OPINI ANDI DESFIANDI: Jalan Pertamina Menuju Perusahaan Kelas Dunia


Andi Desfiandi | Humas IBI Darmajaya

DR H ANDI DESFIANDI SE MA | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin, mantan Rektor IIB Darmajaya Lampung

PERTAMINA memiliki 21 anak perusahaan dengan berbagai jenis usaha mulai dari upstream, midstream, downstream minyak & gas, property hingga ke pesawat charter. PGN juga memiliki sekitar 9 anak perusahaan yang juga beragam jenis usahanya mulai dari upstream, midstream, downstream gas hingga telekomunikasi.

Patut diduga bagaimana tata kelola korporasi dari kedua BUMN yang kurang sinergis dan terkesan tumpang tindih serta spand of control dari pemegang kendali saham yang kurang terstruktur dan sistimatis. Sehingga terjadi kurang efisien, efektifnya dan optimalnya kinerja perseroan walaupun secara umum kinerja keuangan dari seluruh perusahaan dan anak-anak perusahaan masih cukup positif.

Mari kita lihat perusahaan sejenis di tetangga kita yaitu Petronas yang dimiliki oleh negara jiran Malaysia.
Petronas adalah perusahaan induk (holding) migas milik negara Malaysia yang memiliki lebih dari 100 anak perusahaan yang juga sangat beragam jenis usahanya dengan beberapa subholding yang membawahi anak-anak perusahaan yang sejenis.

Pendapatan Petronas di tahun 2017 mencapai US$ 52 milyar dengan laba bersih US$ 8.7 milyar dengan menempati rangking 191 Top 500 perusahaan terbesar didunia (Fortune 500). Bandingkan dengan Pertamina yang menempati rangking 253 dengan pendapatan US$ 43 milyar dan laba bersih US$ 2.5 milyar di tahun 2017.

Sebagian dari kita ada yang mengatakan kapan Pertamina bisa mengalahkan Petronas karena seharusnya Pertamina bisa lebih baik dengan segala macam alasan. Dan pastinya tidak akan mungkin terjadi apabila pengelolaan dan aksi korporasi yang dilakukan hanya biasa-biasa saja seperti dulu (Business as usual).

Harus ada aksi luar biasa yang out of the box seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa di dunia yaitu melalui “Corporate Restructuring” termasuk yang dilakukan oleh Petronas terlebih dahulu.

Jalan singkat untuk melakukan “transformasi bisnis” adalah melalui “rekayasa proses bisnis” atau dengan “corporates restructuring” secara komprehensif dan terpadu apabila melibatkan banyak entitas perusahaan. Ada beberapa model yang umum dilakukan oleh korporasi dalam melaksanakannya dan itu tergantung dari berbagai tujuan dan juga kompleksitas yang dihadapi dalam aksi tersebut. Namun saya mencoba untuk menterjemahkan rencana pemerintah yang akan dan sedang dilakukan dalam melakukan aksi korporasi atau “corporates restrcturing” untuk menjadikan Pertamina bukan saja menjadi lebih sehat tapi juga mampu mengalahkan Petronas di level dunia.

Salah satu terobosan (breakthrough) adalah dengan menjadikan Pertamina sebagai “Holding company” dengan memiliki beberapa subholding yang membawahi masing-masing anak perusahaan yang sejenis. Tujuannya agar Pertamina menjadi pemegang saham utama dari seluruh perusahaan migas maupun anak-anak perusahaan lainnya, yang selama ini berbeda entitas dan kepemilikannya di sisi legalitas dan akunting/keuangan perusahaan.

Sehingga setelah Pertamina menjadi induk perusahaan secara keseluruhan maka laporan keuangan dari seluruh anak perusahaan dan subholding yang dimiliki sahamnya secara mayoritas bisa dikonsolidasikan. Artinya seluruh aset maupun pendapatan anak-anak perusahaan bisa diakui sebagai aset dan pendapatan Pertamina sebagai holding.

Maka bisa dibayangkan apabila aset Pertamina dan juga PGN disatukan maka nilainya akan semakin besar dan belum lagi nilai tambah lainnya yang juga akan meningkat akibat terciptanya “value creation” dari aksi korporasi tersebut.

