OPINI ANDI DESFIANDI: Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia


Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung

KENAIKAN harga minyak dunia, kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang terus-menerus menaikkan suku bunga The Fed, juga perang dagang yang dilancarkan negeri Paman Sam ke beberapa negara telah memanaskan ekonomi dunia.

Beberapa hal tersebut merupakan bagian dari kebijakan “America First” yang dicanangkan oleh Presiden Donald Trump untuk menyelamatkan ekonomi domestik Amerika yang terus menurun sejak dekade terakhir.

Salah satu permasalahan ekonomi Amerika adalah defisit transaksi perdagangan yang mencapai 500 miliar USD. Ini yang membiuat Trump memberlakukan kenaikan tarif impor tinggi bagi negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia, yang selama ini mengalami surplus perdagangan dengan Amerika. Bahkan defisit perdagangan Amerika terhadap Cina nilainya hampir 390 miliar USD, sementara dengan Uni Eropa sekitar 150 miliar USD.

Kebijakan kenaikan suku bunga The Fed juga semakin memanaskan suhu ekonomi dunia di mana dana-dana Amerika yang selama ini diparkir dan diinvestasikan di luar negeri secara bergelombang masuk kembali karena suku bunga mereka yang semakin tinggi. Dollar kemudian menjadi langka di mayoritas negara dunia dan semakin memperkuat nilai tukarnya.

Harga minyak dunia yang terus meningkat semakin menambah genap kesuliitan ekonomi dunia. Pada akhirnya keseluruhan penyebab tersebut menjadikan harga produk menjadi tinggi karena biaya produksi dan bahan baku juga masih impor.

Seluruh dunia memang saling terkoneksi satu dengan lainnya sehingga sakitnya negara lain akan mempengaruhi negara lainnya. Amerika juga belum tentu bisa bertahan dan berkeras dengan kebijakannya karena ekonomi domestiknya juga akan terdampak akibat negara-negara lain juga membalas perang dagang mereka.

Apa yang terjadi di Turki bisa saja akan terjadi di negara lain, termasuk Indonesia. Walaupun fundamental ekonomi kita relatif jauh lebih baik daripada Turki namun tidak ada salahnya kita juga lebih bersiap.

Pertanyaannya kemudian, apa yang harus dilakukan Indonesia agar bisa bertahan dan sebisanya mengambil keuntungan dari kemungkinan krisis ekonomi yang bisa saja lebih buruk dari tahun 2008?

Menurut pendapat saya ada beberapa hal yang harus dilakukan:

  1. Mencari mitra dagang baru selain Amerika, misalnya dengan negara yang mata uangnya melemah terhadap dollar dengan menggunakan “currency basket” selain dollar.
  2. Mengurangi impor nonproduktif serta meningkatkan ekspor untuk terhindar dari defisit neraca perdagangan.
  3. Menambah portofolio pinjaman dalam negeri dengan mata uang rupiah. Hal ini dengan meminta BUMN, korporasi swasta atau lembaga dalam negeri untuk berinvestasi di obligasi pemerintah.
  4. Menunda proyek-proyek strategis nasional yang menggunakan bahan baku utama impor, misalnya pembangkit listrik yang menggunakan turbin impor.
  5. Meminta masyarakat dan korporasi untuk menjual dollarnya.
  6. BI membatasi pinjaman dollar baik pemerintah maupun swasta.
  7. BI menaikkan suku bunga acuannya.
  8. Pemerintah segera mengeluarkan deregulasi moneter dan fiskal, termasuk kemudahan usaha terutama produk-produk yang berbahan baku lokal.
  9. Pemerintah dan masyarakat membeli produk-produk lokal.
  10. Meningkatkan devisa negara dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
  11. Mendorong industrialisasi berbahan baku lokal, terutama industrialisasi desa dalam memperkuat ekonomi domestik dan percepatan pemerataan ekonomi. Hal ini bisa melalui dana desa dan insentif lainnya yang sudah diberikan pemerintah.
  12. Meningkatkan dana jaring pengaman sosial dari dana penundaan beberapa proyek strategis, sekaligus untuk dana insentif produktif masyarakat.
    Silakan ditambah lagi yang lainnya.

Semoga perekonomian dunia segera mendingin dan Indonesia mampu mengambil momentum tersebut untuk keuntungan bangsa dan negara. Bagi politikus dan pendukungnya mari beretika untuk tidak memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan politik.

Kita semua sebenarnya paham bahwa tidak ada satu pun yang mampu melakukan “simsalabim” untuk membalikkan keadaan dalam satu malam. Belum tentu lebih baik apabila ditangani oleh siapa pun termasuk yang suka teriak-teriak menghujat dan menyalahkan.

Mari berfikir dan bertindak rasional demi bangsa dan negara. Mari kita bela bangsa ini dengan setidaknya berpikir dan bertindak positif, serta tidak ikut memperkeruh keadaan. Wallahualam.(*)

 


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Dampak Permenristekdikti 55/2018 di Lingkungan Kampus

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung LAHIRNYA Peraturan Menristekdikti …