OPINI ANSHORI DJAUSAL: Kemuarian, Kearifan Lokal Lampung Memperkuat Karakter Bangsa


Anshori Djausal | Budayawan Lampung

KEHIDUPAN sosial politik kita belakangan sudah terhanyut jauh oleh hiruk-pikuk atas nilai-nilai atau norma-norma yang asing, demokrasi kebablasan, hedonisme, konsumerisme, dan perilaku yang menghalalkan segala cara. Selain itu, hilangnya kepercayaan satu sama lain serta mengabaikan etika yang lazim.

Bahkan ada kekhawatiran akan rasa kebangsaan yang memudar. Misalnya, menipisnya patriotisme rasa cinta Tanah Air.

Akibat kondisi itu semua, banyak orang yang tersesat hingga akhirnya kehilangan jati dirinya. Jauh dari norma-norma yang sudah teruji mendamaikan kehidupan seseorang dan masyarakat. Tercerai dari nilai-nilai yang telah dimiliki bangsa ini sebelumnya yang merupakan kearifan lokal di masyarakat adat.

Korupsi dan kejahatan yang merajalela di berbagai tingkatan merupakan indikator tercerabutnya masyarakat dari nilai-nilai budayanya. Nilai budaya menjaga kehormatan, budaya malu berbuat buruk, dan nilai kebaikan lainnya yang menjadi dasar perilaku seseorang dalam bermasyarakat.

Masyarakat adat Lampung memiliki warisan sangat berharga berupa kearifan lokal nilai-nilai atau norma-norma bagi individu dan sosialnya. Nilai-nilai yang mencegah warga untuk berbuat buruk

Semua itu berawal dari sistem kekerabatan. Sistem yang tidak hanya menunjukkan hubungan seseorang dengan kerabatnya, tetapi juga dibarengi tugas fungsi dan tanggung jawab sebagai bagian dari kekerabatannya.

Sistem Muari

Bagi masyarakat Lampung, keluarga dan kerabat sangat penting sebagai bagian dari pembentukan karakter atau perilaku individu dalam kehidupan sosialnya. Lewat penguatan sistem kekerabatan (muari) yang diwariskan secara turun-temurun, masyarakat Lampung dapat ikut menguatkan karakter bangsa.

Hubungan kekerabatan atau ber-muari tersebut memiliki dampak penting dalam perilaku seseorang terhadap orang lainnya. Pada akhirnya hal itu membentuk karakter tersendiri bagi sistem sosial kemasyarakatan yang lebih luas.

Suatu keluarga tentu mempunyai karakter masing-masing. Karakter itu terbentuk melalui proses sosialisasi di dalam keluarga itu sendiri, proses penyaluran budaya turun-temurun kepada keturunan baru, maupun melalui nilai–nilai dan norma di dalam keluarga, serta budaya dari keluarga tersebut yang kemudian terbangun dalam kekerabatan yang lebih luas.

Hubungan antarsuku, konflik antarkelompok, masalah hubungan dengan pemerintah, dapat diselesaikan melalui titei gemattei dalam adat yang telah menjadi acuan bersama untuk keselarasan dan pemecahan masalah sosial kemasyarakatan.

Piil pasenggiri dengan empat pilarnya telah banyak dibahas dan menjadi acuan dalam memahami aspek budaya masyarakat Lampung. Selanjutnya, ini menjadi dasar utama dalam membangun karakter budaya dalam masyarakat.

Dengan semangat kemuarian, sekelik-kemuarian, dalam masyarakat Lampung yang plural saat ini dapat dibangun sebuah harmoni dengan karakter terbuka, saling menghargai, kesetaraan, dan kebersamaan dengan jaring kemuarian yang luas.

Selain untuk merawat nilai-nilai adat istiadat, menjaga kelestarian sistem adat dan kearifan lokal sekaligus merupakan upaya membangun masyarakat Lampung yang berkarakter.

Kemuarian atau sekelik telah menunjukkan perannya dalam membangun nilai kerukunan dalam masyarakat Lampung yang telah beragam saat ini. Kemuarian yang semula hanya dalam kekerabatan terbatas dalam satu tiyuh, pekon, dan marga berkembang dalam hubungan yang lebih luas antarkelompok-kelompok masyarakat.

Sekelik kemuarian tidak lagi sebatas sekelik ekam, saudara saya, tetapi menjadi saudara kita. Saudara setanah air, saudara sebangsa,

Semangat kemuarian.Sekelik gham, puwari.(*)

Disarikan dari makalah “Kemuarian sebagai Kekuatan Karakter Bangsa: Penguatan Budaya sebagai Karakter Bangsa)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI AHMAD SALEH DAVID FARANTO: Jembatan Timbang, Seberapa Gereget Tak Ada Pungli? (2-habis)

SELAMA kurun waktu beroperasinya jembatan timbang pada 2015, Ombudsman juga mencatat bahwa Dishub Lampung telah …