AJI Sesalkan Pembagian Uang Transpor-Penjadwalan Liputan Lampung Fair


KETUA AJI Bandar Lampung Padli Ramdan | Hendry Sihaloho/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung menyesalkan pengaturan jadwal peliputan pada Festival Lampung Fair 2018. Seharusnya, pihak penyelenggara tidak perlu membuat pengaturan tersebut karena akan membatasi kerja jurnalis dalam meliput kegiatan.

“Kami menerima informasi bahwa panitia membuat jadwal liputan bagi media yang akan meliput Lampung Fair. Juga dikabarkan ada pembagian uang transpor kepada para wartawan. Setelah kami verifikasi ternyata benar,” kata Ketua AJI Bandar Lampung Padli Ramdan melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 19/10/2018.

Dia mengatakan, pihaknya mempertanyakan pertimbangan penyelenggara dalam membuat jadwal peliputan bagi wartawan. AJI menyesalkan jika penjadwalan tersebut dengan pertimbangan ada pembagian uang transpor bagi wartawan.

“Meski ada penjadwalan liputan media, jurnalis tetap dibebaskan meliput kegiatan Lampung Fair. Artinya, sama sekali tidak ada pelarangan bagi wartawan yang meliput Lampung Fair di luar jadwal yang diberikan penyelenggara,” ujarnya.

Menurut Redaktur Lampung Post itu, praktik pemberian uang transportasi bagi jurnalis tidak dibenarkan. Praktik yang jamak disebut “amplop” tersebut melanggar Pasal 6 Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Pasal tersebut mengatur bahwa wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Pengertian suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang memengaruhi independensi.

“Apalagi, jika pemberian uang transportasi tersebut bertujuan agar pemberitaan Lampung Fair selalu positif. Padahal, KEJ mengharuskan wartawan bersikap independen, memberitakan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain,” kata dia.

Padli berpendapat, menerima pemberian dari narasumber termasuk pelanggaran berat karena melanggar KEJ. Publik diharapkan berperan serta dan mendorong agar kinerja pewarta makin profesional dengan tidak melakukan praktik pemberian uang kepada wartawan.

AJI juga mengimbau para jurnalis untuk terus konsisten menjalankan kode etik dan menjaga muruah profesi. Muruah profesi ini tetap terjaga bila pers kokoh melaksanakan kode etik. Berbagai cara menjaga kehormatan profesi jurnalis, di antaranya menegakkan prinsip-prinsip jurnalisme dan tidak meminta fasilitas kepada narasumber.

“Sebaiknya, pihak penyelanggara tidak perlu repot-repot mengatur jadwal wartawan dalam meliput Lampung Fair. Ini bukti bahwa penyelenggara tidak memahami kerja jurnalis. Kegiatan berskala nasional yang diikuti ratusan jurnalis saja tidak memerlukan penjadwalan media. Apalagi, hanya kegiatan yang sifatnya lokal dengan jumlah jurnalis yang terbatas,” kata Padli.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Polresta-Polda Lampung Ikut Nobar Film Jurnalisme AJI-Magister Komunikasi Unila

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kepolisian Daerah (Polda) Lampung dan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandar Lampung mengikuti acara …