DIARY BUNDA FITRI: Menghapus Dendam


FITRI RESTIANA | Penulis, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

KITA tahu bahwa dendam adalah emosi negatif yang bisa meracuni hati, pikiran dan kesehatan. Menghindarinya terasa sulit manakala kita sedang dibalut amarah dan benci karena merasa disakiti, dibohongi atau dikhianati.

Rasanya ingin sekali meluapkan emosi kepada orang yang sudah membuat kita terluka. Apa dan bagaimanapun caranya. Tapi, tentu saja itu tidak boleh dilakukan.

Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar)”. (HR Muslim).

Naudzubillah, bisa dibayangkan seperti apa murkanya Allah kepada orang-orang yang memelihara dendam.

Saya mendapat pelajaran tentang bagaimana menghilangkan perasaan ini dari seorang perempuan hebat, Mama. Beliau berhasil membuang dendam dan menggantinya dengan ikhlas dan maaf.

Papa meninggal pada usia 42 tahun karena kecelakaan. Sepeda motor yang dikendarainya dihantam oleh truk saat beliau pulang dari kantor. Tersebab itu, Mama–seorang ibu rumah tangga–harus membesarkan tujuh anak yang masih piyik-piyik (1,3–12 tahun) dengan ‘pincang’.

Berat? Saya yakin iya. Tapi Mama memaknainya sebagai ujian, sebagai takdir yang tak bisa diganggu gugat. “Rezeki, jodoh dan mati, itu tak bisa dikotak-katik,” begitu kata Mama.

Memasuki masa remaja, kami mulai dihantui banyak pertanyaan disertai kemarahan.

“Ma, yang nabrak Papa itu ketahuan, nggak?”

“Kenapa enggak ditangkap?”

“Nanti kalau aku tahu, mau aku hajar dia!”

“Orang itu ngerasa bersalah nggak ya, Ma?”

“Pasti orang itu hidupnya menderita. Dia sudah jadi pembunuh!”

Mama enggak benci, marah atau dendam?”

Deretan pertanyaan yang dibarengi emosi itu berbentuk seperti gunung, menanjak, sampai puncak, namun kemudian turun perlahan. Itu karena Mama selalu mengulang jawaban yang sama sepanjang tahun. “Dendam nggak akan membuat kita lebih bahagia dan Papa hidup kembali.”

Sampai kami mengetahui bahwa ada saudara jauh yang kenal dengan orang yang menabrak Papa. Kami agak memaksa mama untuk mencari tahu orang tersebut.

Mama bergeming. Beliau hanya menggelengkan kepala. “Untuk apa? Mama sudah memaafkan orang itu beberapa hari setelah Papa meninggal.”

“Kami kesal, Ma. Penasaran!”

“Kalau kalian sudah tahu, terus mau apa? Mau marah-marah? Mau benci? Sudahlah, biar itu menjadi urusannya sama Allah. Bisa jadi selama ini hidupnya tak tenang. Atau bisa juga mungkin dia sudah bertobat. Ikhlas dan maafkan saja.”

Kami tak puas, tentu saja. Ada sesekali kami mengulang pertanyaan, sayangnya balasan mama selalu saja sama. “Untuk apa?”

Seiring waktu, kami mulai bisa mengerti apa makna kata ikhlas dan memaafkan. Bahwa dengan dua kata kunci itu, ternyata Mama mampu menjalani hari dengan tegar. Diterimanya semua ketetapan Allah tanpa keluh kesah, protes, kecewa, bahkan sekadar tanya sekalipun.

Selama ini Mama sudah menjalankan peran dengan sempurna. Mama selalu tahu kapan harus mendelik tajam, mengusap kepala, menjewer ujung telinga, hingga mengajak kami tertawa.

Mama bukan tipikal perempuan yang banyak berkata alias ngomel. Cukup menegur dengan intonasi penuh tekanan, menatap tajam, diam, maka ketujuh anaknya  mengerti bahwa Mama sedang marah atau terluka hati.

Kami  berusaha untuk tak mengulangi, tapi ternyata itu tak semudah kata-kata. Ada saja kelakuan kami yang bisa membuat Mama menarik napas panjang, walau terkadang berusaha ia sembunyikan.

Sampai kepulangan Mama pada 2008, beliau tak pernah memberitahu siapa yang menabrak papa. Jauh sebelum itu kami tak pernah bertanya lagi. Bukan tak peduli, tapi hanya ingin mengabulkan permintaan Mama agar kami ikhlas dan belajar memaafkan.

Beberapa hari lalu, entah kenapa tiba-tiba penasaran saya muncul lagi. Saya bertanya kepada salah seorang kakak dan ini jawabannya. “Mama pernah cerita, seorang ibu (saudara dari saudara sekampungnya Papa) ketemu di pasar dan bilang kalau yang nabrak Papa itu orangnya sekarang sakit-sakitan. Beliau mengusulkan agar Mama bertanya ke si B. Tiga hari setelah itu, si ibu meninggal. Belum sempat mama bertanya ke B (dan sepertinya Mama tak menganggapnya terlalu penting), si B juga berpulang. Qadarullah.”

“Apa kata Mama?” desak saya lagi.

“Tak ada. Sama seperti jawaban yang dulu-dulu. Biarlah itu menjadi urusannya dengan Allah. Kita hanya bisa ikhlas dan memaafkan. Kalian tahu, banyak pelajaran yang bisa dipetik dengan berpulangnya Papa. Bisa jadi kalau Papa masih ada, kalian akan manja, aleman, tak tahu apa arti perjuangan, lebih menghargai hasil daripada proses, nggak tangguh, dan tak mau belajar mandiri. Bisa jadi, kan?” demikian kakak mengulangi jawaban Mama.

Case closed.

Kami jadi mengerti, bahwa dendam akan membuat luka semakin menganga. Maka sejatinya ikhlas dan maaf adalah terapi yang akan membuat luka itu sembuh dan berubah wujud menjadi berkah sekaligus sebentuk ujian yang harus dihadapi dengan penuh rasa syukur.

Mama dan Papa, dalam tidur panjang kalian, kami selalu menyertakan doa agar kelak kita dipertemukan di jannah sang Pemilik Semesta. Aamiin.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI AHMAD SALEH DAVID FARANTO: ASN Koruptor dan Peran PPK (2-habis)

PEGAWAI negeri sipil dapat diaktifkan kembali jika terdapat lowongan jabatan. Bila tidak terdapat lowongan paling …