OPINI IB ILHAM MALIK: Tantangan Kepariwisataan di Lampung


IB Ilham Malik | Peneliti Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah di Pusat Studi Kota dan Daerah (PSKD) Universitas Bandar Lampung (UBL)

PERKEMBANGAN sektor pariwisata di Lampung dapat ditunjukkan melalui tiga hal yaitu:

  1. Jumlah wisatawan
  2. Jumlah kamar hotel
  3. Tingkat hunian

Karena itu, kami ingin menunjukkan positioning industri perhotelan di Provinsi Lampung sebagai bahan evaluasi awal terkait program pembangunan sektor pariwisata yang selama beberapa tahun ini menjadi salah satu program strategis kabupaten/kota di Bumi Ruwa Jurai.

Dari data yang ada, setidaknya ada enam kelompok daerah berdasarkan kepada ketersediaan fasilitas wisata berupa kamar hotel.

  • Kelompok 1 : Bandar Lampung
  • Kelompok 2: Tulangbawang (Tuba), Pesisir Barat (Pesibar), dan Lampung Selatan (Lamsel)
  • Kelompok 3 : Lampung Utara (Lampura) dan Lampung Tengah (Lamteng)
  • Kelompok 4 : Metro dan Lampung Barat (Lambar)
  • Kelompok 5 : Pringsewu, Lampung Timur (Lamtim) dan Tanggamus
  • Kelompok 6 : Mesuji, Tulangbawang Barat (Tubaba) dan Way Kanan.

Perhotelan terdiri dari 3 jenis yaitu hotel berbintang, hotel melati, dan akomodasi lainnya. Sejak munculnya berbagai jenis jasa penyediaan akomodasi secara online, sekarang semakin banyak turunan jenis hotel.

Berbagai hotel dimaksud dilengkapi berbagai jenis fasilitas pendukung. Tetapi secara formal, hotel tetap terbagi menjadi tiga seperti yang disampaikan sebelumnya.

Beberapa kabupaten di Lampung perlu memberikan perhatian kepada program dan kegiatan yang mereka susun di sektor pariwisata. Saat ini, ada ketimpangan antara “potensi” pariwisata yang mereka miliki dan ketersediaan fasilitas akomodasi di daerahnya.

Satu di antaranya adalah fasilitas kamar hotel. Ketimpangan ini menunjukkan positioning perkembangan sektor pariwisata di daerah tersebut.

Dibutuhkan kejelian dan kehati-hatian dalam menyusun program pengembangan sektor pariwisata. Di antaranya ialah peraturan, kebijakan perizinan, program pembangunan (fisik dan nonfisik) untuk sektor pendukung, keamanan serta kenyamanan yang perlu mendapatkan perhatian.

Kesemuanya harus dapat disusun secara detail. Namun, justru menyusun program secara detail seringkali menjadi masalah. Hal ini yang harus dapat dipecahkan oleh birokrasi.

Daerah yang masuk dalam kelompok 4, 5 dan 6 perlu mengevaluasi seluruh program kepariwisataan yang mereka miliki. Jika memang daerah mereka memiliki objek pariwisata, kenapa tidak ada pengunjungnya?

Selain itu, kenapa tidak muncul investasi perhotelan? Bahkan ada kecenderungan, hotel yang sudah ada mengalami kebangkrutan.

Tentu ada banyak reasons pada setiap peristiwa dalam perkembangan kepariwisataan di Lampung. Reasons itu lah yang perlu mendapat perhatian oleh pihak yang berkompeten dan memiliki tanggung jawab.

Dengan begitu, gap antara impian, potensi, dan realitas dapat dipersempit. Jika hal itu dapat terselesaikan, maka pengembangan pariwisata Lampung sudah semakin dekat dengan rel pengembangan yang benar.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIARY BUNDA FITRI: Menghapus Dendam

FITRI RESTIANA | Penulis, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id KITA tahu bahwa dendam adalah emosi negatif yang …