Panas, Rapat Pembentukan Pansus Dugaan Pidana Pilkada Lampung Perang Argumen


RAPAT Pembentukan Pansus Dugaan Tindak Pidana Pilkada di DPRD Lampung berlangsung panas, Kamis, 5/7/2018. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Rapat Paripurna DPRD Provinsi Lampung dalam rangka pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Dugaan Tindak Pidana Pilkada berlangsung panas, Kamis, 5/7/2018. Perang argumen dan hujan interupsi mewarnai rapat tersebut.

Pantauan duajurai.co, para wakil rakyat, baik yang pro maupun kontra pembentukan pansus, berebut ingin berbicara. Sementara, Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal tampak kewalahan menanggapi satu per satu para anggota dewan yang mulai memanas.

Setelah hujan interupsi sekitar 20 menit, Dedi memutuskan untuk menskor rapat paripurna agar situasi kondusif. Namun, skorsing lima menit yang dilakukan Dedi justru memantik anggota dewan untuk semakin bersuara dan beberapa terlihat emosional.

Tony Eka Candra dari Fraksi Golkar, misalnya. Dia sampai maju ke depan mendekati Dedi sambil menyampaikan pendapatnya. Tak lama, beberapa anggota dewan lain yang berasal dari Fraksi PKB dan Golkar juga mendekat ke arah pimpinan DPRD.

Legislator asal PKB Noverisman Subing bahkan sampai mengambil palu sidang milik pimpinan dewan. Dia memukul meja sidang dengan palu dan tampak naik pitam.

Namun, Noverisman segera ditenangkan beberapa koleganya. Dia sempat berdialog dengan Dedi serta pimpinan dewan lainnya.

Sementara itu, terdengar keributan di kursi anggota DPRD Lampung. Sejumlah legislator menyampaikan argumennya dengan lantang.

Salah satunya Eva Dwiana dari Fraksi PDI Perjuangan. Istri Wali Kota Bandar Lampung Herman HN tersebut dengan lantang menyampaikan pendapatnya di depan rekan-rekan sesama anggota dewan.

“Jangan takut kalau tak salah. Maju terus, suarakan kebenaran!,” tegas Eva.

Namun demikian, sidang tetap diskors. Para pimpinan DPRD tampak masuk ke dalam ruang istirahat. Beberapa anggota dewan memilih tetap menunggu di tempatnya masing-masing.

Sebelumnya, massa dari tiga pasangan calon (paslon) gubernur-wakil gubernur Lampung berunjuk rasa di Kantor Bawaslu setempat. Dalam demo tersebut, massa meminta Bawaslu bersikap tegas, yakni membatalkan paslon Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim alias Nunik. Alasannya, pasangan tersebut diduga melakukan politik uang, sehingga menciderai demokrasi di Lampung.

Paslon Arinal-Nunik memenangkan Pilgub Lampung berdasar hitung cepat sejumlah lembaga survei, di antaranya Rakata Institute dan Cyrus Network. Versi Rakata, Arinal-Nunik mengantongi sebanyak 34,38% suara.

Sedangkan hasil hitung cepat Cyrus, paslon nomor urut tiga tersebut meraih suara sebanyak 38,6%. Arinal-Nunik bertarung dalam Pilgub Lampung dengan koalisi Golkar, PKB, dan PAN.(*)

Baca juga Rakor Tindak Pidana Pemilu, Eva Dwiana Marah di DPRD Lampung

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Riset, Mahasiswa UBL Tanya Sikap PKS Soal Pejabat Publik Korupsi

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sebanyak 10 mahasiswa FISIP Universitas Bandar Lampung (UBL) mewawancarai pengurus DPW …