Kekurangan Pengembangan Pariwisata Lampung Versi Ridho Ficardo


GUBERNUR Lampung M Ridho Ficardo didampingi Pj Sekprov Hamartoni Ahadis (berkacamata) diwawancarai wartawan usai Rapat Paripurna Penyampaian KUA-PPAS di kompleks DPRD setempat, Senin, 12/11/2018. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengakui bahwa masih ada kekurangan dalam pengembangan sektor pariwisata. Dia yakin, bila kekurangan tersebut diperbaiki, maka akan menjadi potensi yang baik.

“Kekurangannya adalah sampai hari ini yang menggenjot promosi pariwisata di Lampung hanya pemerintah daerah (pemda). Sehingga, hotel dan akomodasi lain memang sangat penuh. Tapi, kebanyakan tamu dari unsur kedinasan, seperti tamu rapat kerja dan lain-lain,” kata Ridho di kompleks DPRD Lampung, Senin, 12/11/2018.

Berbeda dengan Bali. Di sana, pihak yang agresif mengembangkan pariwisata adalah swasta, bukan pemda setempat. Contoh, hotel di Bali membuka stan pada momen promosi pariwisata terbesar di London, Inggris. Bahkan, lebih dari 3/4 stan Indonesia diisi oleh bali. Hal itu karena yang mendaftar memang hanya dari Bali.

“Ini yang sedang kami dorong. Kami akan memerankan pihak swasta untuk mendampingi promosi wisata Lampung. Kan kami punya hotel-hotel besar di Lampung. Memang, menunggu laku (kamar hotel), tapi kan tamunya masih baru dari sektor kedinasan,” ujarnya.

Menurut Ridho, wisatawan mancanegara mempunyai kebiasaan pada akhir tahun, yaitu mengunjungi pameran pariwisata. Mereka kemudian membeli paket wisata pada saat itu. Lalu, mereka bekerja keras untuk melunasinya.

“Sehingga, pada masa liburan, mereka tinggal menikmati dan betul-betul liburan. Tidak seperti kita yang pada saat liburan baru memikirkan mau kemana. Nah, peluang tersebut yang mesti kami manfaatkan,” kata dia.

Untuk itu, pihaknya akan menganggarkan dana guna promosi pariwisata. Nantinya, anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan berbagai situs mendukung, atau yang menjadi ikon masyarakat Lampung dan nasional. Misal, pembangunan perpustakaan modern, dan teropong bintang yang belum dimiliki Indonesia. Kemudian, menganggarkan pembangunan bumi perkemahan setara dengan Cibubur. Selama ini, Indonesia hanya memiliki lokasi perkemahan besar di Cibubur.

“Bayangkan, pergerakan ekonomi saat acara Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang hanya sehari saja, itu efek dominonya selama satu minggu. Bagaimana jika kami ada Jambore Pramuka dan sebagainya yang acaranya bisa dua minggu. Itu yang bisa kami lihat peluang-peluang untuk perekonomian daerah,” ujar Ridho.(*)

Baca juga 2019, APBD Lampung Masih Fokus Perbaikan Infrastruktur

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Hingga 20 Desember, Chandra Mart MBK Bandar Lampung Diskon 30% Pohon Natal

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Chandra Mart di Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan diskon sebesar 30% bagi pembeli …