OPINI IB ILHAM MALIK: Prinsip New Urbanism dalam Perencanaan Kota


IB Ilham Malik | Peneliti Pusat Studi Kota dan Daerah (PSKD) Universitas Bandar Lampung (UBL)

Menurut catatan Michigan Land Use Institute, setidaknya ada 10 prinsip new urbanism yang mungkin harus diadopsi setiap merencanakan suatu kota, baik kota baru maupun kota yang mau diperbaharui.

Sepuluh prinsip itu ialah sebagai berikut:

1. Walkability. Maksudnya adalah sebaiknya kota dirancang agar warganya bisa banyak berjalan kaki. Apa pun konsepnya.

2. Connectivity. Maksudnya, antara suatu ruang kegiatan warga dengan ruang kegiatan lainnya terhubung satu sama lain. Bisa dihubungkan dengan berjalan kaki dan fasilitas angkutan umum.

3. Mixed-use and diversity. Maksudnya, suatu kawasan harus memiliki banyak fungsi. Ada permukiman, ada sekolah, ada fasilitas kesehatan, rekreasi, shopping/pasar, perkantoran, dan sebagainya.

Lebar kawasan bisa diatur nantinya. Tetapi, kawasan yang bisa diakses dengan berjalan kaki dan angkutan umum harus diupayakan memiliki fungsi yang banyak.

4. Mixed housing. Maksudnya, semua tipe rumah ada dalam kawasan. Permukiman dengan tipe campur. Jadi, tidak grup-grupan yang mengakibatkan munculnya kesenjangan, ketimpangan, atau alienasi. Model ini juga bikin suasana jadi tidak monoton/membosankan.

5. Quality architecture and urban design. Maksudnya, tiap jengkal ruang kota harusnya by design dengan kualitas tinggi. Di sinilah peran arsitek dan civil engineer dalam merancang dan membangun kota. Kenyamanan, keindahan, kecantikan ruang, dan estetika, juga etika, dipegang kuat dalam setiap perancangan kota dan bangunan yang ada di dalamnya.

6. Traditional neighborhood structure. Maksudnya, suatu kawasan permukiman harus memastikan konsep bertetangga bisa berjalan dengan baik. Bangunan padat boleh-boleh saja tetapi harus ada ruang berinteraksi antarwarga sehari-hari.

Sederhananya, ruang dibangun a la kampung kita dulu lah. Hal ini terkait dengan interaksi dan berinteraksi. Ini penting sekali bagi kenyamanan warga kota.

7. Increased density. Maksudnya, suatu ruang kota harus memiliki kepadatan yang tinggi. Makanya konsep bangunannya menjadi vertikal. Tujuannya supaya warga dapat tetap berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum untuk menuju ruang-ruang kegiatan dalam kota.

Bahasa sederhananya adalah compact city. Kalau dia menjadi sprawl, menyebar, gepeng, maka hasilnya adalah peningkatan penggunaan lahan untuk bangunan dan akhirnya car dependent menjadi tinggi. Kondisi ini seperti yang terjadi di banyak kota, termasuk Bandar Lampung dan Metro.

8. Smart transportation. Ini penting. Untuk menghubungkan setiap ruang kota yang semakin hari semakin membesar seiring peningkatan jumlah penduduk, dibutuhkan transportasi yang cerdas, hemat, dan aman.

Fasilitas pejalan kaki dilengkapi dengan jalur sepeda, sepatu roda, skuter, dan sebagainya sehingga mendorong masyarakat untuk bergerak setiap hari. Tentu saja ini sehat bagi warga dan hemat bagi kota.

9. Sustainability. Maksudnya adalah setiap pembangunan dan aktivitas apa pun yang dirancang dan ada di dalam kota harus dipastikan ramah terhadap lingkungan. Apa pun bentuknya.

10. Quality of life. Desain kota dan arsitektur bangunan di dalamnya harus dapat meningkatkan kualitas hidup setiap warga kota. Membuat mereka menjadi lebih ramah, bersahabat, sehat, kuat, solidaritas tinggi, beretika tinggi, dan sebagainya.

Makanya menjadi engineer itu bebannya besar sekali. Seperti namanya, civil engineering, merekayasa sosial dari sisi teknis, yang dibuat menjadi humanis dengan arch(itecture).

Ya tentu saja, semua ini harus ada dalam setiap rancangan kota dan bangunan di dalamnya. Jika setiap perencana dan pengambil kebijakan sudah meresapi prinsip-prinsip ini, maka bisa jadi beberapa puluh tahun yang akan datang, kota yang dirancang dan dibangun dengan guide ini akan menjadi kota ternyaman di seluruh dunia.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Dampak Permenristekdikti 55/2018 di Lingkungan Kampus

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung LAHIRNYA Peraturan Menristekdikti …