OASE RAMADAN A SUKANDI: Ramadan, Kegembiraan, dan Bebas Siksa Neraka


USTAZ AHMAD SUKANDI | Wakil Rais Syuriah PC Nahdlatul Ulama Bandar Lampung

MENJELANG bulan Ramadan umumnya muslim merasa riang gembira. Bahkan kedatangan Ramadan sangat dinanti.

Tidak hanya karena bulan suci ini merupakan bulan yang dimuliakan dan banyak keberkahan yang bisa didapat, tetapi juga karena terdapat anjuran untuk senang dan bahagia dengan datangnya bulan Ramadan.

Hal ini sebagaimana hadis yang kerap dikutip oleh banyak dai atau penceramah:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Artinya, “Barang siapa yang bahagia dengan datangnya bulan Ramadan maka Allah mengaharamkan jasadnya masuk ke dalam api neraka.”

Hadis dengan teks ini tercantum dalam kitab Durrah al-Nasihin tentang Keutamaan Ramadan karya Usman al-Khubbani. Ini sebuah kitab yang berisi petuah-petuah untuk beribadah, namun dituding oleh banyak orang, terutama ahli hadirs, sebagai kitab yang berisi banyak hadis palsu dan kisah-kisah imajinatif.

Lewat kitab ini pula tampaknya hadis di atas itu beredar di masyarakat. Sebabnya, kitab Durrah al-Nasihin banyak diajarkan di pesantren-pesantren dan majelis-majelis taklim.

Menurut peneliti hadis seperti Dr Ahmad Luthfi dan Prof Dr KH Ali Mustofa Ya’kub, hadis tersebut tidak dijumpai dalam kitab-kitab hadis yang mu’tabar (diakui). Bahkan dalam kitab-kitab hadis peringkat rendah sekalipun.

Para ulama hadis menilainya dengan mengatakan la ashla lahu. Menurut Ibnu Taimiyah seperti dikutip Al-Qasimi, terminologi hadza al-hadist laila lahu ashl atau la ashla lahu artinya suatu hadis tidak mempunyai sanad.

Apabila para imam ahli hadis memvonis suatu hadis dengan pernyataan la ashla lahu dan tidak ada ulama yang membantahnya, maka sudah cukup mengindikasikan kepalsuan suatu hadis. Dengan demikian hadis tentang berbahagia dengan datangnya bulan Ramadan tidak dapat dijadikan pegangan.

Dari aspek sanad, hadis ini tidak memiliki asal usul periwayatan.  Dari segi muatan atau substansinya, hadis tersebut tampaknya juga bermasalah. Bayangkan, betapa mudahnya sesorang terbebas dari api neraka, diharamkan jasadnya masuk neraka, hanya dengan bergembira dengan masuknya bulan Ramadan.

Padahal kalau semata soal bahagia, kita dapat melihat betapa banyak orang yang bahagia dengan masuknya bulan Ramadan. Sebut saja misalnya para pedagang gorengan, pedagang es buah, pedagang pakaian, sarung, dan busana muslim.

Mereka selalu bahagia atas datangnya Ramadan karena dagangan mereka akan laris terjual. Sungguh tidak masuk akal apabila para pedagang itu langsung terbebas dari siksa api neraka, hanya karena berbahagia dengan datangnya Ramadan.

Dalam hadis yang lain, Nabi menganjurkan kita selama Ramadan untuk melaksanakan banyak ibadah seperti membaca Al Quran, berzikir, qiyamul lail, bersedekah, salat tarawih, dan lain-lain. Pasalnya, Allah SWT akan melipatgandakan setiap amal ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan.

Dan bukan malah sebaliknya, bulan Ramadan diisi dengan hal-hal yang mubah, seperti tidur, ngababurit, dan hal lain yang tidak mengandung nilai ibadah kepada Allah SWT.(*)

Rubrik ini kerjasama duajurai.co dan PCNU Kota Bandar Lampung


Komentar

Komentar