OASE RAMADAN IRMANSYAH: Puasa dan Yang Merusaknya


IRMANSYAH SAg | Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Syuriah PC Nahdlatul Ulama Bandar Lampung

Telah sering dinyatakan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Hal ini sudah diketahui oleh banyak orang. Lantas, jika bukan semata menahan lapar dan haus, maka apa yang dimaksud selain dari keduanya?

Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Puasa itu perisai terhadap api neraka, seperti perisai seseorang dari kamu dalam pertempuran!”

Puasa itu mencegah. Puasa itu tameng. Puasa dapat menghindarkan dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan, tingkah laku, ucapan-ucapan, yang bisa menjerumuskan seseorang ke api neraka.

Puasa itu meredam. Meredam gencarnya hawa nafsu yang menyerang seseorang. Hawa nafsu yang mengalir lewat ucapan-ucapan yang tidak berfaedah, tidak bermanfaat, tidak menyenangkan, menyakiti pihak lain.

Hawa nafsu lewat ujaran-ujaran kebencian, tuduhan-tuduhan dan prasangka-prasangka buruk, penebaran fitnah-fitnah, dan hasutan-hasutan kebohongan. Yang pada akhirnya mengantarkan kepada perilaku-perilaku tercela. Tidak terpuji. Mengandung dosa.

Pada sisi lain, diketahui bahwa orang yang berpuasa nafasnya adalah tasbih, ucapannya adalah sedekah. Tidurnya saja ibadah.

Diamnya saja tasbih. Amal baiknya dilipatgandakan. Doanya mustajab. Dosa-dosanya diampuni. Maka untuk apa berbicara, berujar, mengutarakan sesuatu yang sia-sia, mengandung dosa.

Indahnya Ramadan, seindah seseorang berusaha mengubah perilaku buruknya. Menjadi pribadi mulia, selama ia berpuasa. Jauh dari kotornya lisan lewat fitnah, ujaran kebencian, tuduhan dan prasangka keji kepada sesamanya.

Seorang muslim tentu tidak ingin rusak puasanya. Bagaimana agar puasanya tidak rusak? Baiknya simak sabda Rasulullah SAW, “Puasa adalah perisai dari api neraka selama tidak dirusak!”

Ada yang berkata, “Apakah yang merusaknya?”

Nabi SAW menjawab, “Berdusta atau melakukan ghibah!”(*)

Rubrik ini kerjasama duajurai.co dan PCNU Kota Bandar Lampung


Komentar

Komentar