DIARY BUNDA FITRI: Membanding-bandingkan Anak


FITRI RESTIANA | Penulis, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

DISADARI atau tidak, banyak orangtua sering membandingkan perilaku anak-anak-anaknya. Biasanya, sang kakak dijadikan tolak ukur kebenaran dan kebaikan.

Misal, “Nilai matematika Kakak bagus banget, deh. Adek seharusnya gitu juga.” Atau, “Abang bisa membaca pas di TK, masa Adek sudah kelas satu masih mengeja?”

Malah ada juga orangtua membandingkan anak dengan dirinya saat masih seusia si anak. Si orangtua yang penurut, nilai akademik bagus, rajin, agak bandel tapi pintar. Intinya mah, dulu dia anak yang baik-baik saja.

Memang ada yang beralasan bahwa itu adalah untuk memicu semangat anak, supaya mereka terdorong untuk melakukan sesuatu yang  lebih baik lagi daripada sebelumnya. Tapi tahukah Ayah dan Bunda, bahwa ternyata hal itu malah membuat mereka merasa tak dipahami dan dihargai sebagai satu individu yang utuh.

Percayalah, dibanding-bandingkan itu nggak enak banget. Apalagi ditambah bully verbal yang dampaknya bisa terekam dalam memori anak hingga mereka dewasa.

Saya pribadi sepertinya belum punya pengalaman dibanding-bandingkan oleh ibu (ayah meninggal ketika saya berusia usia 3 tahun).  Mungkin waktu itu ‘bisa’ saja ibu membandingkan saya dengan kakak perempuan satu-satunya. Akan tetapi beliau sangat tahu kedua anak gadisnya memiliki banyak perbedaan, baik sifat, perangai, hobi, gaya bahkan selera makan.

Saya tak pernah mendengar ibu bilang, “Yang naik gunung itu anak lelaki saja, perempuan nggak boleh.” Atau, “Coba belajar lebih tekun biar bisa masuk kelas IPA seperti Uni,”  dan sejenisnya (walau pada akhirnya saya memang   masuk kelas IPA).

Kata ibu, tak ada orang yang benar-benar punya kemampuan yang sama di dunia ini, bahkan yang kembar sekalipun. Artinya, setiap orang punya ciri sendiri, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Ilmu sederhana yang kadang sering diabaikan. Saya pun pernah mengalaminya.

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu, N2 (anak kedua, kelas 2 SD) dinyatakan lulus sertifikasi Alquran juz 30. Terharu  dan bersyukur itu pasti. Kami memberinya pujian, tepukan pundak, dan ucapan terima kasih atas niat baiknya menghafal Alquran. Masya Allah.

Alhamdulillah,  Adek keren, deh. Terus dijaga hafalannya, ya. Jangan kayak Mamas yang makin lama makin lupa. Nah, Mas, makanya tekun murojaah seperti Adek,” ujar saya sambil mengerling ke arah N1.

“Masih inget kok, Nda,” jawabnya agak melengos.

Di lain kesempatan saat santai. “Coba Adek baca hafalannya trus Mamas yang nerusin,” tantang saya agak jahil.

“Ayo, Mas. Jangan-jangan bener kata Bunda, Mamas banyak yang lupa,” lanjut N2 dengan gaya mirip saya saat menggoda kakaknya.

Tahu apa reaksi N1?

Dia mengernyitkan alis dan berdiri meninggalkan kami. “Bunda kenapa sih banding-bandingin aku sama Adek? Pake acara ngetes lagi?” sahutnya mendengus kesal. Tatapannya penuh kecewa dan tak suka.

Saya langsung terdiam, istigfar dalam hati. Jelas ini adalah kesalahan yang sangat fatal.

Setelah tenang, kami ngobrol bareng lagi lalu saya meminta maaf. Bersyukur si bujang bukan cowok baperan, jadi dia oke-in sambil bilang begini, ”Makanya, Nda. Jangan banding-bandingin, geh.”

“Maksud Bunda sebenernya mau nyemangatin Mamas. Maaf, ya. Eh tapi bener, murojaah-nya kudu diterusin. Nanti, Quran itu yang akan menjadi saksi kita di akhirat.”

N1 mengangguk-angguk.

Well, ini jadi pembelajaran buat para orangtua, khususnya saya. Membanding-bandingkan akan membuat anak merasa rendah diri, sementara sang pembanding menjadi tinggi hati.

Jika ingin menyemangati, lakukan dengan sepenuh cinta. Pahami karakter anak, sentuh hatinya. Ikhlas. Fokus.  Beri contoh orang-orang yang berhasil karena ketekunan dan kesungguhan.

Ah, Nak, jelas ilmu kami masih seujung kuku. Sudilah memebersamai sampai akhir waktu.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung KENAIKAN …