Surat Terbuka Andi Desfiandi untuk Presiden ILC Karni Ilyas


DR H ANDI DESFIANDI SE MA

  • Ketua Yayasan Alfian Husin, mantan Rektor IIB Darmajaya Lampung
  • Surat terbuka ini ditulis di Facebook pada Rabu, 18 Juli 2018

Assalamualaikum wr wb
Dengan hormat,

Saya adalah salah satu pemirsa yang pernah mengidolakan Bapak. Sebagai host acara ILC (Indonesia Lawyers Club), Bapak memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, juga cerdas dalam mengemas segala isu terkini di Tanah Air.

Sampai saat ini, Bapak sebenarnya tetap idola saya, tetapi sebatas dalam hal wawasan dan pengetahuan. Sebagai host ILC, tidak lagi.

Saya tidak akan bicara terlalu panjang lebar dan berupaya mempersingkat surat ini. Lewat surat ini saya berharap ke depan Bapak lebih bijak dan berhati-hati dalam mengundang narasumber di acara ILC.

Bukan saja dalam menampilkan narasumber yang berimbang antara pihak pro dan kontra, tapi juga berimbang dalam hal penguasaan ilmu, pengetahuan, wawasan, dan pengalaman.

Contoh adalah ILC Selasa malam, 17/7/2018, yang mengangkat isu “Divestasi Freeport, Untung atau Rugi?”. Acara itu sebaiknya menampilkan narasumber yang kompeten dalam membedah tema tersebut agar lebih mencerdaskan masyarakat. Bukan sebaliknya malah membodohi masyarakat akibat tidak tepat menampilkan narasumber yang sesuai dengan ilmu, pengetahuan, dan pengalamannya.

Kalau bicara untung dan rugi dalam konteks divestasi Freeport pasti tidak jauh dari aspek ekonomi dan keuangan, ditambah aspek sosial dan politik. Aspek lainnya, seperti hukum, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah proses divestasi.

Bagi yang paham soal aksi korporasi, tentu sangat mengerti tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam proses akuisisi saham. Apalagi kompleksitas yang harus dihadapi dalam divestasi saham Freeport, baik dari sisi hukum dan politik, juga sangat erat. Hal itu lah yang selama ini menjadi akar permasalahan kontrak karya yang diberikan pemerintah kepada Freeport.

Sudah sepatutnya ILC menampilkan para pakar dan narasumber yang sesuai dengan tema, baik dari pihak yang pro maupun kontra. Dengan begitu pembahasannya menjadi menarik dan berimbang, serta ilmiah dan jauh dari kesan “asal ngomong keras yang penting berbeda”. Juga bukan ajang debat warung kopi yang tanpa kompetensi, tapi malah lebih sarat provokasi.

Ada dua figur yang menurut saya semalam sangat tidak pantas untuk duduk sebagai narasumber yaitu Ali Mochtar Ngabalin dan Rocky Gerung. Untuk Ngabalin, saya agak sedikit memahami kenapa ditampilkan. Mungkin karena dianggap mewakili pemerintah mengingat dia merupakan juru bicara Presiden.

Tapi sangat disayangkan bahwa dia tidak memiliki kompetensi yang sesuai, dan juga kurang memahami substansi. Mungkin akibat belum mendapat informasi yang penuh dan detail.

Yang paling mengecewakan adalah Rocky Gerung. Dia sangat tidak sesuai dan sangat tidak kompeten untuk tema yang dibahas. Selain, mohon maaf, dosen pecatan dan hanya memiliki kualifikasi S1, serta tidak punya ilmu dan pengetahuan, apalagi pengalaman, Gerung justru disuruh bicara mengenai hal yang sama sekali dia tidak pahami.

Akibatnya, apa yang disampaikannya sama sekali tidak dipahami oleh masyarakat, termasuk saya. Jangan-jangan dia sendiri pun bingung dengan apa yang dia bicarakan. Gerung seolah sengaja ditampilkan oleh ILC untuk sekadar “asal bicara yang penting beda”.

Silakan saja ILC menampilkan narasumber yang seimbang antara pihak pro dan kontra. Akan tetapi mohon berhati-hati dalam pemilihannya. Ini supaya diskusi dengan topik apa pun menjadi hidup dan mencerdaskan karena disampaikan oleh narasumber yang benar-benar berkompeten.

Semoga Bapak Karni Ilyas membaca tulisan saya ini. Atau setidaknya ada yang menyampaikan kepada Bapak agar lain kali tidak lagi menampilkan narasumber yang “tong kosong nyaring bunyinya”.

Mohon maaf apabila ada kata yang tidak pantas. Ini hanyalah bentuk kepedulian terhadap ILC yang dulu sangat saya sukai dan nanti-nantikan penayangannya.

Wassalamualaikum wr wb.
Hormat saya,

Andi Desfiandi


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI SYAFARUDIN: Korupsi di Lampung, Diberantas, Dibutuhkan dan Dipelihara?

SYAFARUDIN | Pengajar dan Peneliti Laboratorium Polotda FISIP Universitas Lampung KORUPSI kok kian merajalela? Demikian …