanjut.

Selain itu, kemungkinan berlanjutnya tren kenaikan suku bunga The Fed, serta melemahnya harga komoditas dunia, termasuk ketidakpastian harga minyak dunia.

Dari analisis dan asumsi-asumsi di atas, maka dapat diprediksi bahwa perekonomian Indonesia pada 2019 akan lebih baik dari 2018. Terkecuali terjadi hal-hal sangat ekstrem atau force majoure baik dalam skala domestik maupun global.

Untuk itu, pada 2019 dan selanjutnya, pemerintah sebaiknya fokus kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan industrialisasi, termasuk industrialisasi desa.

Proyek-proyek infrastruktur juga perlu diteruskan, termasuk proyek strategis nasional. Hal ini secara langsung akan meningkatkan produktivitas serta mobilitas manusia, barang/jasa nasional, dan pada akhirnya memberikan dampak multiplier bagi peningkatan dan pemerataan perekonomian nasional.

Pasalnya, tidak bisa dibantah, tiga pilar utama perekonomian harus dimiliki oleh sebuah negara apabila ingin maju dan sejahtera. Ketiganya ialah infrastruktur berkeadilan, SDM berkualitas, dan industri yang sehat, baik up-stream, mid-stream maupun down-stream, termasuk tentunya industri jasa dan industri berbasis digital. Wallahualam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OASE RAMADAN AGUS HERMANTO: Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Dr Agus Hermanto MHI | Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung Secara lughawi, zakat …