DIARY BUNDA FITRI: Mengatasi Tantrum dengan Tersenyum


FITRI RESTIANA | Penulis, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

 TAK terhitung berapa kali Ibu Riani harus menghadapi perilaku marah-marah anaknya yang berusia 4 tahun, Dodi. Semenjak tiga bulan lalu, ada saja yang membuat Dodi marah-marah berlebihan.

Misalnya, ketika permennya meleleh di dalam tas, dia menangis sejadi-jadinya. Ibu Riani menawarkan permen lain yang warna dan rasanya hampir sama. Tawaran itu ditolak, malah dia menendang sang ibu.

Kali berikutnya, Dodi mengguling-gulingkan tubuhnya di pasar ketika ibunya tak mau membelikan robot-robotan. Belum lagi ketika Dodi memukul temannya saat tanpa sengaja sang teman menabrak badannya.

Ibunya benar-benar kewalahan menghadapi sikap Dodi. Padahal, saat normal, Dodi anak yang baik dan ramah.

Bunda Dian juga mengalami hal serupa. Beliau memiliki anak perempuan yang sehari-harinya bersikap manis dan menggemaskan.

Namun ketika kemauannya tidak dituruti, dia berubah menjadi anak yang ‘mengerikan’. Berteriak, menangis, memukul, menendang bahkan pernah membenturkan kepalanya ke dinding!

Bunda Dian jadi naik pitam dan mencubit anaknya bertubi-tubi. Bukannya diam dan takut, teriakan sang anak malah semakin keras, beriringan dengan tangisan Bunda Dian yang merasa gagal menghadapi ‘kehebohan’ putri semata wayangnya.

****

TANTRUM. Begitulah sebutannya. Suatu perilaku marah anak usia balita yang diungkapkan dengan menangis heboh dan terkadang menyakiti, baik diri sendiri maupun pihak lain di sekitarnya.

Mereka biasanya akan semakin marah jika mendengar penolakan atau kata ‘tidak’ atas apa yang diinginkannya. Ketika orangtua atau anggota keluarga yang lain menanggapi dengan sikap kasar dan bahkan sampai balas memukul, maka kerap terjadi pertengkaran yang luar biasa.

Biasanya, dalam situasi tersebut sejumlah orangtua akan menyerah karena kasihan, malu, atau kesal. Orangtua tidak menyadari, bahwa dengan sikap permisif seperti itu, anak akan ‘melegalkan’ perilakunya dan mengulangi jika keinginannya tidak terpenuhi.

Alih-alih ingin membahagiakan anak, orangtua malah mengajarkan anak untuk bersikap kasar dan selalu memaksa keinginan pribadi tanpa memperhitungkan keberadaan orang lain di sekitarnya. Jika ini dibiarkan, bukankah orangtua yang akan merasakan dampaknya di kemudian hari, saat anak-anak bertumbuh menjadi manusia dewasa?

Sebelum tantrum anak membuat orangtua naik pitam dan ikut-ikutan marah, pahami bahwa ternyata tantrum memiliki sisi positif. Tantrum membantu anak menghadapi perasaan frustasi dan mengungkapkan perasaan betapa marahnya dia.

Tantrum juga memberi kesempatan kepada orangtua untuk berlatih sabar dan mengajarkan anak bagaimana mengatur emosi yang baik. Caranya dengan membicarakan perasaannya setelah tantrum usai.

****

Lalu apa yang dapat dilakukan orangtua saat tantrum mendera sang buah hati? Berikut ini beberapa kiat yang patut dicoba.

  1. Usahakan jangan memancing kemarahannya.
  2. Namun apabila sudah terjadi, tetaplah tenang. Jangan terpancing emosi dengan memukul atau mengomel. Lebih baik menarik napas sambil terus istigfar.
  3. Singkirkan barang-barang yang bisa membahayakan dirinya dan pihak lain. Kalau ada adik dan binatang peliharaan, jauhkan dari jangkauan anak. Saat tantrum anak bisa melakukan apa saja tanpa berpikir panjang.
  4. Jangan membujuk dengan mengiming-imingi akan mengabulkan kemauannya jika tangisannya reda. Ini akan menanamkan pemahaman bahwa dengan mengamuk maka segalanya inginnya akan tercapai.
  5. Apabila terlihat gelagat yang membahayakan, segera peluk anak atau pindahkan ia ke tempat yang lebih aman. Walaupun sudah tenang dan tetap melanjutkan kegiatan seperti biasanya, orangtua tetap tidak boleh lengah dan cuek.
  6. Untuk mengatasi anak yang tantrum di luar rumah, misalnya di pasar atau tempat umum, jelaskan perlahan sambil melakukan kontak mata. Jika belum berhasil, bersikaplah biasa dan katakan bahwa akan pulang dan tidur di rumah.
  7. Jika anak sudah tenang, beri dia pelukan dan pujian. Jelaskan bahwa marah itu tidak mengapa asal jangan berlebihan. Lalu berikan alasan mengapa kemauannya belum bisa dipenuhi.

Dengan tetap mengingat kebaikan tantrum dan mengatasinya berdasarkan kiat-kiat di atas, semoga orangtua dapat berlaku bijak mengatasi anak tantrum. Mungkin perlu juga suatu waktu bertanya kepada orangtua kita, apakah kita juga pernah tantrum ketika masih kecil.

Biasanya dengan mengingat perilaku dan kejahilan masa kecil, akan membantu kita mengatasi beragam perilaku anak. Selamat menikmati tantrum sambil tetap tersenyum.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Musim Hujan, Banjir, dan Pencemaran Sungai

MUSIM hujan mulai datang. Beberapa tempat pun mengalami banjir, meski skalanya masih kecil. Hanya banjir …