Bongkar Selubung Ideologis, PMII UIN Raden Intan Gelar Kelas Pemikiran Kritis


PMII Komisariat UIN Raden Intan mengadakan Kelas Pemikiran Kritis di Gedung LPMP Lampung, 19-21 Oktober 2018. | PMII Komisariat UIN Raden Intan

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung menggelar Kelas Pemikiran Kritis di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Lampung, Bandar Lampung, 19-21 Oktober 2018. Kegiatan bertajuk “Membongkar Selubung Ideologis di Era Digital” itu diikuti sebanyak 19 peserta dari berbagai rayon.

Dedy Indra Prayoga, Ketua PMII Komisariat UIN Raden Intan, mengatakan, Kelas Pemikiran Kritis dimaksudkan sebagai bekal para anggota dan kader untuk melihat realitas sosial. Sifatnya, tajam secara analisis dan terus-menerus mendobrak penyelewengan ideologi di tengah masyarakat yang seharusnya tidak terjadi. Teori kritis juga bersifat kontemplatif yang dalam untuk menemukan makna yang lebih utuh. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui kaderisasi.

“Dalam konteks ini, kaderisasi bak jantung yang terus memompa darah untuk kelangsungan hidup organisasi. Lewat kaderisasi pula setiap individu dibekali dengan keimanan, keterampilan, dan pengetahuan yang mewujud menjadi kesadaran anggota dan kader untuk melihat realitas sosial,” kata Dedy melalui keterangan tertulisnya, kemarin.

SUASANA Kelas Pemikiran Kritis. | PMII Komisariat UIN Raden Intan

Hal senada disampaikan Yogi Prazani, Ketua Pelaksana Kelas Pemikiran Kritis. Menurutnya. Kelas Pemikiran Kritis sebagai upaya untuk memberikan pisau analisis bagi para anggota dan kader PMII dalam melihat, mengenali, dan mengevaluasi diri serta realitas sosial. Terlebih pada era digital, di mana manusia hidup di dalam “hutan rimba citraan” yang hadir dalam bentuk budaya populer dengan ciri, diproduksi secara massal dan dikonsumsi khalayak ramai.

“Seperti televisi, koran, internet dan media sosial yang telah menyamarkan garis pemisah antara baik-buruk, benar-salah, asli-palsu,” ujarnya.

Yogi menambahkan, Kelas Pemikiran Kritis menghadirkan tujuh teori kritis sebagai pisau analisis. Teori dimaksud, yaitu Critical Thinking, Filsafat Pendidikan Paulo Freire, Filsafat Ideologi Louis Althuser, dan Konsep Manusia Menurut Karl Marx. Kemudian, Analisis Wacana dan Kepentingan Korporasi, Aswaja sebagai Paradigma Kritis, serta Filosofi Kaderisasi. Adapun metode kegiatan itu, yakni diskusi dan studi kasus dengan pisau analisis kritis yang telah diberikan.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Junaidi Auly Ajak Masyarakat Lampung Timur Hasilkan Produk Unggulan Desa

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Anggota Komisi XI DPR Ahmad Junaidi Auly mengajak masyarakat desa, khususnya …