Dengan terbentuknya “holding migas” tersebut maka seluruh aktifitas dari perusahaan-perusahaan migas tersebut bisa lebih sinergis dan mudah diawasi, duplikasi investasi dan biaya operasional akan bisa ditekan, akan memudahkan dalam pembiayaan dan juga ekspansi dan sebagainya.

Sehingga efektifitas dan efisiensi bisnis BUMN migas akan bisa lebih mudah tercapai , sehingga akan juga lebih cepat dan mudah mengalahkan Petronas. Tahapan aksi korporasi tersebut sudah dimulai beberapa waktu lalu dengan pengalihan saham mayoritas pemerintah di PGN ke Pertamina (imbreng). Disusul dengan rencana akuisisi 51% saham Pertagas oleh PGN yang sempat viral dengan segala isu yang mengemuka di publik. Padahal aksi tersebut sebenarnya adalah bagian dari rencana pemerintah untuk membentuk “Holding” migas yang akan memperkuat strukur modal dan size “Holding” tersebut.

Apalagi kalau pembentukan “Holding migas” dirubah menjadi pembentukan “Holding Energy” sehingga Pertamina atau BUMN apapun yg menjadi holding akan seketika menjadi raksasa perusahaan didunia dan bisa langsung mengalahkan Petronas disaat pembentukannya.

Apabila yang dibentuk “Holding Energy” maka bukan hanya bisnis Migas tapi juga BUMN dibidang Energi seperti PT. Bukit Asam termasuk PLN akan berada dalam satu induk perusahaan tersebut. Sehingga aset dan pendapatan atau sizeHolding Company” BUMN Energy tersebut akan menjadi sangat tinggi dan bisa mengalahkan Petronas.

Kewajiban pemerintah sebenarnya adalah meyakinkan masyarakat bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kepentingan serta keuntungan negara dan rakyat Indonesia, dan seluruh prosesnya transparan dan akuntable serta tidak melanggar UU.

Kepada karyawan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam aksi korporasi tersebut diyakinkan tidak merugikan mereka juga tidak akan ada PHK bahkan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka apabila aksi korporasi tersebut berhasil dilaksanakan.

Begitu juga dengan DPR dan terutama parpol oposisi perlu juga disampaikan dengan transparan serta meyakinkan bahwa aksi korporasi tersebut memang untuk kemaslahatan bangsa dan negara bukan “pencitraan” apalagi “menjual aset negara” seperti yang dituduhkan dan dihembuskan mereka. Karena sekali lagi aksi korporasi yang akan dan sedang dilakukan tersebut memang sudah umum alias biasa dilakukan oleh perusahaan manapum di dunia baik murni, swasta maupun milik negara.

Pilihan ada ditangan kita semua apakah kita akan mendukung rencana yang baik atau hanya menjadi penghalang perubahan menuju kebaikan bangsa dan negara.

Bagi pemerintah silahkan saja menimbang dan mengkaji dengan sebaiknya mana yang terbaik strategi “corporate restructuring” yang akan dilakukan? Apakah cukup membentuk 2 holding migas yaitu holding hulu dan hilir, atau membentuk 1 holding migas dengan beberapa subholding, atau sekaligus kepalang tanggung membentuk satu “Holding Energy” dengan beberapa subholding. Kalau ditanyakan ke saya, maka saya akan menjawab sekalian saja bentuk “Holding Enegy” dan beberapa subholding..hehehe tapi sabar ya karena semuanya perlu proses yang prudent, karena ini bukan sim salabim atau abrakadabra..
Wallahualam.

Tulisan ini adalah sambungan atau berhubungan dengan 2 tulisan terdahulu “Tsunami kecil ekonomi & buah simalakama” dan “Rencana petrogas diakuisisi PGN, untung atau rugi”.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Musim Hujan, Banjir, dan Pencemaran Sungai

MUSIM hujan mulai datang. Beberapa tempat pun mengalami banjir, meski skalanya masih kecil. Hanya banjir …