OASE RAMADAN RODI NIKMAT: Puasa dan Dampak Kesehatan


USTAZ RODI NIKMAT SSosI MKomI | Wakil Katib Syuriah PC Nahdlatul Ulama Bandar Lampung

PUASA Ramadan adalah anugerah dari Allah SWT kepada hamba-hambanya yang beriman. Puasa merupakan anugerah karunia yang menghasilkan nilai-nilai kebaikan berlimpah bagi yang menjalaninya.

Puasa diwajibkan oleh Allah SWT pada bulan Ramahan dan diwasiatkan Nabi Muhammad SAW kepada kaum muslimin. Puasa merupakan benteng atau perisai kekuatan dan kesehatan lahiriah dan batiniah sebagaimana Rasulallah SAW bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

 “Puasa adalah perisai.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selain ibadah, tidak diragukan lagi bahwa puasa pada bulan Ramadan mengandung banyak manfaat. Salah satunya, secara ilmiah mampu meningkatkan efek positif psikis dan mental spiritual.

Efek-efek positif puasa yakni meningkatkan sel dan jaringan kinerja otak yang mampu meningkatkan kualitas kerja dan fungsi otak. Hal ini didukung oleh riset dr Ahmad Qodi dari Institut Pendidikan dan Penelitian Pengobatan Islami, Panama City Florida Amerika Serikat.

Dengan demikian, puasa membentuk gugus-gugus baru untuk sel-sel yang merenovasi struktur dan meningkatkan kinerja fungsional otak. Karenanya, puasa menghasilkan kesehatan, pertumbuhan, dan kenyamanan bagi tubuh.

Dr Mack Fadon, seorang pakar pengobatan internasional yang memiliki perhatian pada penelitian tentang puasa dan pengaruhnya, mengatakan, setiap orang perlu berpuasa, sekalipun ia tidak sakit. Sebabnya, racun-racun makanan dan obat-obatan bekumpul di dalam tubuh sehingga memberatkan dan menjadikannya seperti orang sakit sehingga badan menjadi kurang fit.

Jika seseorang berpuasa, maka ia terbebas dari beban-beban racun-racun tersebut. Ia merasa lebih fit dan kuat yang mungkin tidak dirasakannya sebelumnya.

Kaum muslimin telah menggunakan puasa sebagai salah satu sarana pengobatan. Demikian halnya orang-orang nonmuslim.

Puasa ala Islam merupakan satu-satunya sistem gizi yang paling ideal untuk mereparasi kemampuan fungsional hati. Puasa memberikan tubuh zat asam lemak dan asam amino dasar dalam rentang waktu antara buka puasa dan makan sahur. Karenanya, terbentuklah gugus-gugus protein, lemak fosfat, kolesterol, dan zat-zat lain.

Allah SWT memerintahkan umat Islam berpuasa jelas karena puasa memiliki dampak yang baik, salah satunya dalam aspek kesehatan. Selain kesehatan juga masih terdapat aspek- aspek positif lainnya dalam berpuasa yakni meningkatkan iman dan takwa.

Al Quran menejelaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah 183)

Allah SWT menyukai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Dalam hadisnya Rasulallah SAW bersabda:

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.(*)

Rubrik ini kerjasama duajurai.co dan PCNU Kota Bandar Lampung


Komentar

Komentar