OPINI ANDI DESFIANDI: Menimbang Rencana Akuisisi Pertagas oleh PGN


DR H ANDI DESFIANDI SE MA | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin, mantan Rektor IIB Darmajaya Lampung

PEMERINTAH berniat membentuk holding (perusahaan induk) bidang minyak dan gas (migas). Pertamina diproyeksikan menjadi induk BUMN sektor migas yang khusus menangani upstream hingga midstream (hulu). Sementara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk alias PGN bakal menjadi induk dari BUMN migas yang cakupannya midstream hingga downstream (hilir).

Kita tahu, selain PGN, ada Pertagas yang juga merupakan BUMN dengan garapan sektor gas dari midstream ke downstream. Pertagas merupakan anak perusahaan Pertamina. Sedangkan PGN adalah BUMN yang sudah go public dengan saham mayoritas dimiliki negara.

Rencana akuisisi saham Pertagas oleh PGN patut diduga merupakan bagian dari rencana pembentukan holding migas. Selanjutnya akan dilakukan merger agar memudahkan aksi korporasi PGN ke depannya. Akuisisi saham Pertagas menandai dimulainya corporate restructuring di tubuh BUMN sektor migas.

Pertanyaannya kemudian, apa untung dan ruginya aksi korporasi tersebut? Atau, apa maksud dan tujuan utama corporate restructuring yang dalam hal ini adalah akuisisi saham Pertagas?

Dalam teori merger and aquisition, hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan keuntungan, baik dalam sisi laba, modal, economic of scale, pendapatan yang lbh besar, cost efficiency, dan sebagainya.

Akuisisi yang akan dilakukan oleh PGN termasuk dalam kategori akuisisi horizontal yakni jenis usahanya sama. Dengan begitu apabila saham mayoritas Pertagas diambil alih PGN, maka laporan keuangannya bisa dikonsolidasi. Selanjutnya, PGN memiliki kontrol terhadap pengelolaan Pertagas.

Ketika akuisisi terjadi, PGN maupun Pertagas bisa menghemat biaya infrastruktur pipa gas, termasuk biaya operasionalnya. Pasalnya, selama ini masing-masing membangun dan mengelola infrastruktur hilir dengan biaya sangat mahal.

Keuntungan lain, biaya operasional akan semakin rendah. Struktur modal akan semakin kuat karena dapat dikonsolidasikan. Selanjutnya, pendapatan usaha semakin meningkat karena penggabungan, biaya investasi lebih rendah karena tidak ada lagi duplikasi, penghematan biaya pajak, dan sebagainya.

Lalu benefit apa yang didapat Pertamina sebagai induk perusahaan Pertagas? Tentu yang sudah pasti adalah fresh money dari penjualan 51% saham yang nilainya sekitar Rp16 triliun.

Pertamina juga terhindar dari rencana capex untuk tambahan infrastruktur Pertagas yang sudah dianggarkan ratusan juta, bahkan miliaran dollar dollar AS. Karenanya, Pertamina akan lebih sehat keuangannya karena mendapatkan tambahan modal cukup besar untuk memperbaiki kinerjanya.

Akuisisi Pertagas sebenarnya merupakan corporate restructuring yang akan menjadi solusi bagi Pertamina, juga PGN, termasuk Pertagas, hanya dengan sekali aksi korporasi.

Namun yang menjadi masalah adalah soal organisasi. Seperti lazimnya, merger yang kelak dilakukan akan berakibat kepada downsizing organization. Artinya, kemungkinan besar terjadi PHK–karena memang tujuan akuisisi dan merger salah satunya adalah efisiensi.

Karena itu, dibutuhkan kebijakan PGN dan Pertamina terhadap keberlanjutan nasib karyawan Pertagas dari bayang-bayang PHK pada masa depan. Apakah PGN dan Pertamina, misalnya, juga sudah merencanakan aksi korporasi lainnya dengan rencana diversifikasi, atau memberi jaminan bahwa aksi korporasi yang akan dilakukan pemerintah tidak akan merugikan karyawan.

Yang perlu juga diperhatikan, tahapan corporate restructuring harus benar-benar transparan, akuntabel dan semata untuk kebaikan BUMN migas. Selain itu, tentu saja, tahapan akuisi harus tetap mengikuti aturan dan perundang-undangan, juga sesuai dengan good corporate governance. Wallahualam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI SYAFARUDIN: Korupsi di Lampung, Diberantas, Dibutuhkan dan Dipelihara?

SYAFARUDIN | Pengajar dan Peneliti Laboratorium Polotda FISIP Universitas Lampung KORUPSI kok kian merajalela? Demikian …