PUASA SANG DUAFA: Kisah Subarso, Tunanetra Pedagang Keripik yang Kerap Ditipu Pembeli


Subarso, Tunanetra pedagang keripik singkon dan kelanting di Bandar Lampung | Dwi Herlinawati /duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Suasana Jalan Griya Fantasi, Wah Halim, Bandar Lampung, tampak sepi pada Jumat siang,  8/6/2018. Di salah satu sudut jalan, seorang pria paruh baya sedang duduk tertunduk. Di sebelahnya ada dua toples besar bersisi keripik singkong dan kelanting.

Pria bernama Subarso (50) itu, tampak memegang tongkat di tangan kirinya. Ia juga memakai topi dengan tulisan “beli dong”. Ketika ada seorang pembeli yang datang mendekat, ia tak melihat wajah pembeli dan tetap tertunduk.

Tangan Subarso meraba ke toples dan mengambil beberapa bungkus barang dagangannya, sesuai permintaan si pembeli. Ia lalu menerima uang dengan terlebih dahulu menanyakan besaran uang tersebut.

Subarso telah memisahkan uang sesuai besaran pecahan di saku baju dan celananya. Jika ia menerima uang pecahan Rp 10 ribu, ia akan menaruh di saku celana sebelah kanan. Begitupun ketika ia hendak mengambil uang untuk kembalian, ia sudah tahu harus mengambil pecahan ribuan di saku yang mana.

“Saya memang tak bisa melihat sejak lahir,” kata Subarso saat disambangi duajurai.co Jumat siang.

“Saya jual keripik singkong dan kelanting dengan harga per bungkusnya Rp5 ribu. Keripiknya beli dari orang, terus saya jual lagi,” sambungnya.

Saban hari, Subarso berjualan mulai pagi hingga siang hari di kawasan perumahan BTN, Way Halim. Sedangkan, sore harinya ia berjualan di dekat rumahnya, di Jalan Antasari. Walau melelahkan, Subarso tetap bersemangat untuk menjajakan dagangannya.

Tak jarang, ia ditipu oleh pembeli karena kondisi matanya yang tidak bisa melihat itu.”Misalnya ada yang beli 4 keripik, terus ngakunya ngasih duit Rp50 ribu, jadi saya beri uang kembalian Rp 30 ribu. Eh, ternyata duitnya hanya Rp 10 ribu. Tapi saya ikhlaskan saja, karena itu memang resiko saya,” ujarnya.

Menurut Subarso, dulu ia masih bisa melihat sedikit seperti bayangan, namun di tahun 2005 kondisi matanya sudah total tidak bisa melihat, dan sekarang ia hanya bisa merasakan terang jika siang.

“Walaupun kondisi saya cacat, tapi saya harus tetap kerja. Saya juga harus tetap jalankan kewajiban sebagai umat muslim, yaitu berpuasa,” imbuh ayah dua anak itu.(*)

Laporan Dwi Herlinawati


Komentar

Komentar

Check Also

PUASA SANG DUAFA: Perjuangan Safar, Kakek 86 Tahun Penarik Becak

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Panas terik tak menyurutkan semangat Safar (86) mencari rezeki, kemarin. Sambil …