Hebat, 2 Penyair Lampung Masuk 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018


5 BESAR Kusala Sastra Katulistiwa 2018 kategori Puisi | ist

JAKARTA, duajurai.co – Kabar gembira datang dari Jakarta. Dua penyair senior Lampung lewat karya masing-masing masuk dalam 5 besar Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 untuk kategori Puisi.

Keduanya ialah Ahmad Yulden Erwin lewat karyanya Perawi Rempah dan Ari Pahala Hutabarat dengan puisinya Rekaman Terakhir Beckett.

Selain kategori Puisi, penghargaan bergengsi di dunia kesusastraan Indonesia tersebut juga diberikan untuk kategori Prosa dan kategori Karya Pertama atau Kedua.

Daftar 5 besar nominasi gelaran ke-18 tersebut diumumkan hari ini melalui akun media sosial resmi Richard Oh, salah satu pendiri Kusala Sastra Khatulistiwa.

“5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke 18. Malam Anugerah KSK tgl 10 Okt jam 7pm di Plaza Senayan. Terbuka untuk semua,” tulis @RichardOh di media sosialnya.

Di kategori Puisi, puisi Ahmad Yulden Erwin dan Ari Pahala Hutabarat bersaing dengan tiga puisi lainnya yakni Museum Masa Kecil karya Avianti Armand, Batu Ibu (Warih Wisatsana), dan Manurrung (Faisal Oddang).

Erwin dan Ari Pahala merupakan dua penyair terkemuka di Lampung. Kepenyairan keduanya tumbuh dan berkembang di wadah yang sama yakni Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung.

Merujuk Wikipedia, Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) adalah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki. Ajang ini pertama digelar pada 2001.

Awalnya bernama Khatulistiwa Literary Award, sejak 2014 berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Pemenang KSK didasarkan kepada buku-buku puisi dan prosa yang terbit dalam kurun 12 bulan terakhir dan kemudian diseleksi secara ketat oleh dewan juri.

Selama 17 tahun, KSK berkembang berkat masukan dari berbagai pihak di komunitas sastra Indonesia. Sejak awal didirikan, KSK dirancang sebagai anugerah sastra dari komunitas sastra untuk para penulis.

Oleh karena itu, berbagai format penyeleksian dan penentuan dikembangkan agar KSK tetap bertahan sebagai sebuah anugerah yang mencerminkan kehendak kebanyakan orang dalam komunitas sastra.

Sejumlah nama besar di dunia sastra Indonesia pernah meraih KSK. Mereka antara lain Goenawan Mohamad (2001), Remy Sylado (2002), Hamsad Rangkuti (2003), Sapardi Djoko Damono (2004), Linda Christanty (2004, 2010), Seno Gumira Ajidarma (2004, 2005), Joko Pinurbo (2005, 2015).

Kemudian, Gus tf Sakai (2007), Acep Zamzam Noor (2007), Nirwan Dewanto (2008, 2011), Ayu Utami (2008), F Rahardi (2009), Leila S Chudori (2013), Afrizal Malna (2013), Dorothea Rosa Herliany (2015), dan Yusi Avianto Pareanom (2016).

Berikut daftar lengkap 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-18 tahun 2108

Kategori Prosa

  • Kura-kura Berjanggut – Azhari Aiyub
  • Tiba Sebelum Berangkat – Faisal Oddang
  • Gentayangan – Intan Paramaditha
  • Laut Bercerita – Leila S Chudori
  • Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom

Kategori Puisi

  • Museum Masa Kecil – Avianti Armand
  • Perawi Rempah – Ahmad Yulden Erwin
  • Batu Ibu – Warih Wisatsana
  • Manurrung – Faisal Oddang
  • Rekaman Terakhir Beckett – Ari Pahala Hutabarat

Kategori Karya Pertama atau Kedua

  • Ibu Susu – Rio Johan
  • Manifesto Flora – Cyntha Hariadi
  • Ovulasi yang Gagal – Putu Vivi Lestari
  • Buku Panduan Matematika Terapan – Triskaidekaman
  • Cuaca Buruk Sebuah Puisi – Ibe S Palogai.(*)

Komentar

Komentar

Check Also

Libur Akhir Tahun, Pulau Tegal Mas Tawarkan Paket Wisata Mulai Rp80 Ribu

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pengelola Pulau Tegal Mas menawarkan paket wisata bagi Anda yang ingin menikmati libur …