OASE RAMADAN RODI NIKMAT: Taklukkan Sifat Jahat dengan Berpuasa


 

USTAZ RODI NIKMAT SSosI MKomI | Wakil Katib Syuriah PC Nahdlatul Ulama Bandar Lampung

ALLAH SWT menciptakan manusia tiada lain untuk beribadah kepada-Nya. Hal ini sebagaimana tertuang di dalam kitab suci Al Quran surat Al Zariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Perintah Allah SWT untuk beribadah bertujuan menjadikan manusia sebagai makhluk mulia bukan menjadi makhluk yang merusak dan berbuat kejahatan. Kecenderungan manusia berbuat jahat disebabkan menuruti hawa nafsu amarah dan sifat–sifat syaitoniah, sehingga muncullah kerusakan-kerusakan.

Maraknya kejahatan pembunuhan, perampokan, pemahaman radikalisme dan terorisme, disebabkan manusia menuruti sifat nafsu amarah dan hawa nafsu syaitoniah.

Ketika manusia berubah menjadi makhluk yang jahat, maka akal sehat dan keimanannya rusak karena lebih mengedepankan nafsu amarah. Allah SWT tidak menginginkan manusia untuk menjadi hamba yang jahat.

Allah SWT bahlan membenci dan melaknat manusia yang merusak dan berlaku zalim di muka bumi ini. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata, ‘Orang-orang ini lah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.’ Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (QS Hud ayat 18)

Maraknya tindakan kejahatan di negeri kita saat ini, terutama aksi-aksi terorisme dengan cara bom bunuh diri merupakan perbuatan keji dan kejam. Para pelakunya tergolong dalam kategori manusia zalim yang berlaku di muka bumi ini.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Asy Syura ayat 42:

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

”Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”

Seyogianya manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT diliputi sifat-sifat luhur dan nilai akhlakul karimah. Sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk membentengi dan membekali manusia agar berlaku baik dan bijak.

Sebagaimana nasehat orang salih terdahulu yaitu Syekh Abdul Qodir, “Jangan gemukkan nafsumu.” Nnasehat tersebut menunjukkan orang-orang salih terdahulu mengekang dan melawan sifat jahat dengan memperbanyak perbuatan-perbuatan amaliah yang sesuai dengan tuntunan Al Quran, hadis, dan ajaran para ulama. Di antaranya melalui riyadhoh batiniah dengan jalan melakukan saum (puasa).

Hakikat puasa, ialah menahan nafsu dari setiap perbuatan dan ucapan yang dilarang oleh Allah, baik yang diharamkan maupun yang dimakruhkan. Sumber kejelekan manusia ialah dari perebutan kekayaan dengan perkelahian atau peperangan.

Rasulallah SAW bersabda:

رَأْسُ الْخَطِيْءَةِ فى الْمَطْعُو مَا تِ

“Sumber kejelekan dari soal makanan (baik kejelekan karena penyakit atau perebutan kekayaan dengan perkelahian atau peperangan).”

Dengan demikian, puasa Ramadan yang dilakukan oleh umat Nabi Muhammad SAW, mukiminin dan mukminat, mampu membentengi dan mencegah dari sifat-sifat jahat. Hal itu dilakukan dengan mengekang hawa nafsu amarah dan nafsu syaitoniah.

Dari situ terciptalah manusia/hamba Allah yang melahirkan nilai-nilai luhur. Dari nilai-nilai luhur itu lah umat Islam mampu berperan aktif dalam mewujudkan keselarasan, keseimbangan, dan toleransi.

Dari nilai batiniah yang luhur terciptalah manusia yang mampu menyebarkan kasih sayang dan kenyamanan, baik terhadap sesama muslim maupun nonmuslim di Tanah Air. Dengan itu terwujudlah negara Indonesia yang aman, tentram, dan damai.(*)


Komentar

Komentar