OPINI AS DAVID FARANTO: Potensi Investasi dan Mimpi Lampung Terang Benderang (2-habis)


Sebelumnya OPINI AS DAVID FARANTO: Potensi Investasi dan Mimpi Lampung Terang Benderang (1)

SEKALIPUN menara SUTET atau transmisi dari Sumatera Selatan ke Lampung tersedia, apa lantas Lampung sudah terlepas dari krisis listrik? Jawabannya masih relatif, belum tentu.

Kenapa? Jawabnya karena keterbatasan pembangkit atau keandalan, di mana hanya mampu menopang beban normal, minus gangguan atau pemeliharaan. Sementara pasokan via transmisi Sumatera Selatan tidak bisa diandalkan sepenuhnya mengingat permintaan pasar tetap berjalan, bahkan bisa jadi meningkat di daerah tersebut termasuk di Lampung.

Di sisi lain, pembangkit di Lampung dan pasokan lokal yang ada dan dibeli oleh PLN pun masih terbatas. Hal ini bisa dilihat empat tahun ke belakang hingga sekarang. Adanya pemeliharaan pembangkit atau gangguan alam dan teknis, selalu diiringi dengan pemadaman bergilir yang cukup lama hampir menggelapkan seluruh pelosok di wilayah Lampung.

Terkini, pembangkit baru di Kabupaten Tanggamus telah diresmikan namun distribusinya masuk di saluran tol transmisi untuk se-Sumatera. Pembangkit itu konon katanya lahir dari hasil memorandum pemerintah pusat dengan Korea Selatan.

Semenjak Undang Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan diterbitkan, disusul keluarnya UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, serta otonomi daerah yang sudah berjalan sekitar 19 tahun, mungkin bisa dihitung dengan jari terjadi investasi di sektor ketenagalistrikan.

Padahal, investasi tersebut akan memberi dampak positif untuk banyak hal.
Mulai dari memberikan kontribusi sarana penyediaan tenaga listrik untuk membantu masyarakat tidak mampu, pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang belum berkembang, pembangunan tenaga listrik di daerah terpencil, serta pembangunan listrik perdesaan untuk meringankan dan membantu
PLN dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat secara merata dan andal.

Potensial Investasi

Jika sekarang Pemprov Lampung meraih predikat sebagai Provinsi Potensial Investasi, maka terbayang di benak kita soal regulasi, lingkungan, serta sarana investasi yang mudah, cepat, dan murah selain kondusif dalam pelayanan. Soal predikat potensial investasi tersebut terkait kebutuhan hadirnya investor dari semua kalangan usaha, khususnya di sektor ketenagalistrikan, apakah sudah diikuti dengan langkah mengundang mereka berinvestasi di Lampung?

Pertanyaan sederhana ini bisa menggambarkan bahwa kita tidak semata-mata puas meraih penghargaan. Lebih dari itu kita berharap ada dampak positif yang bisa dirasakan masyarakat secara nyata terhadap potensi tersebut. Artinya, pekerjaan rumah tim investasi Gubernur Lampung belum selesai jika investasi kemudian tak kunjung muncul atau timbul tenggelam bersama waktu.

Potret market di sektor swasta merupakan contoh kecil bagaimana mereka membangun kepercayaan dan kerjasama dalam investasi sehingga tumbuh sektor baru atau memperkuat sektor yang sudah ada.

Tantangan ini yang mungkin harus dijawab oleh tim investasi Gubernur Lampung di tengah tuntutan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Maklum, sederet kepala daerah di Indonesia tidak sedikit yang terjerembab dalam kasus korupsi berikut tim yang mengelilinginya karena begitu berlebihan memanfaatkan investasi yang datang.

Harapan kita, dalam waktu dekat, seperti halnya pelaku bisnis di sektor swasta, tim investasi Gubernur Lampung bersama bupati/wali kota mampu menggelar pertemuan atau membuat meja percakapan menarik dengan para investor dan ditutup saling berjabat tangan atas lahirnya investasi baru di daerah ini.

Tentu saja terutama untuk memperkuat keandalan listrik di Lampung.
Jika ini bisa terjadi berarti pemerintah daerah telah berhasil atau sukses membuat meja meja percakapan menjadi arena menggaet investasi atau bisa disebut table talk closing. Dengan begitu, kita optimistis ke depan mimpi Lampung terang benderang akhirnya terwujud di tempat kita.(*/habis)

AHMAD SALEH DAVID FARANTO | Asisten Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Lampung


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI AHMAD SALEH DAVID FARANTO: Jembatan Timbang, Seberapa Gereget Tak Ada Pungli? (2-habis)

SELAMA kurun waktu beroperasinya jembatan timbang pada 2015, Ombudsman juga mencatat bahwa Dishub Lampung telah …