Rahmat Ramdhani, Kiai Muda Bengkulu Raih Doktor di UIN Raden Intan Lampung


DR RAHMAT Ramdhani (kanan) bersama ketua tim penguji yang juga Rektor UIN Raden Intan Prof Dr Moh Mukri MAg | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Rahmat Ramdhani, ulama muda dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Kota Bengkulu, meraih gelar doktor dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten Lampung. Rahmat berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji di kampus PPS UIN Raden Inten, Bandar Lampung, Kamis, 12/7/2018.

Dalam rilis yang diterima duajurai.co disebutkan, Rahmat merupakan salah satu cucu KH Abubakar, muassis Ponpes Darussalam Bengkulu yang berdiri sejak 1975. Untuk meraih gelar doktor, dosen IAIN Bengkulu itu mengangkat disertasi berjudul Dai dan Pengembangan Masyarakat Islam (Study Dai Migran dalam Pemberdayaan Matra Agama, Pendidikan dan Ekonomi di Kota Bengkulu).

Tim penguji diketuai oleh Prof Dr H Moh Mukri MAg yang juga Rektor UIN Raden Intan. Sementara penguji 1-5 secara berurutan ialah Prof Dr H MA Achlami MA, Prof Dr H Moh Nasor MSi, Prof Dr H Rohimin MAg, Dr Hasan Mukmin MA, dan Prof Dr Idham Kholid MPd.

Rahmat selaku promovendus dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dengan gelar doktor bidang pengembangan Masyarakat Islam. Prof Nasor selaku promotor menyampaikan, gelar doktor yang diraih harus dapat dipertanggungjawabkan secara akademik di masyarakat.

“Ilmu yang ditimba selama ini tolong dikembangkan dan diamalkan dengan sebaik-baiknya,” pesan Nasor seusai pembacaan SK kelulusan.

Prof Mukri selaku ketua tim penguji menyampaikan hal senada. “Saya atas nama pribadi, tim penguji dan juga pemimpin UIN  memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Doktor Rahmat Ramdhani. Tentu doa kami selalu menyertai. Semoga ilmu yang didapat bisa bermanfaat dan memberikan sumbangsih bagi pendidikan, masyarakat, bangsa dan agama,” kata Mukri

Di depan para penguji Rahmat menyampaikan bahwa dai migran adalah istilah untuk orang yang memiliki ilmu agama dan mampu berdakwah serta berhijrah (ke Bengkulu) dengan berbagai alasan seperti bekerja, transmigrasi,  atau khusus untuk berdakwah.

Dai migran berupaya mencari celah dakwah yang berbeda dari dai yang lain. Hijrah pun dapat menjadi solusi dakwah.

Rahmat menjelaskan, dari penelitiannya, dai yang hijrah ke Bengkulu cukup efektif berdakwah. Mereka dapat diterima masyarakat Bengkulu yang plural.

“Ketika mereka (dai) migrasi ke Jawa dia cenderung kurang berkembang karena banyak ulama di sana. Tetapi saat di Bengkulu, mereka bisa lebih berkembang,” terang kiai muda ini.

“Dai harus mampu mengadvokasi masyarakat, pendampingan terhadap masyarakat yang tertindas, dan mencerahkan melalui pendidikan dan ilmu agama,” sambungnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Gelar Semarak Gamolan Lampung, Mahasiswa Unila Kenalkan Musik Tradisional ke Masyarakat

LAMPUNG TENGAH, duajurai.co – Mahasiswa Universitas Lampung melalui Program Pelatihan Gamolan Anak Daerah (Pola Ganda) …