DIARY BUNDA FITRI: Bijak Mengantre di ATM Center


FITRI RESTIANA | Penulis, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

SUATU siang saya ke ATM center. Ada empat ATM dari bank yang berbeda di dalam ruangan kaca ber-AC tersebut. Semuanya terisi.

Lima orang mengantre di luar, termasuk saya yang berada di urutan ketiga. Sesekali mata melirik ke ATM bank X tempat saya hendak mengambil uang dan mengecek saldo.

Setelah bapak di ATM bank Y selesai, ibu di antrean terdepan bergegas masuk diiringi orang kedua, seorang perempuan muda.

“Oo, rupanya mereka berteman,” begitu pikir saya.

Tapi ternyata salah. Keduanya ‘bukan siapa-siapa’. Tak lama si ibu keluar dengan raut wajah suram sambil melirik ke perempuan muda yang tadi mengikutinya.

Jadi, si mbak rupanya hanya pindah mengantre di dalam ATM center, tepat di belakang si ibu. Duh, terbayang betapa tak nyamannya ibu itu. Pantas saja tadi dia terdengar bergumam dan mendengus kesal.

Dua ATM sudah kosong, saya masuk. Laki-laki muda usia 20-an mengikuti. “Pasti ke ATM sebelah,” prediksi dalam hati.

Ketika akan memasukkan kartu, baru sadar si anak muda berdiri tepat di belakang saya. Rupanya dia ingin menarik uang di ATM X juga. Kejadiannya persis dengan dua perempuan tadi.

Kondisi ini tak bisa dibiarkan. Saya langsung membalikkan badan lalu menyunggingkan senyum disertai tatapan tajam. Silakan dibayangkan bagaimana rupa saya.

“Maaf, Mas, mau ambil uang di ATM X juga?”

“Iya, Mbak.”

“Bisa tolong antre di luar seperti yang biasa dan seharusnya!” Saya mengatakannya dengan nada penuh penekanan.

Si anak muda semula mengernyitkan alis. Sejurus kemudian dia menganggukkan kepala dan tersenyum. “Oh, iya. Maaf, Mbak.”

Saya berterima kasih kepadanya. Tidak ada orang di belakang memberi rasa cukup nyaman menarik uang, walaupun agak meringis ketika melihat saldo akhir. Eh, tapi saya mah yakin, insya Allah nanti akan bertambah. Hehehe.

Di kesempatan yang berbeda, seorang bapak yang baru turun dari mobil sambil berbicara via HP nyelonong begitu saja ke ATM center. Mengabaikan kami, beberapa orang yang khusyuk antre di luar, dia langsung ambil posisi berdiri di belakang orang yang sedang transaksi di ATM.

Maunya sih saya samperin, tapi tante yang di depan menahan.

“Sudahlah, Mbak. Biasanya ngomong sama orang seperti itu malah nanti dia yang marah-marah. Gayanya serasa dia yang punya ATM,” ujarnya menahan geram.

Ketika bapak tersebut keluar, kami berpapasan. Saya sengaja mengernyitkan alis sambil memandangnya tajam, tak lepas hingga dia masuk ke mobilnya. Kelihatan dia salah tingkah meski berusaha tetap cuek.

Sungguh menggemaskam. Orang-orang seperti itu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu alias tidak peduli, ya? Kira-kira, ‘urat empatinya’ masih berfungsi dengan baik atau tidak?

*****

Ada dua hal penting soal etika mengantre khususnya di ATM center.

Pertama, tentang menjaga privacy. Bagaimana perasaan kita saat menarik uang sementara ada orang lain yang ‘seolah’ mengamati atau memperhatikan.

Pastilah kita merasa tidak nyaman dan aman. Maka, membiasakan memberi ruang privacy yang cukup bagi orang lain adalah sebentuk etika yang wajib dipelihara.

Jangan pernah berdiri terlalu dekat dengan orang yang sedang bertransaksi apalagi memperhatikan. Itu merupakan tindakan yang tak santun dan sangat menyebalkan.

Kedua, antre itu artinya berderet menunggu giliran. Jadi, nikmati saja prosesnya. Sambil menunggu kita bisa membaca, mendengar musik atau murotal, ngobrol, atau memperhatikan sekitar lalu menuliskannya walaupun baru sebatas ide.

Kalau saya sih, alternatif terakhir menjadi pilihan bijaksana. Bukankah ide itu bisa datang dari mana saja? Maka mengolaborasikan apa yang kita lihat, dengar dan rasa adalah kebutuhan utama dalam memadatkan sebuah tulisan.

Intinya, kembalikan semua pada kita. Jika kita ingin merasa aman dan nyaman, maka berusahalah memberi rasa itu kepada orang lain.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Jungkir Balik Perencanaan Pembangunan, Perebutan Kekuasaan dan Keadilan

UNTUK para urban planner dan regional planner BANYAK yang mengatakan bahwa pekerjaan urban planning itu …