OPINI IB ILHAM MALIK: Usai Pilkada, ke Mana dan Bagaimana Lampung Masa Depan?


IDA BAGUS ILHAM MALIK

  • Mahasiswa Doktoral Bidang Urban Planning di The University of Kitakyushu, Jepang, melalui Beasiswa Monbukagakusho MEXT 2015
  • Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung (UBL)

TAK LAMA lagi Lampung akan mendapatkan kejelasan tentang siapa yang akan menjadi gubernur di provinsi ini. Polemik politik memang lumrah terjadi, ap apun isunya. Hal itu memang bagian dari proses politik yang pasti akan dilakoni oleh semua praktisi politik dalam setiap ajang pemilihan kepala daerah (pilkada).

Poin penting saya terkait Pilkada Lampung adalah bagaimana kita melihat masa depan. Ada dua hal yang menggelitik saya. Pertama, tentang bagaimana caranya melakukan konsolidasi pembangunan antardaerah (kabupaten dan kota) yang memiliki keragaman dalam berbagai hal.

Terus terang saja, formulasi pembangunan yang selama ini sudah diuji coba tidak membuahkan hasil yang menggembirakan. Bahwa semua proses pembangunan membutuhkan waktu untuk melihat hasilnya, itu suatu pandangan yang benar. Tetapi, untuk konteks yang dihadapi oleh Lampung saat ini, posisinya tidak seperti itu.

Kasus yang terjadi adalah terjadinya pembiasan dalam program dan realitas pembangunan. Atau dalam bahasa lain, terjadi peristiwa kemelesetan program pembangunan antara apa yang diharapkan publik dengan apa yang diimajinasikan oleh pemerintah.

Saya mengusulkan agar ada konsolidasi program pembangunan berbasiskan kepada kebutuhan publik yang dihubungkan dengan tantangan masa depan (dalam berbagai aspek). Selain itu, penataan sistem antarprogram pembangunan agar terkoneksi secara jelas antara satu program dengan program lain.

Kedua, perlunya menempatkan konsepsi dalam setiap perancangan program pembangunan dengan menggunakan metode sederhana sarat makna yaitu “melihat ke dalam dan melihat ke luar”.

Dengan melihat ke dalam, kita akan berhadapan dengan kondisi kemiskinan, keterbatasan anggaran, keterbatasan SDM, keterbatasan waktu, dan banyaknya dinamika yang akan terjadi di dalam tubuh Provinsi Lampung.

Tetapi secara bersamaan, Lampung juga harus melihat ke luar tentang bagaimana beberapa provinsi tetangga mampu menggenjot pembangunan, atau tentang keberadaannya di Sumatera yang sudah dikoneksikan ke aktivitas dan program pembangunan nasional dan internasional (one belt one road and IMT GT). Kemudian, Lampung sebagai penghubung (dalam berbagasi jenis aktivitas ekonomi) Sumatera ke Pulau Jawa yang dihuni oleh 150 juta lebih penduduk, dan sebagainya.

Formulasi yang kuat dan detail menjadi sangat penting diperhatikan pada poin ini. Meskipun memang menjadi tidak mudah diterjemahkan karena keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Pada suatu waktu nanti jika memungkinkan akan saya sampaikan soal betapa pentingnya membangun logika persaingan pembangunan antardaerah, juga pentingnya konsolidasi pembangunan dengan daerah lain.

Sumatera Selatan dan Sumatera Utara misalanya, ternyata mampu keluar dari belenggu kedirian mereka. Yang dimaksud kedirian adalah hanya melihat masalah di dalam tubuh sendiri dan terjebak pada menyelesaikan masalah sendiri.

Kini, kedua daerah mampu menjadikan keterbatasan yang mereka miliki sebagai sebuah kekuatan, dan tantangan luar sebagai pemicu kecerdasan. Mereka mampu memanfaatkan semua keadaan agar daerahnya dapat cepat membangun dan terbangun.

Akselerasi pembangunan menjadi penting ketika kita melakukan kajian komparatif dengan pihak di luar Lampung. Saya paham, bahwa sebagian aparatur pemerintah daerah sudah sangat familiar dengan istilah keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Sayangnya, perlu ada perenungan tambahan soal ini. Pasalnya, ternyata ada kendala pada identifikasi program yang bercermin pada dua hal itu tadi (komparatif dan kompetitif).

Penyebabnya sederhana yaitu keengganan untuk berpikir di luar pakem yang sudah ada dan sudah dilakukan selama ini. Berpikir out of the box malah menjadi momok bagi banyak pihak.

Pertanyaan yang saya jadikan judul tulisan singkat ini tentang ke mana dan bagaimana masa depan Lampung, seharusnya menjadi pertanyaan yang selalu ada di dalam benak praktisi pembangunan, kaum cendikiawan, akademisi, para konsultan, dan tentu saja kalangan birokrat dan kepala daerah.

Jika pendekatan program pembangunan daerah adalah pendekatan yang meninabobokan seperti yang dilakukan oleh para kepala daerah selama ini, hasilnya sudah sangat jelas kita rasakan sekarang: keterbelakangan Lampung sebagai sebuah daerah dan sebuah kumpulan manusia.

Tentu saja, ke depan, model program semacam ini harus dapat dikurangi, jika memang tidak bisa ditinggalkan sama sekali.

Dalam sebuah tulisan yang pendek ini, saya tidak bisa menguraikan gagasan besar dalam menjawab pertanyaan itu dalam versi saya. Akan tetapi, saya sajikan pendekatan metode untuk mendapatkan jawabannya. Dengan demikian siapa pun yang melakukan dua hal yang saya sampaikan tadi, dapat menemukan jawaban kritisnya.

Harapannya, Lampung tidak lagi terbelenggu oleh keterbelakangan (dalam semua hal) dan kemiskinan, dan bahkan dapat menjadi daerah yang supermenarik di Pulau Sumatera, bahkan Indonesia. Lampung harus sadar bahwa ia adalah bagian dari Indonesia dan dunia. Kesadaran akan ruang dan waktu, saat ini, sudah semakin langka.(*)

 


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Politik (Masih) Biaya Tinggi dan Mimpi Pemilukada Berkualitas

DR H ANDI DESFIANDI SE MA | Ketua DPD Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian …